Kolom

Kesehatan Mental Nakes di Masa Lonjakan Covid-19

Lya Fahmi - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 15:21 WIB
young Asian doctor, dressed in anti-virus clothing, sits on the floor tired and uses a smartphone to make a video call to his family. corona virus concept.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Apa yang akan saya ceritakan ini adalah hal yang belum lama terjadi. Saya membaca kabar duka di grup WhatsApp khusus tracer Covid-19 di tempat saya bekerja. Salah seorang petugas mengabarkan bahwa pasien positif Covid-19 yang sempat kami trace sehari sebelumnya meninggal dunia. Innalillahi wa innailahi rajiuun.

Saya seperti diselimuti perasaan yang aneh. Saya tak mengenal pasien yang meninggal tersebut; saya tak pernah kontak dengannya karena bukan saya yang melakukan tracing terhadapnya, tapi kabar kematiannya mempengaruhi saya. Hanya sekian menit setelah saya menuliskan ungkapan duka cita, saya menangis terisak-isak. Saya merasa sedih atas kabar kematian itu. Dan, yang paling aneh adalah seperti ada perasaan gagal yang menelusup. Perasaan gagal yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya, tapi ada.

Sebelum kasus Covid-19 meningkat secara signifikan di Kabupaten Sleman, saya bertugas memberikan layanan kesehatan mental berupa dukungan psikologis bagi pasien Covid-19. Selama memberikan dukungan psikologis bagi pasien Covid-19, saya selalu berdoa agar pasien-pasien yang pernah berkonsultasi dengan saya tak ada yang sampai meninggal dunia karena virus corona. Jujur saja, kematian pasien, biasanya karena bunuh diri, adalah hal yang paling memukul seorang psikolog.

Jika boleh meminta, saya berharap tidak pernah kehilangan pasien dengan cara itu. Dan, ketika pandemi melanda, permintaan saya bertambah satu, yaitu berharap tak menemukan pasien saya meninggal karena virus corona.

Namun, hal yang sama sekali tak saya pikirkan justru terjadi saat saya diperbantukan menjadi petugas tracer. Lonjakan kasus dalam jumlah yang mengerikan membuat saya tak hanya bertugas memberikan layanan psikologi, tapi juga turut menjalankan fungsi tracing. Tak perlu sampai kehilangan pasien yang pernah saya berikan konseling, ternyata kehilangan pasien yang sempat di-trace saja sudah membuat hati saya terluka.

Apa yang saya alami membuat saya teringat pada apa yang pernah diceritakan oleh dr. Corona Rintawan di dinding Facebook-nya. Dr. Corona bercerita bahwa ia sudah mulai menerapkan triase bencana dalam menangani pasien Covid-19 di rumah sakit tempatnya bekerja. Dalam situasi normal, tenaga kesehatan akan mengutamakan pasien dengan kondisi terparah. Tapi dalam situasi bencana, tenaga kesehatan akan memilih pasien yang kemungkinan selamatnya paling besar. Itulah yang dilakukan oleh dr. Corona beberapa waktu lalu, memilih satu di antara tiga pasien untuk diselamatkan dan pasrah dengan dua pasien lain yang akhirnya memang meninggal dunia.

Saya tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi dr. Corona pada saat itu. Satu-satunya yang bisa saya bayangkan hanyalah membuat keputusan semacam itu pastinya memakan energi psikologis yang sangat besar. Butuh mental yang sangat kuat untuk sanggup mengeksekusinya. Dan, amat sangat mengerikan apabila keputusan-keputusan seperti itu harus diambil kembali di waktu-waktu ke depan. Jika hal semacam itu terus menerus terjadi, saya tidak tahu guncangan psikologis dan moral injury seperti apa yang akan terjadi.

Dr. Corona sudah pasti bukan satu-satunya tenaga kesehatan yang mengalami pengalaman tak menyenangkan selama pandemi. Nissa, salah seorang perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di Jawa Tengah juga kerap mencatatkan pengalamannya bekerja selama masa pandemi. Terakhir, Nissa hanya menuliskan bahwa ia dan teman-teman perawatnya sedang tak baik-baik saja. Ia dan teman-temannya mulai merasakan burn out di tengah-tengah beban kerja berat yang seolah-olah tak ada ujung ini.

Apa yang diungkapkan oleh Nissa sangat bisa dimengerti. Lonjakan kasus Covid-19 meningkatkan stressor bagi tenaga kesehatan. Beban kerja yang semakin berat, jam kerja yang panjang, dan ketidakpastian kapan semua ini akan berakhir sungguh mengancam kesehatan mental tenaga kesehatan. Kesehatan mental yang terganggu jelas akan mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan mereka, entah itu cara pandang mereka terhadap diri mereka sendiri, relasi dengan keluarga, ataupun relasi dengan sesama teman kerja. Dan kesemuanya itu, berujung pada turunnya performa dan produktivitas kerja.

Siapa yang akan langsung terdampak oleh menurunnya status kesehatan mental para tenaga kesehatan? Ya, kita semua para penerima layanan kesehatan. Ambruknya tenaga kesehatan di garis depan adalah kerugian bagi kita semua.

Mendesak

Isu kesehatan mental tenaga kesehatan merupakan isu yang vital dan mendesak untuk diperhatikan. Dengan tekanan yang begitu besar, tenaga kesehatan membutuhkan dukungan kesehatan mental yang lebih besar dari hari-hari biasa mereka bekerja. Namun sayangnya, kesehatan mental tenaga kesehatan, seperti kesehatan mental pada umumnya, adalah aspek yang terabaikan dalam kehidupan sehari-hari yang paling normal sekalipun.

Sampai saat ini, sistem layanan kesehatan mental di negara kita masih jauh dari kata memadai. Dengan sistem layanan kesehatan mental yang apa adanya, dapat dibayangkan betapa gagapnya kita dalam melindungi tenaga kesehatan dari ancaman gangguan kesehatan mental yang benar-benar sudah ada di depan mata.

Kesehatan mental adalah urusan semua orang. Hal yang jarang disadari adalah kesehatan mental setiap orang saling terkait satu sama lain. Kita saling mempengaruhi tanpa kita sadari. Kesehatan mental seorang anak dipengaruhi oleh kesehatan mental orangtuanya, kesehatan mental orangtua dipengaruhi oleh kesehatan mental orang-orang di lingkungan kerjanya, dan kesehatan mental orang-orang di lingkungan kerja dipengaruhi oleh aturan dan kebijakan yang mendukung mereka. Itulah yang disebut oleh Urie Bronfenbrenner bagaimana ideologi dan kebijakan negara bahkan dapat membawa pengaruh hingga level individu.

Mengingat kita saling terkait, maka artinya kita juga dapat saling mendukung. Dukungan sosial adalah salah satu yang dapat diberikan masyarakat awam kepada tenaga kesehatan. Dukungan sosial tersebut dapat berupa apresiasi dan perhatian. Berikan apresiasi dan perhatian kita pada tenaga kesehatan yang kita kenal, sungguh hal itu dapat menjadi penghiburan yang menguatkan. Sebaliknya, tuduhan-tuduhan bahwa tenaga kesehatan bermain akal-akalan dengan meng-covid-kan pasien sungguh kontra-produktif bagi kesehatan mental tenaga kesehatan dan penanganan wabah Covid-19 secara umum.

Dukungan kesehatan mental kepada tenaga kesehatan juga wajib menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan di fasilitas kesehatan. Sovold, dkk (2021) menyebutkan bahwa kesehatan mental tenaga kesehatan sulit diwujudkan tanpa memperhatikan lingkungan dan budaya kerja yang positif. Melawan stigma dan membukakan akses layanan kesehatan mental bagi tenaga kesehatan juga akan membantu meningkatkan kesehatan mental. Tujuan jangka panjangnya agar tenaga kesehatan memiliki keterampilan dalam merawat kesehatan mental mereka sendiri (self-care). Seperti yang telah disinggung sebelumnya, berinvestasi pada kesehatan mental tenaga kesehatan berarti berinvestasi pada performa dan produktivitas kerja mereka.

Terakhir, upaya mendukung kesehatan mental tenaga kesehatan di segala lini tidak akan ada artinya tanpa kebijakan pemerintah yang berpihak pada kesehatan mental tenaga kesehatan itu sendiri. Di masa pandemi, kebijakan yang berpihak kepada kesehatan mental tenaga kesehatan adalah kebijakan yang tegas terhadap pengendalian penularan. Stressor tenaga kesehatan di masa pandemi berkaitan langsung dengan tingkat penularan Covid-19 di tengah-tengah masyarakat.

Benar bahwa masyarakat harus taat protokol kesehatan untuk membantu mengurangi beban tenaga kesehatan. Namun, tugas pemerintahlah untuk memastikan masyarakat benar-benar patuh terhadap protokol kesehatan dengan aturan yang konsekuen. Pada saat ini, rasanya teramat zalim membiarkan tenaga kesehatan berjuang dalam ketegangan yang panjang.

Lya Fahmi psikolog di Sleman

(mmu/mmu)