Tanda Tanya soal Rusia-China saat Iran Dibombardir Israel-AS

Tanda Tanya soal Rusia-China saat Iran Dibombardir Israel-AS

Haris Fadhil - detikNews
Rabu, 04 Mar 2026 08:18 WIB
Tanda Tanya soal Rusia-China saat Iran Dibombardir Israel-AS
Ledakan di Iran akibat serangan Israel dan AS (Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran hingga menyebabkan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei, gugur. Kini, sebagian perhatian tertuju ke dua negara sekutu Iran, yakni China dan Rusia.

Dilansir BBC, Rusia dan China memiliki hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer yang erat dengan Iran. Serangan terbaru AS dan Israel seolah menjadi ujian seberapa jauh kedua negara bersedia memberikan dukungan ke Iran.

Sikap Rusia

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, Moskow telah memberikan pernyataan keras terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Namun, dukungan konkret tetap terbatas.

Sikap itu mencerminkan kemarahan terhadap aksi AS dan Israel sekaligus solidaritas dengan Teheran, sambil berhati-hati agar tidak terseret langsung ke dalam perang.

ADVERTISEMENT

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan 'kekecewaan mendalam' bahwa Washington dan Teheran telah melakukan perundingan, tapi situasi justru 'memburuk menjadi agresi terbuka'.

Dia mengatakan Rusia terus menjalin kontak dengan para petinggi Iran serta negara-negara Teluk yang terdampak perang. Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam AS dan Israel yang disebut melakukan 'agresi tanpa provokasi' terhadap Iran.

Moskow juga menuding praktik pembunuhan politik dan 'perburuan' terhadap para pemimpin negara berdaulat. Pada Minggu (1/3), Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Putin menyebut peristiwa itu sebagai 'pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional'. Namun, Putin telah menghindari kritik langsung terhadap Presiden AS Donald Trump, bahkan masih menyatakan terima kasih terhadap Washington atas mediasi dengan Ukraina.

Ketika ditanya bagaimana Moskow bisa mempercayai Washington, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan Rusia 'pada dasarnya hanya mempercayai dirinya sendiri' dan akan selalu membela kepentingan nasionalnya. Kepentingan itu pula yang menjelaskan mengapa dukungan Rusia terhadap Iran lebih banyak bersifat retoris.

Padahal, sejak Rusia menginvasi Ukraina, Teheran merupakan salah satu sekutu terdekat Moskow dengan memasok drone dan membantu Rusia mencari cara menghindari rentetan sanksi Barat. Cara para petinggi Iran memerintah juga sejalan dengan visi Kremlin tentang tatanan multipolar, di mana hak negara dianggap lebih penting daripada hak asasi manusia, serta pemerintah memiliki kendali penuh di dalam negeri. Runtuhnya rezim semacam itu akan menjadi pukulan bagi model tersebut.

Meski demikian, Kremlin sudah menunjukkan tanda tidak akan terlalu jauh mempertaruhkan kepentingannya demi sekutunya, baik di Venezuela, Suriah, maupun saat perang 12 hari antara Israel dan Iran pada pertengahan tahun 2025. Rusia masih sibuk di Ukraina dan tampak enggan memberikan lebih dari sekadar dukungan diplomatik dan kerja sama teknis militer kepada Iran.

Perjanjian kemitraan strategis Rusia-Iran yang ditandatangani pada 17 Januari 2025 memang tidak sampai menjadi pakta pertahanan bersama. Moskow dan Teheran berjanji untuk berbagi informasi, menggelar latihan gabungan, serta 'menjaga keamanan regional'. Keduanya memang tidak berkomitmen saling membela jika diserang.

Meski begitu, ikatan militer dan industri kedua negara itu terus berkembang. Pada Februari, harian Financial Times melaporkan kesepakatan besar antara Rusia dan Iran dalam bidang militer.

Rusia disebut sepakat memasok sistem pertahanan udara portabel Verba senilai USD 500 juta (Rp 9,85 triliun) kepada Iran. Iran juga telah menerima pesawat latih Yak-130, helikopter serang Mi-28, dan masih menunggu jet tempur Su-35. Namun, Rusia belum juga mengirim sistem pertahanan udara Verba.

Penggunaan drone Shahed buatan Iran sempat mengubah taktik pasukan Rusia saat menginvasi Ukraina. Namun, tahun lalu Moskow dengan cepat memperluas produksi drone domestik sehingga ketergantungannya pada senjata Iran berkurang.

Bagi Moskow, Iran terlalu penting untuk dibiarkan runtuh. Tetapi, tidak cukup penting untuk diperjuangkan. Perhitungan itu bisa saja berubah, namun untuk saat ini intervensi Rusia tampaknya akan tetap terbatas pada retorika.

Sikap China

Pemerintah China juga telah mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Secara historis, Beijing memang selalu menentang strategi perubahan rezim yang dijalankan AS di berbagai belahan dunia.

Inti hubungan China dan Iran selama ini adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pelanggan energi terpentingnya.

China telah menjadi penopang utama ekonomi saat Iran bertahun-tahun digempur sanksi berat dari AS. China terus membeli minyak Iran dalam jumlah besar dengan harga diskon melalui jaringan 'ghost fleets' kapal-kapal yang didaftarkan secara palsu untuk menghindari sanksi.

Pada 2025, misalnya, China membeli lebih dari 80% minyak yang dikirim Iran. Pendapatan dari penjualan itu membantu Iran menstabilkan ekonominya dan membiayai belanja pertahanan saat negara-negara Barat menutup pintu pasar mereka.

Hubungan kedua negara semakin kokoh berkat perjanjian strategis 25 tahun yang ditandatangani pada 2021. Kesepakatan itu menjanjikan investasi ratusan miliar dolar dari China untuk infrastruktur dan telekomunikasi Iran.

Pendekatan China terhadap ketegangan Iran-Israel dan Iran-AS merupakan strategi menahan diri yang penuh perhitungan. Dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran pada musim panas 2025, Beijing secara konsisten menyerukan 'menahan diri' sambil menyalahkan 'campur tangan eksternal' yang merupakan sindiran jelas terhadap kebijakan AS.

China telah berperan sebagai penyokong diplomatik bagi Teheran dengan menggunakan hak veto atau ancaman veto untuk melemahkan resolusi PBB. Namun, Beijing tidak pernah menawarkan intervensi militer langsung.

Strategi China selalu bertujuan membuat AS tetap terjebak di Timur Tengah, tanpa memicu keruntuhan total kawasan yang bisa melambungkan harga minyak dunia. Bagi China, munculnya rezim pro-Barat di Teheran akan menjadi kekalahan geopolitik besar.

Iran bukan hanya pemasok energi, tetapi juga representasi politik yang menjadi penyeimbang signifikan terhadap pengaruh AS di kawasan. Jika Republik Islam Iran runtuh, maka kredibilitas mekanisme multilateral yang selama ini coba diperkuat Moskow dan Beijing juga akan runtuh.

Tanpa invasi penuh AS-Israel ke Iran, struktur politik dan militer di negara itu kemungkinan besar masih akan bertahan. China diprediksi akan memainkan 'strategi jangka panjang', yaitu berusaha menjalin hubungan baik dengan siapa pun yang kelak menggantikan posisi Khamenei sebagai pemimpin Iran. Sementara itu, Rusia akan mencari peluangnya sendiri.

Tonton juga video "Rusia-China Kecam Serangan ke Iran: Langgar Hukum Internasional"

Halaman 2 dari 5
(haf/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads