Kolom

Merawat Sektor Informal Pascapandemi

Untung Dwiharjo - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 14:15 WIB
Korban PHK Covid-19, Bertahan Hidup dengan Jualan Mie Ayam
Foto: Youtube "Cullinary Buddy"
Jakarta -

Sejak adanya pandemi Covid-19 ekonomi masyarakat menjadi luluh lantak. Banyak karyawan yang dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Para pengusaha juga banyak gulung tikar dan mengurangi karyawan demi bertahan hidup. Sepanjang Maret 2021 Kementerian Ketanagakerjaan menyebut ada 29,4 juta orang terdampak pandemi Covid-19. Jumlah itu termasuk yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.

Imbas dari PHK terhadap karyawan oleh perusahaan akibat pandemi-Covid-19 ini banyak karyawan yang alih profesi untuk bisa bertahan hidup. Misalnya ada seorang pilot yang harus jualan mie ayam, ada juga pramugari yang berjualan agar dapur tetap mengepul. Semuanya itu menunjukan bahwa sektor informal adalah "katup pengaman" di kala orang terkena PHK. Dalam hal ini sektor informal yang berfungsi sebagai penyelamat ekonomi keluarga dari gelombang PHK akibat pandemi Covid-19 adalah sektor makanan. Banyak para korban PHK beralih profesi menjadi wirausaha kuliner seperti membuka kedai mie ayam, berdagang pentol, serta lain sebagainya.

Banyak di sepanjang jalan protokol di kota besar sekarang banyak para pedagang sektor informal baru berjejer di pinggir jalan. Bahkan jalan kampung pun tidak luput dari sektor informal ini. Tetangga kampung saya yang habis terkena PHK juga membuka warung pentol bakar dan hasilnya cukup lumayan untuk keperluan keluarga. Sektor informal mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat yang terdampak badai pandemi Covid-19.

Merawat Jaringan

Mengapa sektor informal mampu menolong ekonomi masyarakat saat pandemi Covid-19 ini? Berdasarkan banyak kajian dan cerita dari para pelaku, bahwa sektor ini relatif lentur dan fleksibel karena adanya jaringan sesama pedagang sejenis. Ketika saya menanyakan kepada seorang pedagang gerobak mie ayam dirinya mengatakan bahwa ada perkumpulan pedagang satu kota di perantauan dimana agenda bulanan adalah arisan.

Dari arisan itulah dibahas berbagai hal tentang bagaimana cara agar dagangan tetap bisa bertahan. Bagaimana menaikkan atau menurunkan harga agar tetap eksis dari badai krisis. Demikian juga kalau ada masalah keuangan, maka anggota sesama pedagang saling membantu. Ada mekanisme dalam diri mereka berupa modal sosial antarsesama pedagang sehingga dalam setiap keadaan selalu bisa mereka pikul untuk tetap bisa berdagang agar dapur keluarga juga tetap mengepul.

Tanpa bantuan pemerintah sebenarnya mereka bisa menghidupi dirinya sendiri dengan jaringan sosial yang selama ini mereka bina. Sehingga kabar viral di media sosial ada pedagang bakso yang ditagih untuk membayar pajak sebanyak Rp 6 juta rupiah menjadi ironi. Usaha kecil masyarakat yang selama ini dipandang sebelah mata oleh pemerintah; kadang mereka harus pandai-pandai menyiasati agar tetap bertahan, malah seolah dihambat dengan adanya beban pajak yang sebenarnya di luar nalar.

(Belakangan kasus tersebut diputihkan. Bahkan pedagang bakso tersebut kini viral dan tambah ramai dikunjungi masyarakat.)

Dengan adanya jaringan sosial yang terjalin selama ini sebenarnya para pegiat sektor informal bisa mandiri secara usaha untuk bertahan dari pandemi. Tetapi yang paling rentan adalah para pegiat sektor ini yang baru tahap mulai merintis usaha dimana jaringan pelanggan atau konsumen dan jaringan pegiat sektor informal sejenis belum terbentuk. Mereka terjun ke sektor ini karena dalam kondisi terpaksa tidak ada pilihan lain misalnya habis terkena PHK atau terkena musibah yang lain.

Butuh Dukungan

Dengan belum pastinya pandemi ini akan berakhir dan perpanjangan secara terus menerus pembatasan kegiatan masyarakat, peran sektor informal seperti pedagang kaki lima (PKL) atau wirausaha kuliner sepertinya butuh dukungan dan fasilitas dari pemerintah agar mereka tetap bisa berjualan. Terutama perlindungan hukum dari praktik pungutan liar oknum.

Pentingnya sektor informal seperti PKL dan lain sebagainya di masa pandemi seperti sekarang, tantangan mereka jauh lebih besar dibanding ketika krisis moneter 1998. Sekarang ruang gerak mereka dibatasi oleh adanya pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) seperti misalnya larangan untuk berkerumun, pembatasan jam operasional, sampai adanya ancaman terkena paparan Covid-19.

Kisah-kisah sukses para pegiat sektor informal sangat banyak --apabila kita mencari di channel Youtube. Sangat menginspirasi dan membuat edukasi bagi para pekerja yang terkena PHK di saat pandemi. Kisah-kisah tadi harusnya diangkat di media utama sehingga" "virus" kemandirian usaha menjadi lebih bisa menyebar di masyarakat saat ekonomi sedang mengalami kontraksi akibat pandemi sehingga banyak terjadi pengurangan karyawan di berbagai sektor ekonomi.

Sekarang ini dibutuhkan dukungan dari pemerintah terhadap aktivitas para pegiat sektor informal ini. Dukungan itu berupa dipermudahnya perizinan, perlindungan hukum, serta dipermudahkannya mereka terhadap akses permodalan, dan kalau bisa diberi permodalan tanpa bunga kepada mereka. Sehingga mereka mempunyai ketahanan yang prima dari guncangan pandemi.

Dengan demikian memang pada saat pandemi seperti sekarang ini sektor informal mampu menjadi dewa penolong bagi masyarakat yang terdampak, terutama para karyawan korban PHK. Sehingga kehadiran sektor informal ini harus dirawat oleh negara dalam artian lebih diperhatikan keberadaannya --yang mungkin selama ini dipandang sebelah mata.

Untung Dwiharjo pengamat sosial alumnus FISIP Unair

(mmu/mmu)