Kolom

Menahan Laju Pandemi

Kamaluddin Latief - detikNews
Jumat, 02 Jul 2021 15:06 WIB
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19.
Tes, tracing atau pelacakan, dan isolasi merupakan satu kesatuan (Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -
Rekor kasus harian Covid-19 terus terjadi di Tanah Air. Dengan penambahan rata-rata 20 ribu kasus per hari pekan ini, Indonesia menempati urutan ke-5 negara penyumbang kasus Covid tertinggi. Hingga saat ini sudah ada 2.178.272 kasus dan 58.491 kematian akibat wabah corona di Indonesia. Tingginya mobilitas warga ditambah dengan adanya varian baru dari SARS-CoV-2 membuat positivity rate kita semakin tak terkendali di atas 20%. Jauh di atas batas maksimal WHO yakni 5%.

Kondisi pandemi di Indonesia yang sudah melewati satu tahun semakin mencemaskan. Fasilitas kesehatan kewalahan, tenaga kesehatan kelelahan, terjadi kesulitan mendapatkan ruang rawat, ICU, oksigen dan ventilator terutama di Pulau Jawa. Tingkat hunian ICU dan ruang isolasi di DKI Jakarta akhir Juni ini bahkan >90%.

Di tengah situasi tersebut dan lemahnya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan, sistem kesehatan terutama surveilans kita kesulitan menghadapi tsunami pandemi. Tes, tracing atau pelacakan, dan isolasi yang merupakan satu kesatuan dalam surveilans tidak dapat bekerja maksimal menangkap kasus beserta kontaknya. Akibatnya fenomena gunung es Covid-19 semakin mengkhawatirkan. Ribuan kasus terus tersembunyi, melakukan penyebaran tanpa terdeteksi, membuat kita gagal menghalau persoalan.

Permasalahan di Indonesia


Dilansir dari ourworldindata.org, jumlah tes kita saat ini 0.30 per 1000 populasi, di bawah India dan Kolumbia (>1 per 1000 populasi), Argentina dan Afrika Selatan (1 per 1000 populasi), yang juga merupakan kelompok negara dengan kasus harian tertinggi.

Selain testing, pelacakan juga mengalami kendala. Saat ini tenaga pelacak atau tracer di Indonesia berkisar 10 ribu orang. Jumlah ini tidak sampai 20% dari kebutuhan tracer di Indonesia yang idealnya 80 ribu tracer.

Pada Juni 2020 lalu Reuters melaporkan hampir 50% pasien suspek dan terkonfirmasi Covid di Indonesia tidak dilakukan pelacakan. Data di salah satu kota di Jabodetabek pada 2021 menunjukkan bahwa rasio penelusuran kasus dengan kontak masih berada diangka 1:3. Artinya, dari satu orang terkonfirmasi positif, hanya 3 kontak eratnya yang dilacak. Ini jauh di bawah rasio tracing yang disarankan CDC yakni 1:10.

Hingga saat ini masalah tracing di tingkat nasional juga masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Tracing tidak hanya bertujuan mengidentifikasi aktivitas dan riwayat kontak seseorang, namun juga untuk mempelajari transmisi, karakteristik penyakit, genomic sequencing, dan fatality-nya. Mapping penyebaran virus di berbagai daerah, terutama varian-varian baru bisa segera diketahui. Kita bisa mengidentifikasi kota atau kabupaten yang variannya lebih menularkan atau mematikan.

Karakteristik kasus Covid-19 yang sebagian besar tidak bergejala atau pola penularan yang tinggi sebelum gejala muncul, membuat penelusuran kasus menjadi tidak mudah. Ini juga menekankan perlunya contact tracing (pelacakan kontak) yang ideal.

Publikasi Lancet 2020 pada 40.162 partisipan di Inggris menunjukkan bahwa kombinasi contact tracing, isolasi, dan physical distancing adalah yang terbaik dalam pengendalian transmisi SARS Cov-2. Hasil ini konsisten dengan beberapa studi lain dan laporan dari berbagai negara. Kemampuan Korea membendung penularan sesudah kasus Daegu dan keberhasilan Jepang menekan jumlah kasus tanpa lockdown adalah contoh efektifitas tracing.

Indonesia belum mampu mencapai standar contact tracing Covid-19 akibat keterbatasan jumlah dan kualitas sumber daya manusia, teknologi, guideline, training, serta kondisi geografis. Stigma negatif terhadap penderita dan misinformasi di masyarakat membuat upaya pelacakan semakin berat. Berbagai fakta terkait dengan tracing harus dibenahi secara mendasar.

Tenaga surveilans di puskesmas bukan hanya terbatas, namun sudah beberapa tahun tidak dicerahkan. Mereka bekerja dengan pengetahuan dan tata laksana yang kurang memadai. Jika tenaga surveilans puskesmas terbatas, proses tracing sulit mencapai target. Kementerian Kesehatan pernah melakukan rekrutmen relawan sejumlah 8000 yang disebar ke beberapa provinsi, namun jumlah tersebut jauh dari kebutuhan.

Bukan hanya soal kuantitas, kualitas tracing juga menjadi catatan. Kualitas isian form Penyelidikan Epidemiologi (PE) dalam pelacakan tidak terstandar. Pada beberapa kasus, formulir PE kosong atau tidak lengkap karena diisi sendiri oleh keluarga penderita tanpa penjelasan detail dari petugas tentang tata cara pengisian. Keterbatasan dan kemampuan pelacakan lewat telepon serta penggunaan aplikasi juga menjadi masalah tersendiri yang harus diperbaiki.

Belajar dari Negara Lain


Beberapa negara secara efektif menggunakan metode contact tracing guna menahan laju kasus dan kematian akibat Covid-19. Jepang memiliki sistem surveilans sejak lama di bawah 469 public health centre, mampu menggerakkan 36.327 tracer-nya yang hampir mencapai 30 per 100 ribu penduduk, mendekati standar WHO. Tracing kluster menjadi kunci negara tersebut menahan laju penyebaran tanpa lockdown.

Taiwan menggunakan teknologi dalam melacak kasus yang dicurigai, melakukan tes dan karantina secara efektif, lalu memaksimalkan pencarian kontak dari kasus dan mencegah penyebaran lanjutan. Di Vietnam, kasus awal didapat dari pelacakan yang cermat, karantina, dan tes yang ketat. Contact tracing menjadi petunjuk bagi petugas untuk menelusuri kasus dan semua kontaknya sebelum terjadi penyebaran lebih lanjut.

Korea Selatan menggunakan teknologi dan teknik analisis untuk mengidentifikasi kontak dari CCTV, telepon seluler, jejak kartu kredit, ditambah dengan pengujian massal melalui drive through. Sistem yang sudah kuat dan tes yang agresif adalah keunggulan Singapura. Negara tersebut termasuk yang pertama meluncurkan aplikasi pelacakan kontak Covid-19, Trace Together. Sejak diluncurkan Maret 2020, aplikasi sudah diunduh lebih dari 50% populasi. Hal ini menambah kecepatan pelacakan manual yang sudah berjalan baik.

Lebih Serius


Jauh sebelum penggunaan teknologi seperti saat ini, sistem dan tenaga pelacak di Jepang, Taiwan, Vietnam, Korea, dan Singapura sudah bekerja dalam mendeteksi penyakit menular. Alangkah baiknya jika kita lebih serius memperbaiki sistem pelacakan dengan mengambil pelajaran dari banyak negara yang berhasil, lalu melakukan replikasi dengan memperhatikan konteks lokal. Banyak yang harus dibenahi; jumlah tenaga, panduan, pelatihan, regulasi, hingga koordinasi dan komunikasi.

Perjalanan pandemi masih panjang membentang. Kita perlu pertahanan, bukan hanya untuk Covid-19 beserta varian barunya, namun juga penyakit menular lain, untuk sekarang dan masa depan.

Kamaluddin Latief epidemiolog, peneliti senior Universitas Indonesia

(mmu/mmu)