Kolom

HP "Jadul" dan Krisis Seperempat Abad

Eka Khasanah - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 11:30 WIB
Frustrated thoughtful millennial woman sitting on cozy sofa at home. Beautiful young female having doubts, thinking about life, having problems, bored. Psychological therapy, personality crisis concept
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -
Quarter life crisis (QLC) atau krisis seperempat abad menjadi krisis yang dialami oleh seseorang saat usianya menginjak 18-30 tahun. Krisis yang membawa rasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan cemas akan kehidupannya di masa yang akan datang. Pada umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah percintaan, relasi, pekerjaan, serta kehidupan sosial. Selain itu, kerap kali orang yang mengalami QLC mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia, hingga merasa bahwa dirinya tidak memiliki tujuan hidup (alodokter.com).

Dari hasil penelitian yang dilakukan Robinson (dalam Angeline, 2020) dijelaskan bahwa terdapat 86% dari 1.100 anak muda mengaku merasa tertekan dengan tuntutan untuk sukses dalam hubungan percintaan, kondisi keuangan, serta mengenai pekerjaan yang harus diraihnya sebelum 30 tahun. QLC akan mengganggu relasi yang kurang baik dengan orang sekitar, bahkan mendorong seseorang yang mengalami depresi menjadi lebih nekat untuk melakukan bunuh diri karena merasa putus asa.

Ada beberapa fase yang akan dialami anak muda ketika mengalami QLC. Robinson (dalam Angeline, 2020) mengungkapkan bahwa QLC yang dialami seseorang selama kurang lebih dua tahun dapat dijadikan sebagai pengalaman hidup yang positif. Fase pertama, seseorang merasa telah terperangkap dalam masalah besar. Fase kedua, ia akan tahu permasalahan yang terjadi dan berupaya untuk keluar dai zona tersebut. Fase ketiga, ia akan memulai dan menata kembali hidupnya dengan strategi yang lebih baik dengan berdasarkan pengalaman di fase awal. Fase terakhir, orang mengalami QLC akan memperkuat hidupnya.

Media Sosial
Media sosial kerap kali menjadi ruang untuk membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain. Misalnya unggahan foto orang lain yang sedang jalan-jalan ke suatu tempat atau foto memamerkan kisah percintaan, sedangkan kita masih biasa saja dan belum melakukan hal yang dianggap berguna. Perasaan ini akan menumbuhkan kekhawatiran akan masa depan.

Di era ketika media sosial telah menjadi bagian hidup dari seseorang, akan terasa sulit untuk menghindari QLC. Oleh karena itu, ketika seseorang sadar bahwa dirinya telah mengalami QLC, mereka memilih untuk perlahan mengurangi menggunakan media sosial. Namun bagaimana dengan seseorang yang berpenghasilan dari media sosial?

Benda mati seperti smartphone dapat dikendalikan oleh manusia dengan batasan. Ketika batasan itu tidak ada, maka manusia yang akan dikendalikan oleh smartphone. Seperti yang dilakukan oleh penulis sekaligus musisi Fiersa Besari, yang memutuskan puasa media sosial selama seminggu. Karena dirinya telah merasa kehilangan momen dengan orang-orang terdekat, dan terlalu tenggelam di dunia maya.

Hasil yang cukup positif selama berpuasa media sosial dapat dirasakan. Momen komunikasi lebih sering dilakukan, karena komunikasi dengan seseorang dapat membuka cara pandang yang berbeda. Dari sanalah banyak ide untuk lebih semangat melanjutkan hidup, serta tidak melulu membandingkan diri sendiri. Dari ilustrasi tersebut, HP "jadul" atau feature phone menjadi alternatif anak muda untuk puasa media sosial.

Mengurangi Candu
HP "jadul" dengan kodratnya sebagai ponsel untuk telepon dan mengirim pesan memang dapat dipastikan akan menyulitkan. Karena bentuknya yang kecil, dan masih menggunakan keypad. Tetapi, HP jadul memiliki kegunaan dalam mengurangi candu terhadap media sosial. Dampak yang akan dirasakan adalah hubungan sosial lebih hangat, karena feature phone menggunakan keypad yang sulit untuk mengetik, akan memunculkan rasa bosan bermain ponsel. Hal itu mendorong seseorang untuk bercengkrama atau bertukar ide dengan orang lain.

Penggunaan HP "jadul" juga menghemat pengeluaran. Tidak seperti smartphone yang harus selalu terhubung internet untuk dapat mencari informasi, bermain media sosial, atau hiburan dengan menonton video yang menguras banyak paket data yang dimiliki. Meskipun menghibur, apabila terlalu sering maka akan berdampak buruk untuk kesehatan.

HP "jadul" menuntut kita untuk aktif dalam menjalankan beberapa aktivitas. Misalnya, melakukan transaksi yang dapat menggunakan m-banking dilakukan dengan mendatangi sebuah bank atau tempat yang ada mesin ATM. Belanja langsung datang ke toko, serta dapat memilih ukuran atau warna yang sesuai tanpa rasa kecewa seperti belanja di toko online.

Dapat Disembuhkan
QLC dapat disembuhkan ketika seseorang sudah melalui fase-fase yang akan menyembuhkan dirinya. Sangat wajar apabila QLC dialami oleh setiap orang. Letak pembedanya hanya pada bagaimana seseorang tersebut dapat menanggapi dan mengatasi permasalahan yang sedang dialami. Karena jika seseorang dapat melewatinya, dia akan menjadikan QLC yang pernah dialami sebagai motivasi diri, dan pengalaman berharga.

Penyembuhan pada psikiater perlu dilakukan apabila QLC yang dialami seseorang tidak dapat ditolong oleh dirinya sendiri. Proses penyembuhannya dapat dikatakan membutuhkan waktu yang cukup lama, karena bersangkutan dengan pola pikiran.

Pencapaian orang lain bukanlah cita-cita yang kita inginkan. Setiap orang telah memilih jalan hidupnya masing-masing. Sedangkan media sosial bukan alasan untuk menyakiti mental, tetapi pola pikir yang perlu perubahan.

Simak juga 'Daftar "Pasal Karet" yang Jadi Sorotan di SKB Pedoman UU ITE':

(mmu/mmu)