Kolom

Masalah Akut Peternak Rumahan dan Petani Gurem

Anton Prasetyo - detikNews
Rabu, 13 Okt 2021 09:40 WIB
Tanjakan Curam Harga Jagung
Foto: detik
Jakarta -

Pak Jokowi Tolong Kami. Kalimat dalam spanduk, baik yang disampaikan oleh Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) di depan Kementan ataupun peternak di Cilacap, Jawa Tengah saat Presiden Jokowi berkunjung merupakan dampak dari harga jagung yang membumbung versus harga telor yang terus melorot.

Awal 2021, pemerintah mengklaim bahwa produksi jagung akan melimpah. Selain cukup untuk konsumsi dalam negeri, jagung juga akan diekspor pada tahun ini. Dasar yang digunakan adalah prognosa penghitungan Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan yang menyatakan bahwa produksi jagung nasional dengan kadar air 15 persen pada Januari-Desember 2020 mencapai 24,95 juta ton pipil kering. Luas tanam jagung nasional periode Oktober 2019 - September 2020 mencapai 5,5 juta hektar. Sementara, panen jagung nasional Januari - Desember 2020 mencapai 5,16 juta hektar.

Prediksi pemerintah akan surplus jagung untuk ekspor ternyata meleset. Di pertengahan tahun ini, kita dihadapkan pada fenomena peternak unggas sekarat karena kelangkaan jagung. Saking langkanya, harga jagung yang biasanya antara Rp 4 hingga Rp 4,5 ribu, kini mencapai harga Rp 6 ribu per kilogram. Kondisi akut ini bahkan menjadikan Presiden Jokowi harus turun tangan langsung. Setelah mendengarkan keluh kesah perwakilan para peternak di Istana Merdeka, Jokowi langsung memerintahkan para menteri terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan ini.

Langkah sigap pemerintah ini mendapat apresiasi positif dari seluruh peternak unggas se-Nusantara. Mereka riang-ceria mendapatkan angin segar ini. Mereka juga berharap lagi agar pemerintah juga turut-serta dalam pemasaran hasil produk ternak unggas dalam program pemerintah, misal telur dan daging ayam dimasukkan dalam bansos dari pemerintah. Langkah ini dinilai akan dapat mendongkrak eksistensi peternak rumahan yang harus berhadapan dengan peternak raksasa.

Analisis kasar, sejatinya para peternak unggas rumahan tidak serta merta bisa eksis manakala harga jagung bisa turun hingga Rp 4 ribu sampai Rp 4,5 ribu. Mereka masih memiliki masalah besar, yakni berhadapan dengan peternak raksasa. Karena, harga pakan ternak murah yang paling merasakan enaknya sejatinya bukan para peternak rumahan, namun justru para peternak raksasa. Dengan harga pakan ternak rendah, mereka akan dengan mudah menjual hasil produk dengan harga yang sangat rendah.

Dengan harga yang cukup rendah, mereka akan tetap eksis karena dengan SDM dan mesin yang mumpuni, mereka akan dapat dengan mudah menekan biaya operasional. Pada saat bersamaan, para peternak unggas rumahan tidak bisa menyajikan harga produk ternak yang sepadan dengan dibanderol peternak raksasa. Jika ini yang terjadi, konsumen pun akan memilih produk yang lebih murah dengan kualitas sama atau bahkan lebih baik produksi peternak raksasa.

Kebijakan impor dan harga jagung murah juga menjadi dilema tersendiri bagi petani. Ketika harga di pasaran kisaran Rp 4 sampai Rp 4,5 ribu , maka harga jual di tingkat petani maksimal kisaran Rp 2 ribu. Hal ini bisa terjadi lantaran perpindahan jagung dari petani ke peternak unggas rumahan harus melewati perantara yang kesemuanya juga ingin mendapatkan keuntungan besar. Para petani tidak memiliki kemampuan untuk bisa memasarkan hasil pertaniannya kepada peternak rumahan langsung.

Jika mereka memaksakan, bukan untung yang akan dirasakan melainkan rugi besar karena secara finansial dan peralatan belum siap. Sehingga, tidak ada pilihan lain, mereka harus menjual hasil pertaniannya kepada para tengkulak dan juragan mesti dengan harga yang sangat rendah.

Manakala para petani bisa bersentuhan dengan para peternak unggas, mereka hanya akan bisa bertemu dengan peternak unggas raksasa. Karena hanya peternak raksasalah yang memiliki kemampuan terjun ke petani untuk membeli produk pertaniannya. Dan, para peternak raksasa ini akan dengan sangat mudah mendapatkan harga murah sebagaimana para tengkulak dan juragan membeli hasil pertanian jagung.

Sementara, para peternak unggas rumahan hanya bisa mendapatkan jagung dengan harga pasaran yang didominasi oleh para tengkulak dan juragan. Para peternak rumahan juga bernasib seperti petani, tidak memiliki kemampuan untuk bertransaksi jagung langsung dengan para petani. Padahal, tanpa adanya permasalahan harga jagung yang cukup rendah, para petani sudah mengantongi sejumlah permasalahan.

Saat ini, para petani gurem harus mengeluarkan biaya besar untuk bisa melaksanakan pertanian jagung. Selain harga benih yang cukup tinggi (kisaran Rp 80 ribu per kilogram), mereka juga harus merasakan melangitnya harga pupuk. Subsidi yang diberikan pemerintah tidak selamanya bisa dinikmati petani gurem. Justru para petani kelas kakaplah yang mampu mengeruk subsidi dari pemerintah.

Mereka memiliki kemampuan untuk mengakses subsidi pemerintah dengan cepat dan jumlah yang besar. Sementara, para petani gurem banyak yang tidak bisa mengaksesnya. Ada beberapa yang mampu mengakses pun, mereka harus berurusan dengan pihak ketiga yang tidak lepas dari kepentingan mendapatkan untung. Dengan kata lain, subsidi pemerintah yang mestinya diperuntukkan bagi para petani gurem justru dimanfaatkan oleh para oknum yang ingin selalu mendapatkan keuntungan tinggi.

Masalah-masalah lapangan pun selalu dirasakan para petani jagung. Mereka yang sudah memimpikan panen, ternyata harus merasakan getirnya kekecewaan. Beberapa contoh nyata tahun ini antara lain, jagung siap panen ludes dimakan tikus di Blora dan Lampung Tengah. Di Singkil, gerombolan monyet melahap jagung pada siang hari dan babi pada malam hari. Dan lain sebagainya. Masalah cuaca di dataran tinggi juga kerap menjadi kendala produktivitas jagung. Semua ini banyak dirasakan oleh para petani gurem.

Berdasar paparan singkat ini, permasalahan harga jagung sejatinya harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Menurunkan harga jagung kisaran Rp 4 sampai Rp 4,5 ribu hanyalah solusi kecil dari permasalahan akut peternakan dan pertanian. Komplikasi permasalahan adalah banyaknya oknum yang selalu menggerogoti penghasilan para peternak rumahan dan petani gurem. Penyakit inilah yang mestinya dibasmi pemerintah sehingga para peternak rumahan dan petani gurem bisa eksis.

Tidak muluk-muluk cita-cita mereka; para peternak rumahan dan petani gurem hanya ingin memenuhi kebutuhan primer keluarga dengan baik saja sudah cukup. Mereka tidak menginginkan lebih. Dan, pemerintah harus hadir untuk bisa 'menggigit' para lintah yang selalu menggerogoti usaha-usaha mereka.

Anton Prasetyo, M. Sos pendamping sosial Kabupaten Gunungkidul

(mmu/mmu)