Kolom

Bocah yang Bercita-Cita Menjadi Kucing

Erin Cipta - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 14:00 WIB
His name could be garfield
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Jérémy Stenuit
Jakarta -

Suatu hari saat anak saya masih duduk di bangku TK, pernah ia pulang sekolah dengan wajah gusar. Saya yang menyambutnya dengan pelukan tak membuat wajahnya berubah. Tapi seekor kucing yang sedang tidur santai di atas keset justru berhasil menerbitkan senyuman lebar di wajah mungilnya. Padahal kucing itu tidak peduli padanya.

Mumpung anaknya sudah senyum, saya pun segera menyapanya. Sesuai dengan panduan parenting Elly Risman Musa, psikolog spesialis pengasuhan anak yang juga menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Yayasan Kita dan Buah Hati, maka hal pertama yang saya tanyakan pada anak ketika pulang sekolah, "Bagaimana di sekolah tadi, Nak? Menyenangkan, bukan?"

Nahas, justru pertanyaan itu yang malah membuatnya gusar kembali.

"Ada apa, De?" Saya menanyainya dengan suara lembut, masih sesuai panduan parenting Elly Risman.

"Kata ibu guru, Ade nggak boleh punya cita-cita," sungutnya.

"Masak sih? Bukannya anak sekolah itu selalu diajari untuk punya cita-cita?"

"Iya. Tapi hanya boleh jadi polisi, dokter, insinyur, pilot...yang gitu-gitu deh."

"Memangnya Ade bercita-cita jadi apa?"

"Cita-cita Ade mau jadi kucing!"

Tegas sekali anak saya mengatakan cita-citanya. Mendengar itu, saya ingin sekali tertawa. Tapi sayang anak saya benar-benar sedang serius. Sedangkan menurut panduan parenting, orangtua dilarang menertawakan pendapat anak. Saya harus menahan diri.

Saat itu saya rasa benar-benar harus introspeksi diri tentang bagaimana cara saya mengasuh anak. Bagaimana bisa anak saya nyeleneh begitu rupa. Padahal segala tulisan dan buku parenting sudah saya lahap banyak-banyak.

***

Lambat laun anak saya paham dengan konsep cita-cita. Tiap kali ditanya, ia tak lagi dengan tegas menjawab "jadi kucing". Bahkan sesungguhnya ia tak pernah sekali pun menjawab pertanyaan tentang cita-cita dengan jawaban yang tegas. Anak saya selalu ragu ingin menjadi apa ia kelak saat dewasa.

Sayangnya saya belum menemukan panduan parenting dari Elly Risman yang benar-benar mengajari tentang bagaimana caranya meyakinkan anak dengan sebuah cita-cita. Pada tiap catatan, saya hanya membaca bahwa anak sebaiknya dibebaskan dalam memilihnya.

Makin bingunglah saya dengan metode parenting saya sendiri. Saya tidak bisa memaksa, dan anak tidak bisa meyakini pilihannya sendiri. Maka kami putuskan untuk tidak terlalu ambil pusing dengan cita-cita. Pokoknya anak saya sekolah dengan gembira, dan saya berusaha mengakomodasi kebutuhan pendidikannya sebaik mungkin.

***

Sampai akhirnya kehidupan kami jungkir balik sejak pandemi Covid-19 datang. Hampir semuanya berubah. Hanya sedikit yang masih berjalan seperti sebelum-sebelumnya. Satu dari yang sedikit itu adalah kehidupan kucing-kucing kami.

Kucing-kucing di rumah ini seolah tidak terpengaruh dengan perubahan aktivitas kami yang jadi lebih banyak di rumah, atau dapur kami yang lebih sering berantakan. Mereka tetap saja bermain dan tidur sepanjang hari setelah kenyang makan. Sungguh terlihat bahagia sekali.

Stabilnya kondisi kucing-kucing itu membuat saya mengamati perkara-perkara yang berkaitan dengan kucing. Sejak pandemi datang, di kota saya muncul beberapa pet shop baru. Toko yang menurut deskripsinya adalah menyediakan kebutuhan hewan piaraan—apa pun itu, nyatanya didominasi oleh barang-barang kebutuhan kucing. Artinya, makin banyak orang yang memelihara kucing di rumah.

Dari dulu saya rutin memeriksakan kucing-kucing ke dokter hewan. Dulu praktik dokter hewan sepi, tapi sekarang, tiap kali saya berkunjung ke sana, selalu saja ada antrean yang lumayan banyak. Mereka yang antre itu didominasi oleh para pemelihara kucing. Dokter hewan langganan yang sebenarnya juga mengurusi kawin suntik sapi dan ternak lain di Puskeswan, di klinik praktik pribadinya laris manis diantre oleh pasien kucing.

Gerakan street feeding kucing-kucing pasar dan jalanan yang sudah sejak dulu dilakukan oleh cat lover, sekarang saya lihat makin banyak dikakukan oleh siapa saja. Donatur untuk gerakan itu juga tidak main-main. Kucing liar tidak lagi hanya dilempari sisa-sisa tulang ikan, tapi juga disediakan dry food dan wet food yang lebih bernutrisi. Belum lagi gerakan TNR (Trap, Neuter, and Release) dari aktivis pro-steril yang bikin kucing-kucing liar itu sehat dan sejahtera.

Setidaknya itulah yang saya lihat di berbagai group pecinta kucing di media sosial yang juga saya ikuti. Di internet, terutama di YouTube dan Instagram, edukasi dunia perkucingan ini juga sangat masif beberapa tahun belakangan.

Tengoklah kanal Kucing Om Wepe milik seorang cat lover bernama Willy Priyoko. Video perdananya tentang kucing diunggah dua tahun lalu. Konten-kontennya seputar tips perawatan kucing piaraan. Empat kucingnya, yaitu Pito, Molo, Leon, dan Cimoy menjadi bintang utama di setiap video. Belakangan bertambah satu kucing domestik yang ia rescue bernama Rumi. Makanan, mainan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan mereka benar-benar dilakukan dengan sangat baik.

Kucing-kucing itu terlihat sangat bahagia dan sejahtera. Jumlah subscriber channel tersebut sekarang hampir setengah juta. View setiap vidoenya juga puluhan ribu. Tentu saja channel itu sudah monetized.

Untuk rekomendasi kanal kucing dari luar negeri, saya wakilkan pada DontStopMeowing. Kanal baru setahunan yang langsung meroket karena isinya kucing melulu. Silakan lihat sendiri betapa kucing-kucing yang membintangi setiap video itu adalah sebenar-benarnya penguasa. Sehat, sejahtera, dan cenderung menjajah pemiliknya.

***

Melihat fenomena ini, lama-lama saya berpikir, jangan-jangan anak saya dulu sudah benar dengan cita-citanya. Ia ingin kelak hidup sejahtera. Kerjaannya makan, tidur, dan bermain saja. Biarpun menyebalkan, tapi tetap disayang. Dan nalar bocah yang dimilikinya hanya sampai pada kehidupan kucing-kucing yang tiap hari dilihatnya di rumah kami. Jawaban "menjadi kucing" itulah yang langsung terpikir untuk ia berikan saat gurunya bertanya.

Saat pandemi seperti sekarang, sebuah profesi sangat keren yang dulu menjadi cita-cita banyak anak, yaitu menjadi pilot, bahkan bisa terjungkal. Begitu banyak profesi yang sekarang sulit sejahtera. Jadi ketika kelak ada anak lain yang juga punya cita-cita menjadi kucing, tentu tidak ada salahnya, bukan?

Erin Cipta ibu dua anak, pembuat ramuan dari madu dan rempah, tinggal di Cilacap

(mmu/mmu)