Kolom

Benarkah Guru Santai dengan PJJ?

Yunita Purnamasari - detikNews
Senin, 30 Agu 2021 12:15 WIB
A young Asian female university student presents chart on her project study online via laptop at home during COVID-19 pandemic to practice social distancing. Stock photo.
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/sengchoy
Jakarta -

Pandemi yang terus bergulir meresahkan banyak orangtua. Di antara keluhan itu adalah tugas-tugas sekolah yang menumpuk, beban kuota internet, serta sarana belajar seperti laptop dan HP yang kurang mumpuni.

Keluhan lainnya adalah kecanduan game dan musik ala Korea. Beberapa orangtua bahkan mengeluh karena anaknya tidak paham materi belajar, sehingga harus memberi bimbingan belajar ekstra di luar jam sekolah online, seperti les tambahan atau orangtua yang meluangkan waktu membimbing. Sehingga tak sedikit di antara orangtua yang melontarkan celetukan di laman Facebook yakni masa pandemi kerja guru menjadi santai karena ada kebijakan work from home (WFH). Benarkah demikian?

Mendengar celetukan itu saya tersenyum. Mereka yang berceletuk tentu bukan seorang guru. Jika sesama guru, saya pastikan tak akan ada celetukan seperti itu. Menjadi guru saja membutuh sekolah setidaknya S1. Apalagi guru SD seperti saya. Kuliah S1 saja tidak cukup jika belum linier. Harus sekolah lagi jurusan Pendidikan SD. Dan tugas guru itu tetap sama walaupun harus mengajar dari rumah (WFH).

Tugas guru tak melulu mengajar dan mendidik murid. Guru harus menyiapkan perangkat pembelajaran, mengisi jurnal harian, membuat media pembelajaran bahkan saat ini banyak guru yang membuat media pembelajaran dengan video dan diunggah ke kanal YouTube. Menyiapkan materi atau bahan ajar, lembar kerja untuk murid dan rubrik penilaiannya. Setelah itu guru harus mengoreksi dan memasukkan nilai murid ke kolom yang telah disediakan oleh sistem.

Seolah waktu 24 jam itu kurang bagi guru. Terlebih ketika momen nasional seperti hari kemerdekaan, hari guru, dan hari pendidikan. Guru harus menyiapkan beragam lomba. Menentukan pemenang dan menyiapkan hadiah. Kemudian menyiapkan mental murid dengan suntikan motivasi.

Motivasi tetap diberikan walaupun dalam kelas online. Bukan saja motivasi untuk mengikuti lomba, tetapi motivasi rajin belajar dan semangat pantang menyerah serta pembiasaan karakter. Bahkan, guru juga harus mengunjungi murid jika terdapat murid yang mengalami kesulitan belajar.

Aktivitas guru saat sebelum pandemi tak ada bedanya dengan saat pandemi seperti sekarang. Jika ada yang mengatakan guru sekarang enak karena tak ada murid, tak mengajar murid ,dan bisa santai bekerja dari rumah, maka celetukan itu harus dikaji ulang.

Membuat Perangkat Pembelajaran

Salah satu administrasi yang harus disiapkan guru adalah membuat perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran itu terdiri dari 5 komponen yakni rencana pembelajaran (RPP), media pembelajaran (power point), bahan ajar, lembar kegiatan peserta didik (LKPD), lembar evaluasi, dan instrumen penilaian.

Setelah mengajar guru harus melakukan koreksi hasil pengerjaan murid. Kemudian melakukan refleksi, sejauh mana keberhasilan mengajar hari ini. dan segera menyiapkan perangkat pembelajaran esok hari. Jika pembelajaran hari ini belum berhasil ditunjukkan oleh hasil evaluasi murid nilainya banyak di bawah kriteria ketuntasan minimum (KKM), maka guru wajib menyiapkan remidial teaching.

Biasanya remidial teaching dilakukan dengan beragam bentuk. Ketika pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti saat ini tentu banyak guru yang membuat bahan ajar dengan video. Link video diberikan kepada murid agar dapat dipelajari berulang kali kapan saja. Kemudian pada waktu yang disepakati dapat mengulang soal evaluasi agar nilai mencapai KKM. Apakah membuat video tak membutuhkan waktu dan tenaga? Tentu membuatnya di sela-sela jam mengajar. Bahkan sampai malam hari.

Home Visit

Tugas guru lainnya adalah melaksanakan program sekolah yakni home visit. Berkunjung ke rumah murid. Saya biasanya berkunjung ke rumah murid pada hari yang tidak mengajar, yakni Sabtu. Sekali home visit saya usahakan bisa sampai empat anak. Demikian juga dengan rekan-rekan guru lain di sekolah lain. Hal ini pernah saya tanyakan pada kawan guru yang mengabdi di sekolah negeri. Mereka menjawab bahwa program home visit itu juga ada di sekolah mereka.

Tidak semua orangtua murid berkenan dikunjungi. Ada yang keberatan, karena untuk menjaga diri dari wabah, salah satunya dengan menjaga rumah dari orang luar atau tamu. Namun, lebih banyak yang berkenan. Tentu saja saya menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Biasanya saya lebih banyak mendengar. Tanpa diminta hampir semua orangtua mengeluhkan sampai kapan PJJ. Maklum anak mereka masih SD sehingga belum mandiri sepenuhnya.

Di situ saya memberi edukasi pandemi. Bahwa PJJ ini terpaksa dilakukan untuk memutus mata rantai penularan corona. Bukan karena guru tak mau mengajar. Bukan seperti itu. Murid sekolah dasar masih belum sepenuhnya paham protokol kesehatan. Dan jumlah murid di sekolah swasta seperti tempat saya mengabdi mencapai seribu lebih murid. Dapat dibayangkan, bukan, jika semua masuk seperti sebelum pandemi? Misal hanya separuhnya saja pun juga tetap akan membahayakan karena kembali lagi bahwa anak-anak belum sepenuhnya sadar protokol kesehatan.

Dari ulasan tugas guru di atas, masihkah akan melontarkan celetukan guru santai dengan PJJ? Orangtua yang bijak akan memahami bahwa guru bukan orangtua dari anaknya. Guru dan sekolah adalah mitra untuk perkembangan pendidikan anak.

Orangtua akan tetap ditanya perihal tugas dan tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Katakanlah orangtua mendidik dan mengajar tiga anak saat di rumah, sedangkan guru mendidik dan mengajar 30 murid dalam waktu tatap muka online yang terbatas. Guru mengoreksi pengerjaan 30 murid, mengunjungi rumah 30 murid, dan online 24 jam dalam sehari untuk membalas pesan orangtua murid yang bertanya perihal ini dan itu.

Yunita Purnamasari guru

(mmu/mmu)