Obituarium

Bens Leo dan Akhir Jurnalis Musik

Aris Setiawan - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 14:39 WIB
Bens Leo
Bens Leo (Foto: Instagram @bensleo52
Jakarta -

Bens Leo pernah hidup dalam sebuah masa ketika ekosistem musik di Indonesia tumbuh dinamis. Perdebatan karya, gosip, omongan pepesan kosong musisi, gaya hidup nyeleneh, serta fashion menjadi informasi yang cukup menarik bagi pembaca, umumnya generasi muda.

Pada dekade 70-80an, berita tentang musik ibarat candu, ditunggu bahkan diburu. Aktuil menjadi majalah mempelopori pemberitaan tentang musik, didirikan oleh Denny Sabri pada 1967. Aktuil dianggap sebagai majalah propaganda yang mampu membalikkan logika berfikir generasi muda, dengan menggandrungi secara total budaya musik dari barat. Musik-musik pop-rock dirayakan, tidak saja dalam kaset-kaset yang dijual bebas (terutama setelah Orde Lama runtuh), namun juga lewat kata-kata yang seringkali memantik kontroversi. Aktuil memang majalah musik, namun mampu membahasakan bunyi selayaknya makan kacang goreng, renyah dan gurih.

Bayangkan, lewat majalah itu dangdut dipanggil sebagai "musik tai anjing", musik pop cengeng sebagai "kelas berak-an", penyanyi wanita menor disebutnya "ganjen tak ketulungan", dan masih banyak lagi. Aktuil mendekatkan musik lebih intim dari dentuman bunyi yang didengar. Musik adalah kata-kata.

Musisi akan sangat berterima kasih, atau sebaliknya, mengumpat sumpah serapah saat diberitakan oleh Aktuil. Pujiannya bernas, kritikannya tanpa sungkan. Karena itu banyak musisi dengan seketika kehilangan penggemar saat Aktuil memberitakan buruk, serta sebaliknya, penggemar bertambah karena diulas dengan pujian setinggi langit.

Dan, karena menjadi majalah yang berpengaruh dengan oplah 100.000 tiap edisi, Aktuil diisi oleh jurnalis-jurnalis musik andal. Di antara semuanya, nama Bens Leo tergolong sebagai salah satu yang paling produktif dalam melakukan liputan pertunjukan, wawancara musisi, dan menulis esai kritik.

Jurnalis Musik

Setiap orang dapat menuliskan musik, tapi tidak semua orang mampu menjadi penulis musik. Menulis musik butuh ketekunan, karena hubungannya tidak semata dengan bunyi musik itu, tapi kemampuan menerjemahkannya menjadi kata-kata. Otomatis, jurnalis musik adalah orang yang mencintai musik. Mendengarkan dan memikirkan musik menjadi rutinitas, bahkan pada waktu tertentu juga membenamkan diri untuk terlibat sebagai musisi.

Kerja ulak-alik itu lebih dikenal dengan "bi-musicality"; seseorang belajar musik untuk ikut merasakan sejauh mana musik itu memberi kesan, karakter, bahkan membentuk jati diri musisinya. Hal itu penting agar dalam menuliskan musik, kata-kata yang diletupkan mampu menggambarkan secara tepat atas peristiwa bunyi yang didengarkannya. Jurnalis musik dengan demikian adalah orang-orang terpilih, yang mampu mengubah "bahasa langitan" menjadi "bahasa keseharian".

Bunyi itu berpendar menjadi kata, kata itu dibaca, ada wacana atau konsep yang hendak disampaikan pada pembaca. Pada akhirnya, pembaca mendapatkan secercah cahaya, bahwa musik seringkali melampaui batas-batasnya sebagai seni suara.

Jurnalis musik mampu membangun hubungan yang harmonis dengan musisi, namun di saat yang bersamaan juga riskan berkubang pada permusuhan. Di satu sisi ia dituntut objektif dalam menilai sebuah pertunjukan musik, sementara di sisi lain akan menghadapi risiko putus pertemanan. Tidak jarang banyak jurnalis (musik) yang mengambil jalan aman, dengan pemberitaan yang semata berisi puja-puji.

Berbeda dengan Aktuil, jurnalisnya dituntut untuk lebih melayani keingintahuan pembaca dibanding dengan menjadi tukang puji musisi. Oleh karena itu, pada sebuah pergelaran, saat diketahui ada jurnalis Aktuil yang datang meliput, musisi atau kelompok musiknya akan senam jantung. Karena masa depan kekaryaannya ditentukan pada hari itu.

Jurnalis musik seolah menjadi "hakim" yang memutuskan sebuah karya musik layak diapresiasi atau tidak. Bahkan ia berani melawan arus, mengritik pedas sebuah album musik, kendatipun publik menggemarinya. Dan, lewat Aktuil, jurnalis musik dengan entengnya mengatakan "karya musik combro", lewat "cukong musik" yang mencekoki telinga masyarakat Indonesia bercita rasa sampah.

Sebuah Akhir

Bens Leo bergabung di Aktuil pada 1971 hingga 1978. Baru saja ia menerbitkan kumpulan tulisannya di Aktuil lewat buku berjudul Bens Leo dan Aktuil, Rekam Jejak Jurnalisme Musik (2021), dan buku itu seolah menjadi warisan terakhir agar karya-karyanya dapat terus dibaca.

Bens Leo masuk Aktuil pada zaman keemasan majalah itu. Saat ketika ritus membaca sama berharganya dengan mendengarkan radio bertema silat dan horor. Membaca menjadi gairah yang tak lekas surut. Bens hadir mewarnai jagat musik Indonesia lewat tulisannya yang seringkali membuat kita tersenyum gemas. Gaya Aktuil menjadikan Bens seolah tak mau dikekang oleh kuasa bahasa, ia dengan seenaknya menyandingkan peristiwa musik dengan "setan", "demit", "burung sikatan", "combro", "kwaci", "iblis", dan lain sebagainya.

Pada konteks itulah Bens seolah memberi pelajaran berharga bahwa musik sudah kompleks, tak harus dibuat semakin rumit lewat kata. Kelihatannya sepele, tapi kerja menyederhanakan musik tidaklah sederhana. Butuh keseriusan membuat musik agar tak terlihat menjadi serius. Dan, Bens Leo berhasil melakukannya.

Musik bagi Bens adalah peristiwa post factum, bahwa karya itu hanya sekali hadir di depan mata dan telinga, selebihnya adalah tafsir-tafsir tentangnya. Siapapun dapat bermain-main dengan tafsir itu, dan Bens lihai dalam membangun tafsir musik yang penuh kejutan. Tak disangka-sangka obrolannya dengan musisi menjadi perbincangan panas, saat ia dengan sadar menyebut produser musik sebagai biang keladi kemunduran musik Indonesia, karena mengejar untung tapi membuat karya musik seperti rongsokan.

Bens menjadi jurnalis musik yang menyenangkan. Lihatlah hasil wawancaranya dengan para musisi, semua dilakukan selayaknya ngobrol dengan istri di kasur menjelang tidur. Sesekali ia dan para musisi itu saling sindir tentang uang dan demenan. Ia menuliskan apa-apa yang idealnya tak ditulis, tak berhubungan dengan musik. Namun karena itu pula perbincangan musik tak lekas membasi.

Bens Leo adalah legenda; setelah 50 tahun ia berkelana dalam jagat kata dan bunyi sebagai jurnalis musik, ia pergi untuk selamanya pada 29 November 2021 pada usia 69 tahun karena sakit yang didera. Bens Leo menjadi penanda betapa berharganya jurnalis musik bagi perkembangan industri musik Tanah Air, tapi sekaligus juga menjadi akhir bahwa jurnalis musik sekaliber dia barangkali kini tak lagi ada.

Aris Setiawan etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta

(mmu/mmu)