Sentilan IAD

Perkara Upah Tak Sesederhana Itu

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 07 Des 2021 16:15 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Selain kabar beruntun tentang kekerasan seksual baru-baru ini, dilanjutkan persiapan debat ucapan Selamat Natal, akhir tahun jadi momen rutin perbincangan tentang upah minimum buruh. Dan ketika sedang sedih-sedihnya membaca kisah Novia Widyasari yang mengakhiri hidup di atas pusara ayahandanya, mata saya menyambar satu unggahan ramai di Instagram.

"Buruh digaji 4 juta per bulan, 20 hari kerja. Tiap hari dia produksi barang yang modalnya 100 ribu, dijual 300 ribu. Berarti dia ngasih laba ke pabrik 200 ribu per hari atau 40 juta selama 20 hari kerja. Bisa ngasih laba 40 juta ke pabrik, tapi digaji 4 juta (1:10). Kira-kira ini perbudakan apa enggak?"

Saya tertegun membaca kalimat-kalimat itu. Sesaat saya ingin marah, berontak, dengan segenap gelegak perlawanan di dada saya. Anak muda yang keren memang harus sering marah, bukan? Marah kepada keadaan, marah kepada nasib, marah kepada kekuasaan, marah kepada situasi struktural yang amburadul dan menciptakan segala ketidakpastian masa depan.

Tetapi, tanpa menunggu lama, saya segera sadar bahwa sebenarnya saya tidak terlalu muda lagi. Maka, alih-alih melanjutkan amarah, saya malah jadi teringat pengalaman saya bertahun-tahun sebagai buruh, sekaligus pengalaman bertahun-tahun pula sebagai juragan kecil-kecilan.

Saya pernah menjadi buruh. Penghasilan saya waktu itu satu setrip saja di atas upah minimum. Meski kerah saya agak putih, tidak biru-biru amat karena saya tidak memegang bor atau mesin giling melainkan komputer, toh tak perlu dimungkiri bahwa saya ini buruh juga. Beda dengan mereka yang cuma gara-gara tangannya tidak kotor lalu lebih suka disebut karyawan atau pegawai, sambil lupa bahwa hakikatnya mereka pun buruh hehe.

Nah, setelah sekian tahun menjadi buruh, selanjutnya saya membangun bisnis kecil-kecilan saya sendiri. Meski kelasnya masih gurem, toh saya melibatkan para buruh pula sambil tertatih-tatih membangun usaha.

Dari pengalaman yang tak seberapa itu, saya sudah bisa melihat bahwa ada masalah pada unggahan viral di atas itu. Angka-angka tersebut memang tampak logis. Seorang buruh bekerja, merakit suatu produk. Modal produk itu dalam bentuk barang setengah jadi adalah 100 ribu. Setelah dirakit atau dijahit atau dibentuk-bentuk oleh si buruh, barang itu siap edar, dan dipajanglah ia di gerai sebuah mal. Banderol harganya 300 ribu. Maka, jelas banget, ada 200 ribu yang jadi keuntungan majikannya, dan artinya si buruh menyumbang laba 40 juta per bulan. Tapi, kenapa gaji bulanan yang dia dapatkan cuma 4 juta?

Kalkulasi seperti itu amat menggoda kita untuk berpikir tentang penindasan dan penghisapan berlebihan. Terbayanglah rumus surplus value alias Teori Nilai Lebih-nya Karl Marx, ketika majikan yang rakus mengambil keuntungan limpah ruah dari keringat para buruh mereka.

Pada satu sisi, cara pandang ala surplus value itu tentu saja benar, dan saya pun setuju. Laba dibentuk dari selisih antara produktivitas buruh dan upah yang diberikan kepada mereka. Repotnya, hanya bersandar pada perhitungan faktor buruh saja membuat kita lupa bahwa yang diurus oleh dunia usaha tidak semata-mata elemen buruh.

Gampangnya, untuk mengubah satu bahan baku menjadi barang jadi, bukan cuma tenaga buruh yang dimainkan. Di situ ada bangunan tempat kerja, gudang, mesin-mesin sebagai alat bantu, biaya transportasi untuk distribusi, profit sharing untuk gerai yang memajang produk. Belum lagi hal-hal yang tak tampak di depan layar, seperti proses perizinan hingga pungli, entah pungli dari "petugas" atau dari ormas setempat. Semua itulah yang membentuk konfigurasi hitungan modal.

Dulu, usaha saya penerbitan buku. Pada awal memulai semuanya, kerakusan saya sebagai calon majikan membuat saya berhitung. Wah, dengan ongkos produksi 10 ribu, sebuah buku bisa dijual dengan harga 50 ribu. Terbayang segera keuntungan 40 ribu. Hingga kemudian ketika buku saya selesai cetak, siap edar, saya titipkan ke distributor, saya tahu bahwa dari harga 50 ribu itu distributor minta 50 persen. Bagian sebesar itu untuk operasional pengiriman, gaji karyawan mereka sendiri, dan untuk profit toko buku juga.

Jadilah saya cuma dapat 25 ribu, masih dikurangi ongkos produksi 10 ribu. Sisa 15 ribu tentu tidak buruk, apalagi dikalikan 3000 eksemplar yang saya pasarkan. Selesai? Belum.

Banyak orang langsung membayangkan bahwa orang jualan pasti laku. Padahal salah satu yang jadi tantangan seorang pedagang adalah kemampuan menghadapi risiko. Alkisah, atas kehendak Tuhan ditambah kebodohan saya, waktu itu buku terbitan saya tidak laku. Dari 3000 eksemplar, lebih dari separuhnya diretur. Artinya, ada 10 ribu dikali paling tidak 1500 eksemplar yang hangus. Siapa yang menanggung modal yang hilang itu? Tentu saja saya sendiri, bukan buruh cetak atau tukang lipat kertas.

Belakangan, setelah penerbit gurem saya menerbitkan lebih kurang 50 judul buku, saya tak sanggup lagi berdiri. Risikonya terlalu berat. Risiko inilah yang jarang dihitung, sebab selalu yang dibayangkan "orang luar" hanyalah untung dan untung dan untung. Begitu masuk ke dunia itu, semua jadi tahu bahwa segalanya tidak semudah itu, tidak segampang menghisap tenaga buruh lalu foya-foya dan urusan selesai.

Sialnya, hukum amplifikasi informasi berkata bahwa keviralan sangat efektif untuk menciptakan kebenarannya sendiri, apalagi di situ ada sesuatu yang membangkitkan emosi. Itulah kenapa hitung-hitungan simplistis semacam unggahan viral itu efektif untuk membentuk imajinasi publik.

Sekilas saya tampak membela kaum majikan, menjadi anjing penjaga pengusaha, dan itu berbahaya untuk pencitraan saya. Tapi lagi-lagi urusannya tidak sesederhana itu. Tidak semua majikan itu konglomerat. Ada banyak orang yang terseok-seok membangun usaha, ada banyak yang levelnya gurem-gureman saja seperti saya, dan yang gurem-gurem itu acapkali juga diposisikan sama dengan hitung-hitungan ala unggahan viral itu tadi. Akibatnya, banyak orang tidak berani melanjutkan usaha, tidak berani membuka lapangan kerja.

Banyak di antara pengusaha gagal itu yang kemudian memilih banting nasib menjadi karyawan saja, meninggalkan risiko usaha dan memilih gajian apa adanya. Dan ada juga yang memilih menjadi penulis, sambil melupakan bayangan akumulasi keuntungan yang berjibun tumpah ruah lalu mengisi hidupnya dengan foya-foya hahaha.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)