ADVERTISEMENT

Jeda

Jangan Mengatur Barang Orang Lain

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 29 Agu 2021 11:18 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ketika sedang iseng melihat-lihat story WhatsApp --aktivitas yang sebenarnya jarang saya lakukan-- saya menemukan story teman yang membuat saya membalasnya. Di story-nya tersebut, dia mem-posting tangkapan layar sebuah status dari teman Facebook yang saya kenal. Seorang penulis yang membagikan percakapan pribadinya dengan seseorang. Dalam percakapan tersebut ada orang yang memintanya untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Tentu saja permintaan tersebut dia tolak.

"Ya ampun, aku kok sering ya bernasib sama seperti beliau, dipaksa orang untuk mendonasikan buku koleksi," saya membalas story WhatsApp teman saya tersebut.

Saya sepakat dengan mas penulis yang tersinggung ketika diminta untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Ya, bayangkan itu adalah harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun. Ada yang perjuangan mendapatkannya dengan menabung, mencari di tempat yang susah karena bukunya langka, atau ada yang berupa hadiah atau pemberian orang lain, sesuatu yang sentimentil dan tidak bisa dinilai dengan uang.

Bisa juga itu tabungan masa depan untuk anak-anaknya. Lalu tiba-tiba ada yang seenaknya ngomong, "Mbok disumbangkan saja bukunya."

Saya sendiri juga sering mendapat komentar seperti itu ketika mengunggah foto tumpukan buku saya yang sebenarnya tidak beraturan. Komentar seperti, "Mbak, nggak ada niatan buat hibahin bukunya?" selalu saya jawab dengan satu kata, "Nggak!" Dalam hati sih nggerundel, "Lah siapa elu minta-minta, enak wae!"

Orang-orang ini kok pada percaya diri sekali ya berkomentar seperti itu. Mereka tidak paham sekali sejarahnya mendapatkan buku-buku tersebut. Kalau memang takjub dengan koleksi buku-buku saya yang katanya banyak itu ya dari dulu kumpulkan sendiri. Jangan paksa orang lain untuk menyumbangkan koleksinya. Lucunya, komentar tersebut tidak hanya berasal dari orang-orang yang kita anggap tidak mengerti hal seperti ini.

Saya pernah bertengkar dengan salah satu guru saya di sekolah dulu karena tidak mengembalikan buku yang dia pinjam dari saya. Malah bilang kalau buku ya sudah seharusnya disumbangkan. Ya kenapa bukan buku dia sendiri? Setelah dewasa ini saya baru paham, ya mau disumbangkan apanya wong dia sendiri tidak punya koleksi buku.

Minta donasi itu ada caranya, yang sopan. Banyak kok orang-orang yang memang bergerak di bidang donasi buku. Hubungi saja mereka. Ada tautan yang bisa diklik untuk prosedurnya. Tanya teman yang lebih paham juga bisa. Daripada meminta orang untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Saya yakin orang-orang yang dipaksa menyumbangkan bukunya ini sudah punya waktu sendiri untuk berdonasi.

Berdonasi dengan diumumkan itu bagus kalau tujuannya memang membuat orang-orang tergerak melakukannya. Tapi tidak semua kegiatan donasi harus dipublikasikan. Mungkin kita yang tidak tahu.

Kemarin saya juga menemukan komen senada di sebuah grup klub baca di Telegram. Ada seorang anggota grup yang menawarkan buku-bukunya untuk dijual. Herannya, ada beberapa komentar yang ajaib sekali. Yang pertama, ada yang mengejek jenis buku yang ditawarkan tersebut, yang kedua ada yang komentar dengan tanpa bersalah, "Kak, apa tidak disumbangkan saja bukunya?"

Yang punya lapak menjawab, "Hehe sedang butuh uang, Kak."

Meski bukan saya yang sedang menawarkan buku, kok saya yang malah tersinggung. Lepas dari boleh-tidaknya berjualan di grup tersebut, rasanya tidak sopan ketika ada yang berjualan tapi malah disuruh menyumbangkan barangnya. Orang menjual barangnya itu ya karena butuh uang, atau ya memang niatnya untuk dijual, bukan untuk disumbangkan. Hal seperti ini kok ya tidak peka. Kenapa kalau koleksi buku itu tabu sekali untuk dijual? Kenapa koleksi buku harus selalu disumbangkan?

Saya pun membalas komentar tersebut dengan panjang kali lebar kali tinggi alias meluas ke mana-mana. Orang seperti ini memang harus selalu digertak biar tidak tuman. Sebenarnya ini berlaku untuk semua barang, bukan terbatas buku saja. Ketika kita melihat teman kita menjual barangnya apapun itu, artinya dia butuh uang. Kalau kita tidak mau membeli atau menyebarkan, cukup dengan tidak berkata sesuatu yang menyinggung perasaannya. Selama jualannya sopan dan tidak mengganggu kita, ya sudah biarkan mereka berjualan.

Saya sendiri malas kalau diceramahi tentang sumbang menyumbang. Kalau hanya donasi buku ya sering. Tidak semua saya publikasikan karena saya tipenya mudah riya, sombong, dan takut membuat orang lain minder ha-ha-ha. Soalnya buku yang saya sumbangkan tidak pernah jelek. Buku bagus semua baik isi maupun kemasan. Banyak yang anyar gres masih segelan. Kalau bekas pun buku bekas yang bagus. Saya mendonasikannya sesuai kebutuhan target donasi. Menyortir itu juga butuh waktu.

Tidak hanya donasi dalam jumlah besar, kadang saya hanya ingin seru-seruan membuat giveaway buku untuk teman-teman di media sosial. Tentu saja buku-buku bagus yang saya bagi-bagikan. Saya itu pada dasarnya nyah-nyoh orangnya alias gampang memberi, tapi kalau dengan orang yang njalukan atau minta-minta, saya malah malas. Apalagi tidak terlalu kenal dan tidak dengan cara yang sopan.

Dulu awal-awal menerbitkan buku juga begitu. Saya masih menemui orang-orang yang minta buku gratisan. Iki karepe piye sih wong saya bikin buku butuh modal kok malah diminta-minta. Kalau memang mengaku teman ya malah seharusnya didukung dong dengan membeli bukunya. Kecuali memang kita sendiri yang diberi hadiah, itu lain cerita. Sesungguhnya kata "selamat" dari teman yang sesungguhnya itu adalah dengan membeli bukunya, bukan hanya dengan kata-kata. Haha.

Tapi jangan salah paham, ini bukan berarti saya memaksa orang harus suka dan membeli buku saya, bukan itu. Saya juga tidak membeli semua buku orang yang saya kenal, tapi setidaknya kita tahu diri, jangan meminta buku gratis atau memaksa orang untuk mendonasikan bukunya dengan tidak sopan.

Buku koleksi saya itu harta saya. Saya kumpulkan dari dulu. Ada yang belinya setelah menabung dan puasa, ada yang diberi orang sebagai kenang-kenangan. Saya orangnya sentimentil dan suka sesuatu yang berbau kenangan bersejarah. Kalau saya ingin mengurangi buku saya, pasti saya kurangi. Dan kalau ada yang mau saya jual, ya memang itu mau saya jual, bukan untuk disumbangkan.

Saya sering diceramahi karena katanya tidak menerapkan metode minimalis Marie Kondo. Tapi orang yang menceramahi itu tidak sadar bahwa pikiran mereka yang sebenarnya tidak minimalis. Terbukti dari cerewetnya mengatur barang orang lain. Mungkin secara fisik mereka tidak sumpek karena tidak kebanyakan barang, tapi komentarnya membuat orang lain sumpek saking "minimalisnya".

Gondangrejo, 28 Agustus 2021

Impian Nopitasari penulis, tinggal di Solo

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT