ADVERTISEMENT

Kolom

Pembangunan Jaringan Irigasi Rawa Dukung Ketahanan Pangan Indonesia

Asril Zevri - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 16:57 WIB
Rawa Pening, Jawa Tengah
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Kontribusi Pembangunan Jaringan Irigasi Rawa Sebagai Salah Satu Upaya dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Indonesia

Perubahan iklim sebagai dampak kerusakan lingkungan semakin meningkatkan ancaman bencana kekeringan dan banjir. Kondisi tersebut mengakibatkan penurunan dan peningkatan jumlah curah hujan 1-4 % pada periode yang berbeda. Musim kemarau berlangsung lebih lama dengan curah hujan semakin berkurang, sebaliknya musim hujan berlangsung singkat dengan intensitas hujan semakin tinggi.

Perkembangan jumlah penduduk yang semakin meningkat di Indonesia mengakibatkan kebutuhan akan pangan juga semakin bertambah. Hasil pasokan kebutuhan pangan saat ini hanya mengandalkan lahan irigasi yang bersumber air permukaan. Luas potensial lahan irigasi permukaan saat ini pun sudah sangat terbatas sehingga diperlukan suatu solusi untuk mendukung permasalahan tersebut.

Luas fungsional daerah irigasi permukaan di Indonesia seluas 7,1 juta ha atau 78% dari total luas irigasi nasional seluas 9,136 juta ha. Total sebanyak 46% atau atau sekitar 3,3 juta ha prasarana irigasi dalam kondisi kondisi rusak, dengan 7,5 % merupakan kewenangan pusat, 8,26% merupakan irigasi kewenangan provinsi dan 30,4% merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Peningkatan konversi fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian, dengan laju alih fungsi lahan pertanian pada periode 1981-1999 sebesar 90.417 ha/tahun sedangkan periode 1999-2002 sebesar 187.720 ha/tahun.

Pembangunan di bidang kedaulatan pangan dan pengentasan kemiskinan perdesaan menjadi salah satu sektor unggulan dalam sembilan agenda prioritas pembangunan nasional, yang tertuang dalam NAWA CITA melalui perwujudan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Dalam rangka mendukung peningkatan kedaulatan pangan, arahan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam pemantapan ketahanan pangan dari sektor pertanian beririgasi diwujudkan melalui strategi peningkatan kapasitas produksi dan peningkatan layanan jaringan irigasi.

Pemerintah memiliki kebijakan perbaikan irigasi rusak dan jaringan irigasi di 3 juta hektare sawah dan pembangunan 1 juta hektare sawah baru di luar Jawa, optimalisasi layanan irigasi melalui operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi 8,8 juta hektare, pengelolaan lahan rawa yang berkelanjutan, serta peningkatan efisiensi pemanfaatan air melalui teknologi pertanian. Menindaklanjuti program tersebut, pemerintah melaksanakan kegiatan-kegiatan terpadu yang berbasis kepada peningkatan keterlibatan petani, penguatan kelembagaan, pengelolaan dan peningkatan infrastruktur sistem irigasi, internalisasi Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Partisipatif (PPSIP) dalam dokumen perencanaan daerah, serta peningkatan pendapatan pertanian beririgasi.

Salah satu arahan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam pemantapan ketahanan pangan dari sektor irigasi, yaitu dengan pengelolaan lahan rawa yang berkelanjutan. Potensi lahan rawa yang dimanfaatkan pada saat ini didominasi dengan pemanfaatan lahan untuk perkebunan dan pemukiman. Kondisi ini mengakibatkan luas budidaya untuk pertanian semakin berkurang yang mengakibatkan ketersediaan lahan sebagai sumber bahan pangan juga semakin menurun.

Potensi lahan rawa yang dimanfaatkan saat ini sedang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tepatnya di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Kawasan budidaya yang telah dikembangkan pada tahun 1998 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan pengembangan lahan gambut satu juta hektare ini menjadi lokasi terpilih dengan luas potensial mencapai 165 ribu ha.

Kawasan budidaya dengan luas potensial mencapai 165 ribu ha terdiri dari 36 daerah irigasi rawa dan tambak yang tersebar di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau. Lokasi potensial daerah irigasi rawa dan tambak pada saat ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani karena sistem jaringan tata air irigasi yang belum optimal dalam pelaksanaannya. Permasalahan sistem jaringan tata air irigasi menjadi tantangan bagi pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam mencari solusi terbaik untuk pemecahannya. Salah satu konsep solusi yang sedang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, yakni dengan membangun dan merehabilitasi sistem jaringan irigasi rawa dengan melakukan normalisasi saluran baik itu di saluran primer, sekunder, dan tersier. Selain itu, didukung dengan bangunan pelengkap di sistem jaringan irigasi, baik bangunan pintu dan sekat kanal yang bertujuan untuk mengatur dan mempertahankan air sehingga dapat menggenangi lahan pertanian.

Potensi kawasan budidaya lahan rawa sebagai lahan pertanian tidak lepas dari pengaruh ketersediaan air dan karakteristik tanah. Ketersediaan air diperhitungkan berdasarkan kuantitas dan kualitas dari sumber air. Kuantitas air diperoleh dengan fluktuasi muka air pasang surut dari sungai dengan curah hujan maksimum di lahan irigasi rawa. Kualitas air menjadi salah satu faktor yang penting untuk mensuplai air kepada tanaman dengan memperhatikan kadar pH air.

Karakteristik tanah di lahan rawa pada umumnya adalah tanah gambut yang dipengaruhi dengan sifat fisik tanah dan kimia tanah. Sifat fisik tanah berhubungan dengan kematangan gambut, kadar air, dan berat isi sedangkan sifat kimia tanah dipengaruhi dengan kemasaman tanah, ketersediaan hara, kadar asam, dan kadar abu. Komponen sifat fisik dan kimia tanah gambut harus dapat diukur tingkat toleransi yang diizinkan untuk dapat mendukung pengembangan luas lahan potensial daerah irigasi rawa.

Hasil pengembangan potensi kawasan budidaya akan memberikan informasi terkait kinerja kawasan pada lahan irigasi rawa yang dipengaruhi oleh intensitas panen pada musim hujan dan musim kemarau, hasil panen, akses sarana dan prasarana produksi, pendapatan rata-rata keluarga, prosentase pendapatan kegiatan pertanian dari pendapatan keluarga, kepemilikan rata-rata per kepala keluarga, dan ketersediaan jasa perdagangan. Seluruh komponen tersebut menjadi indikator dalam pengembangan kawasan luas potensial daerah irigasi rawa. Intensitas padi diharapkan dapat melebihi dari 200% dengan hasil panen padi lebih besar dari 6 ton/ha. Hasil tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan rata-rata keluarga sehingga mengakibatkan kesejahteraan bagi masyarakat petani.

Pembangunan jaringan irigasi rawa di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau dengan target luas potensial 165 ribu ha menjadi salah satu target Pemerintah untuk dapat menjadikan Pemerintah Indonesia menjadi negara yang tangguh dan tumbuh. Target pembangunan jaringan irigasi rawa diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pangan khususnya padi untuk menjadi wilayah swasembada pangan dan sebagai lumbung pangan nasional.

Peningkatan ketersediaan pangan dengan harapan dapat meningkatkan intensitas panen dua kali dalam setahun dan produktivitas padi yang melebihi dari 6 ton/ha saat ini sudah dilakukan di salah satu daerah irigasi rawa di Kabupaten Pulang Pisau, yaitu daerah irigasi rawa Belanti I dengan luas fungsional mencapai 3.392 ha. Kondisi ini menjadi salah satu dorongan bagi pemerintah dalam mencapai target pengembangan luas potensial daerah irigasi rawa menjadi lahan budidaya pertanian.

Pengembangan luas potensial daerah irigasi rawa diharapkan juga dapat menyerap tenaga kerja, yaitu masyarakat dengan mengembangkan program padat karya. Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu langkah solusi pemerintah untuk mengikutsertakan masyarakat dalam mensukseskan program pemerintah serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Infrastruktur jaringan irigasi rawa yang terdiri dari beberapa kegiatan seperti pekerjaan normalisasi saluran dan bangunan pelengkap seyogyanya dapat dilakukan dengan mengikutsertakan seluruh stakeholder. Pemerintah dalam hal ini diwakilkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menjadi institusi yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan pelaksanaan pembangunan jaringan irigasi rawa.

Pembangunan infrastruktur tidak lepas dari kebutuhan tenaga kerja dalam pelaksanaannya. Kebutuhan tenaga kerja diperhitungkan berdasarkan analisa kebutuhan bahan dan tenaga kerja dengan rencana volume pekerjaan konstruksi. Perbedaan agama dan budaya pada masing-masing pekerja tidak menjadi penghambat dalam pelaksanaan pekerjaan. Latar belakang status sosial pekerja yang berbeda pada hal ini bukan menjadi penghalang tetapi menjadi ujung tombak dalam kesuksesan pembangunan infrastruktur.

Kesuksesan dalam pengembangan luas potensial daerah irigasi rawa dengan pembangunan infrastruktur jaringan irigasi rawa menjadi salah satu target pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dampak dengan adanya pembangunan infrastruktur jaringan irigasi rawa secara langsung diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat dan petani. Kontribusi masyarakat secara langsung dilakukan dengan menjadi tenaga kerja dalam pelaksanaan konstruksi jaringan irigasi rawa.

Hasil pembangunan jaringan irigasi rawa yang optimal baik secara kuantitas dan kualitas dapat meningkatkan hasil produktivitas padi bagi petani. Peningkatan hasil produktivitas padi diharapkan juga dapat meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat. Produktivitas padi dengan luas potensial 165 ribu ha menjadi target Pemerintah untuk dapat menciptakan lumbung pangan di Indonesia sehingga menjadikan Negara Indonesia menjadi negara yang tangguh dan tumbuh.

Asril Zevri, Pemenang Favorit Lomba Karya Tulis PUPR Kategori PUPR

(mul/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT