Kolom

#AyoDietKarbon, Menjadi Lebih Pintar dari Sebuah Smartphone

Melynda Dwi Puspita - detikNews
Sabtu, 06 Nov 2021 13:30 WIB
Uni Eropa Setuju Kesepakatan Netral Karbon 2050 Tanpa Polandia
Foto: DW (News)
Jakarta -

Laptop tua hitam keabu-abuan itu tertimpa papan tombol jari (keyboard) eksternal dengan kabel pengisi daya (charger) yang masih menancap. Di sampingnya, terdapat tetikus (mouse) dan gawai (smartphone) berselubung gambar kucing. Termasuk pula sebuah masker medis yang telah lusuh terkena debu. Sementara di luar, nampak langit yang menguning diikuti hawa semakin menghangat.

"Mengapa panas sekali cuacanya?", kata Indah, sembari mengusap peluh yang terus menetes. Ia bersama miliaran orang di dunia saat ini harus berjibaku menghadapi kenyataan pahit berupa kehadiran COVID-19 dan pemanasan global (global warming). Wabah yang membabi buta hadir menghadang dan membatasi segala pergerakan manusia. Hingga pada akhirnya semua aktivitas harus teralihkan menjadi berbasis daring dan berorientasi teknologi. Mulai dari PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), webinar, online meeting, sampai virtual tour.

Walau bersama pandemi, banyak orang merasa senang dan terbantu ketika semua bidang kehidupan telah menyentuh kecanggihan teknologi. Merasa kepanasan? Hanya perlu menyalakan AC (air conditioner) di rumah. Tidak lagi mengeluarkan energi lebih, hanya perlu menatap gadget yang digenggam, semua informasi di seluruh dunia bisa diraih. Namun pernahkah kita bertanya, di balik seluruh manfaat luar biasanya, apakah dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa dampak nyata terhadap kerusakan bumi?

Bagaimana Perkembangan Teknologi 'Menghancurkan' Bumi

Berbicara soal perubahan iklim (climate change), tidak akan terlepas dari peranan emisi karbon. Sebab gas karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO) yang merupakan gas rumah kaca, diketahui menjadi pemicu peningkatan temperatur di atmosfer. Seketika banyak orang yang akan menyalahkan industri besar seperti pertambangan, minyak bumi, dan alat transportasi yang secara terang-terangan menghasilkan asap. Namun apakah kita sering menyadari bahwa teknologi yang telah menemani kehidupan manusia justru menjadi penyumbang tertinggi emisi karbon?

Selama ini yang ada di benak kita, aktivitas digital berpotensi menghasilkan emisi rendah karbon dibandingkan kegitan fisik. Justru studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas McMaster dalam Journal of Cleaner Production mengatakan hal yang sebaliknya. Mereka yang telah menganalisis dampak karbon dunia teknologi (termasuk server, PC, laptop, monitor, dan smartphone) selama 10 tahun, dalam rentang tahun 2010 sampai 2020 mampu mematahkan asumsi keliru yang selalu berkembang di masyarakat.

Kontribusi TIK terhadap total jejak karbon global diperkirakan akan meningkat menjadi 14% pada tahun 2040. Peneliti dari Universitas McMaster menyimpulkan bahwa semakin canggih teknologi yang berkembang maka dampak lingkungan yang diperoleh semakin buruk. Layar smartphone berukuran 4,7 inci akan menghasilkan 57% CO2 lebih banyak dibandingkan ponsel yang berlayar 3,5 inci. Pada tahun 2007, jejak karbon industri teknologi hanya 1%. Sementara di tahun 2020 meningkat tiga kali lipat lebih, yakni 3,5%. Nilai emisi tersebut secara absolut sebesar 125 megaton setara CO2 per tahun (Mt-CO2e/tahun).

Mereka juga menyebutkan bahwa 85-95% jejak karbon industri ponsel pintar dihasilkan dari proses produksinya. Rantai pasokan yang dimulai dari pertambangan material bahan baku seperti emas dan kobalt hingga bagian manufaktur gawai. Rata-rata sebuah ponsel akan menghasilkan 55 kg emisi karbon selama produksi. Menurut sebuah studi European Environmental Bureau pada tahun 2019, dampak iklim ponsel di Uni Eropa adalah 14,2 juta ton CO2. Terlebih lagi, banyak produsen yang berlomba-lomba meluncurkan model ponsel terbaru secara teratur. Sehingga waktu pemakaian ponsel lama akan 'dipaksa' lebih cepat.

Semua orang mengidam-idamkan kecanggihan dan keterbaruan smartphone yang mereka pakai. Karena hal inilah, masa pakai ponsel semakin tahun semakin pendek. Di sisi lain, untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan seluler akan merancang perangkat yang tidak tahan lama atau sukar diperbaiki. Sementara itu, masih sangat sedikit jumlah ponsel yang dikumpulkan dan didaur ulang dengan benar. Alhasil, seiring dengan perkembangan teknologi, jumlah limbah elektronik yang dihasilkan juga terus bertambah. Sekitar 40 sampai 50 juta ton limbah elektronik diproduksi setiap tahun di seluruh dunia. Dan kurang dari 16% saja yang telah didaur ulang dengan benar.

Di sisi penggunaannya, server (penyedia data) menghasilkan setara dua pertiga emisi karbon dari keseluruhan sektor TIK. Mengutip hasil penelitian Robby Darwis Nasution yang berjudul 'Pengaruh Kesenjangan Digital Terhadap Pembangunan Pedesaan (Rural Development)', berdasarkan survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2015, mayoritas pengguna internet di Indonesia bertempat tinggal di wilayah barat Indonesia, khususnya perkotaan Pulau Jawa. Hal ini mengindikasikan bahwa pengguna teknologi yang lebih banyak ditemui di perkotaan juga bertanggung jawab terhadap meningkatnya emisi karbon.

#AyoDietKarbon, Dimulai dari Sebuah Smartphone

Emisi Karbon Smartphone.Emisi Karbon Smartphone. Foto: dok. mossyearth

Jumlah pengguna ponsel pintar di dunia telah menyentuh angka 5,22 miliar jiwa atau separuh lebih total keseluruhan populasi manusia. Sementara jumlah pengguna internet secara global mencapa 4,66 miliar orang pada Januari 2021 (Survei Hootsuite). Dan jumlah itu tentunya akan terus bertambah. Namun, dalam hal krisis iklim, seberapa pintarkah manusia dibandingkan smartphone?

Mengutip pernyataan Mario Teguh, "cara terbaik untuk menghadapi masalah adalah rajin bekerja menyelesaikan masalah itu". Daripada terus berdiam diri menyalahkan keadaan, lebih baik kita mulai bangkit saling bahu membahu untuk menyelesaikan.

Melanjutkan langkah nyata Kementerian PUPR membangun infrastrukstur perkotaan bebas karbon melalui Permen PUPR No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan dan Peraturan Menteri PUPR No, 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kerja Bangunan Gedung Hijau (BGH). Serta melaksanakan pengelolaan sanitasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Kementerian PUPR yang memperingati Hari Habitat Dunia (HHD) dan Hari Kota Dunia (HKD) pada tahun 2021, mengajak kita untuk berkomitmen dan melakukan aksi nyata dalam mengurangi emisi karbon.

Usaha dalam mengurangi emisi karbon bisa diawali dengan langkah sederhana, cukup menggunakan smartphone yang kita punya. Penulis menyebut cara ini sebagai Be Smartpeople Like A Smartphone (Menjadi Orang Cerdas Seperti Smartphone).

1. Jangan Beli Sebelum Rusak

Biasanya masa pakai smartphone di zaman sekarang ialah satu sampai dua tahun. Apabila menggunakan smartphone hingga tiga tahun bahkan lebih, kita mampu memberi dampak signifikan pada pengurangan jejak karbon. Dibandingkan membeli ponsel keluaran terbaru, cobalah perbaiki ponsel lama atau membeli ponsel rekondisi (bekas).

2. Cermati Spesifikasi Smartphone

Apabila tidak ada pilihan atau alternatif lain dan harus membeli ponsel baru, maka harus simak kriteria smartphone berkelanjutan (sustainable smartphone) dengan cara berikut.

- Periksa kinerja perusahaan produsen ponsel dalam transparansi rantai pasokan melalui website resmi. Perusahaan harus membuktikan bahwa telah memberikan informasi terkait supply bahan baku, penggunaan energi, dan kegiatan sosial lingkungan lain yang dilakukan. Serta memastikan bahwa mereka menawarkan tukar tambah ponsel lama.

- Menerapkan desain berkelanjutan seperti penggunaan bahan ramah lingkungan atau bekas daur ulang, penggunaan lebih sedikit energi, metode pengisian daya yang lebih cepat dan efisien, memiliki daya tahan lama, serta menyediakan fasilitas perbaikan suku cadang yang mudah dan murah.

- Bertanggung jawab terhadap sistem pengambilan kembali dan daur ulang.

3 . Jangan Lupa Cabut Charger

Dilansir dari Dimensidata.com, berdasarkan survei yang dilakukan PLN, 1 Watt listrik terbuang percuma ketika kita lupa mencabut charger smarphone dari stop kontak selama 1 jam. Angka yang terlihat kecil, tetapi sangat besar apabila dilakukan bersama-sama miliaran manusia di bumi.

4. Bijak Beraktivitas Virtual

Sebuah badan riset, Gartner menyebutkan bahwa berselancar di internet dalam setahun membutuhkan listrik sekitar 365 kWh (kilowatt-hours). Apabila dikonversikan maka karbon dioksida yang dihasilkan setara dengan mengendarai mobil sejauh 1.400 kilometer. Listrik yang dibutuhkan untuk sekali beraktivitas di mesin pencari Google adalah 3,4 Wh (0,8g karbon dioksida). Emisi karbon yang diproduksi saat mengirim atau menerima surel (email) juga tidak kalah mencengangkan. Setiap 20 email masuk atau terkirim selama setahun dapat menghasilkan karbon dioksida setara perjalanan mobil sejauh 1.000 kilometer.

Banyak pula aktivitas sederhana bersama smartphone yang tidak disadari membawa dampak terhadap jejak karbon. Di antaranya seperti menonton video di Youtube selama 10 menit (1g Co2), membuka beranda Facebook selama setahun (269g Co2) dan melihat film di Netflix setahun (95,2 kg Co2). Sementara saat bekerja dari rumah (Work From Home) melalui Zoom selama 5 jam sehari dalam waktu 3 bulan akan memproduksi 32,14 kg Co2 (CleanMetrics Corp.). Lalu bagaimana cara mengatasinya? Menurut para peneliti dari Yale University, Purdue University, dan Massachusetts Institute of Technology, mematikan kamera selama konferensi virtual dapat mengurangi jejak karbon hingga 96%.

Selain itu, ilmuwan dari Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Radboud yang telah mengamati perilaku belanja orang Inggris dan Amerika Serikat selama satu setengah tahun juga menyimpulkan bahwa belanja online juga tak ramah lingkungan. Mulai dari proses pemesanan, energi untuk pengiriman hingga bungkus barang yang menjadi sampah, sangatlah membahayakan lingkungan. Oleh karena itu, belanja online yang telah menjadi kebiasaan baru terutama di masa pandemi, tetap harus diselingi dengan belanja konvensional.

Sudah sepatutnya sebagai manusia, segera kita sadar untuk mengurangi emisi karbon. Tidak hanya sekadar membuat gebrakan tetapi lebih ke gerakan. Jangan hanya teriakan, tetapi lebih kepada tindakan. Tanpa disadari, perilaku ketergantungan kepada teknologi juga berdampak pada lingkungan. Mari hilangkan kecanduan diri terhadap smartphone, ubah kebiasaan lebih bijak nan bertanggung jawab, dan lakukan perbedaan nyata untuk bumi lebih baik. #AyoDietKarbon!

Melynda Dwi Puspita, Juara 1 Lomba Karya Tulis PUPR Kategori Umum

(prf/ega)