Kolom

Menjaga Wilayah Pulau-Pulau Kecil dari Lonjakan Pandemi

Wellem Anselmus Teniwut - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 11:43 WIB
Foto aerial Pulau Sebaru Kecil di Kepulauan Seribu, Jakarta, Senin (26/2/2020). Pulau tersebut akan menjadi lokasi observasi 188 WNI ABK World Dream suspect virus corona. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama.
Foto ilustrasi: Akbar Nugroho Gumay/Antara
Jakarta -

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kemampuan melaut yang sangat mumpuni. Secara ilmiah baik melalui hasil kajian maupun penggunaan teknologi satelit penginderaan jauh terbukti bahwa negara ini adalah wilayah kepulauan. Karakterisitik kepulauan ini menandakan bahwa Indonesia juga berpotensi memiliki sumber daya perikanan dan kelautan yang besar.

Ketika mendengar kata kepulauan, bayangan yang muncul dalam pikiran adalah wilayah dengan banyak pulau tersebar dan dihubungkan dengan laut. Karakter ini sangat berpotensi menghadirkan pemandangan alam bahari yang sangat indah, hamparan pantai yang indah, laut yang biru dan jernih dengan pilihan yang sangat banyak dan beragam. Sekali lagi Indonesia memiliki ini. Banyak sekali review dan testimoni mengenai betapa indahnya Indonesia.

Indonesia secara umum terdiri dari 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil yang terhuni dan tidak terhuni. Hingga saat ini pulau yang memiliki perkembangan sangat besar dan setara dengan wilayah besar dan maju lainnya di dunia adalah Pulau Jawa. Pulau Sumatra dan Sulawesi berada pada level berikutnya, dilanjutkan oleh Pulau Kalimantan dan diikuti Pulau Papua. Untuk pulau-pulau kecil lainnya perkembangan wilayah berada 4 sampai 5 langkah di bawah perkembangan di Pulau Sumatra dan Sulawesi.

Seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi dan karakter yang beragam; ada wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah tetapi pengembangan yang lebih lambat dibanding daerah lain. Selain karena faktor pusat pemerintahan dan administrasi negara, faktor pemerataan infrastruktur terkait perdagangan juga terbatas dan sangat tidak merata.

Pulau Jawa memiliki kelengkapan infrastruktur yang sangat lengkap. Bahkan ada ungkapan di orang daerah kepulauan bahwa "jika ingin kayak harus merantau ke Jawa", "jika ingin sehat harus berobat ke Jawa", dan lainnya.

Pulau Jawa juga memiliki jumlah penduduk yang paling banyak di negara ini. Kombinasi pusat ekonomi dan jumlah penduduk membuat jumlah uang dan intensitas perdagangan di Pulau Jawa sangat tinggi. Pulau Jawa juga merupakan tempat kunjungan orang asing ke Indonesia yang paling tinggi. Seluruh kondisi eksisting ini membuat Pulau Jawa idealnya menjadi crown jewel dari Indonesia untuk urusan apapun.

Namun demikian, pada masa pandemi Covid-19 ini, Pulau Jawa menjadi wilayah Indonesia yang paling keras terpapar. Mobilitas penduduk, konektivitas dari dan ke luar negeri, serta padatnya penduduk merupakan faktor-faktor penyebab kerasnya pukulan yang diterima pada masa pandemi ini. Menjadi pilihan yang sulit bagi Pemerintah Pusat untuk melakukan pembatasan yang ketat.

Selain biaya yang harus dikeluarkan pemerintah juga potensi hilangnya pendapatan negara dan kerugian ekonomi menjadi hambatan utama. Sejak tahun 2020, pemerintah pusat tidak pernah melalukan lockdown seperti yang dilakukan oleh negara lain dengan alasan di atas. Akibatnya hingga saat ini, Indonesia belum keluar dari pandemi ini.

Berdasarkan hierarki pesatnya pembangunan pulau-pulau Indonesia, maka setelah Pulau Jawa, Pulau Sumatra dan Sulawesi menjadi pulau-pulau selanjutnya yang paling berat terpapar, diikuti oleh Pulau Kalimantan dan Pulau Papua, selanjutnya oleh pulau-pulau kecil yang merasakan dampak pendemi ini.

Besar atau kecilnya angka empiris dampak pandemi masih dalam perdebatan, namun menjadi kesepakatan bersama adalah pandemi sangat dirasakan oleh pulau yang paling maju hingga ke pulau yang sangat terbelakang dalam pembangunan dan kegiatan ekonomi.

Saat ini Indonesia memasuki gelombang kedua yang disebabkan oleh munculnya varian baru dari Covid-19 yang dikenal dengan varian Delta. Adanya varian ini menghadirkan tantangan yang sangat berbeda bagi Indonesia.

Adanya kejenuhan yang dirasakan masyarakat, keengganan untuk menerima vaksin, adanya bagian masyarakat yang tidak percaya Covid-19 dan ikut mempengaruhi masyarakat lain ditambah dengan kondisi eksisting yang telah ada sebelumnya membuat saat ini faskes di Indonesia secara khusus di Pulau Jawa berada pada ambang kolaps akibat tinggi kasus positif Covid-19.

Kemampuan penularan dari varian Delta sangat tinggi dan cepat, ditambah dengan cakupan tingkat penularan ke seluruh jenjang umur baik anak-anak hingga orang dewasa tidak seperti pada Covid-19 di tahun 2020 membuat gelombang kedua di tahun 2021 ini lebih membahayakan dibandingkan pada gelombang pertama.

Kondisi ini akan sangat membahayakan ketika varian ini sampai pada wilayah pulau-pulau kecil dengan faskes yang sangat super terbatas. Dengan kondisi Covid-19 pada pulau besar dan maju di Indonesia yang hampir tidak tertangani saat ini, maka pulau-pulau kecil yang masih menikmati kondisi semi normal akan berada pada potensi darurat yang sangat membahayakan.

Secara pembangunan wilayah pulau-pulau kecil masih terbatas. Kondisi dan fasilitas infrastruktur transportasi yang terbatas serta jarak yang jauh dari pusat negara dan pulau yang maju di Indonesia. Untuk pertama kalinya wilayah pulau-pulau kecil mendapat keuntungan akibat kondisi geografis ini pada pandemi ini. Namun pada serangan varian baru ini akan berpotensi menjadi sitting duck ketika varian ini sampai ke wilayah pulau-pulau kecil. Hal ini dikarenakan ketika masih seperti saat ini di Pulau Jawa, maka wilayah pulau-pulau kecil wajib 'menjaga' diri mereka sendiri.

Dilema ini membuat peran pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan bahwa varian Delta ini tidak sampai masuk ke wilayah pulau-pulau kecil. Mereka juga wajib menyiapkan strategi mitigasi ketika varian ini masuk dengan skenario ketika faskes tidak lagi mampu menangani kondisi yang ada seperti di Pulau Jawa.

Kebijakan yang kontra produktif bagi wilayah pulau-pulau kecil seperti membuka wisata, mencanangkan "work from...", menjadi sangat berpotensi menyebarkan varian Delta ini ke seluruh wilayah Indonesia yang notabene memiliki faskes yang jauh lebih rendah dari di Pulau Jawa dan pulau besar lainnya. Ekonomi penting, tetapi jika mengorbankan jiwa masyarakat maka hal ini sangat bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

(mmu/mmu)