Jeda

Tradisi dan Kebahagiaan Anak-Anak

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 30 Mei 2021 11:53 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Belum lama ini kita dibuat ramai oleh kabar seorang selebritis yang baru saja keguguran. Sebagai sesama perempuan, saya ikut merasa sakit meski saya sendiri belum merasakan pengalaman reproduksi. Saya tidak akan membahas tentang pro-kontra netizen terhadap berita yang selalu menyorotnya. Hanya karena waktunya masih berada dalam momen Lebaran, saya ikut baper saja. Karena Lebaran, apalagi "Lebaran Ketupat", di desa saya identik hari kebahagiaan untuk anak-anak.

Di desa saya, membuat ketupat tidak pas di hari H Idul Fitri (1 Syawal) tapi seminggu kemudian. Saya dibesarkan dalam kultur yang tidak mengenal masak ketupat dan opor di hari raya Idul Fitri 1 Syawal. Seingat saya, Lebaran masak ketupat itu hanya ada di televisi. Bagi kami, yang masak ketupat di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal hanya orang-orang Jakarta. Oh ya, kami menganggap semua orang kota yang ada di televisi itu adalah orang Jakarta.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, kami biasanya masak nasi kuning beserta lauk pauknya seperti kering tempe atau tahu, serundeng, telur dadar, mie goreng. Nasi beserta lauk pauk itu diwadahi baskom yang kami sebut ambengan. Ambengan itu akan dibawa oleh kaum laki-laki untuk selamatan di masjid setelah Salat Id. Biasanya banyak anak-anak yang ikut dalam acara selamatan ini. Ada juga desa tetangga yang membuat apem di waktu hari Idul Fitri 1 syawal. Intinya kami tidak memasak ketupat opor.

Lebaran Ketupat di desa saya disebut "Bakda Kecil" atau kupatan. Lebarannya para bocah. Biasanya kami tidak hanya masak ketupat, tapi sepaket dengan lepet. Ketupat atau biasa kami sebut kupat mengandung filosofi ngaku lepat (mengaku bersalah) dan lepet yang berarti disilep sing rapet (disimpan yang rapat, maksudnya aib-aib kesalahan yang sudah-sudah biarlah berlalu, tidak usah diungkit lagi karena sudah dimaafkan).

Ketupat dibuat dari beras putih, dengan harapan akan kembali suci, sedangkan lepet dibuat dari beras ketan yang lengket, maksudnya agar persaudaraan semakin erat, tidak crah bubrah (bercerai berai) lagi. Di Klaten, lepet juga disebut legondo yang mempunyai filosofi lega ing dhadha (lega dalam hati).

Di keluarga saya, kupat dan lepet ini biasanya digantung di pintu. Tradisi ini mempunyai maksud sebagai penyambutan arwah leluhur yang konon ketika syawalan akan pulang ke rumah dan ikut bergembira merayakan bakda kecil atau kupatan. Teman saya pernah bercerita kalau di daerahnya tradisi ini lebih khusus lagi sebagai pengingat kepada bayi yang belum sempat dilahirkan dalam suatu keluarga.

Dikatakan dalam sejarah lisan bahwa bocah atau bayi yang meninggal sebelum dilahirkan atau yang dikenal sebagai trek-trekan akan kembali pulang saat Syawal untuk menjumpai keluarganya, terutama ibunya. Dikatakan bahwa ia masih memerlukan bimbingan ibunya.

Itulah mengapa, setiap keluarga yang mempunyai trek-trekan akan menggantungkan beberapa kupat matang di atas pintu rumah, sebagai simbol penyambutan. Konon, mereka para bocah akan bermain-main dengan kupat sampai batas waktu syawalan usai. Kupat dibiarkan mengering sampai bulan Syawal tahun depan.

Di keluarga saya, kupat tidak harus dibiarkan mengering sampai syawalan tahun depan. Kalau tidak habis ya rezekinya ayam. Tidak harus yang punya trek-trekan yang memasang kupat-lepet di atas pintu. Saya jadi mikir mbak seleb yang baru saja keguguran. Mungkin kalau dia ada di keluarga saya, keluarganya tidak akan sibuk membuat konten yang mengundang hujatan netizen se-Indonesia raya. Mungkin mereka akan sibuk membuat kupat-lepet yang digantung di pintu dan berdoa dan memberi penghiburan untuk kebaikan si ibu. Karena saya paham, kehilangan anak itu berat sekali rasanya.

Anak-anak di desa saya sangat akrab dengan tradisi. Selain kupat-lepet yang ada dalam tradisi bada kecil, kami juga menjumpai kupat-lepet dalam selamatan wiwit pari. Selamatan ini sebagai doa agar padi bisa tumbuh subur dan memberikan panen yang baik. Biasanya dilakukan dua kali. Pertama, ketika padi akan ditanam atau kami menyebutnya wiwit tandur; kedua, ketika padi mau dipanen.

Musim wiwit adalah musim yang membahagiakan bagi anak-anak. Mereka akan berkompetisi mencari gagakan. Gagakan ini adalah sesajen wiwit pari yang berwujud ketupat dan lepet, kembang boreh, telur rebus utuh, uang koin, alat nginang seperti sirih, gambir, injet (kapur sirih), sisir kecil, kaca kecil, merang yang dikepang seperti rambutnya perempuan, melambangkan Dewi Sri, dewi kesuburan yang diasosiasikan sebagai dewi padi.

Gagakan ini setelah dibacakan doa, memohon kepada Gusti Allah agar diberikan panen yang bagus, akan diputar keliling sawah dan ditaruh di pojokan pematang sawah. Terkadang pemilik sawah sengaja menambah jajan pasar sedikit agar anak-anak yang mengambilnya akan senang. Jadi memang tidak apa-apa persembahan itu dimakan orang, biasanya anak-anak pun sudah menunggu juru wiwit selesai melakukan ritualnya baru mereka akan mengambil gagakan itu.

Kami pun sampai hafal siapa saja yang gagakannya paling enak. Kami akan niteni kapan Pak A atau Mbah B akan menyelenggarakan ritual wiwit pari. Di situlah jiwa kompetisi kami diadu. Meski kadang satu anak yang mendapatkan gagakan, tetap saja gagakan itu akan dimakan bareng-bareng. Karena kami hanya merasa seru saja ketika menjadi pertama yang mengambil, selebihnya ya akan dimakan bersama.

Tradisi lain yang akrab pada anak-anak di desa saya adalah selamatan neptu. Semacam selamatan untuk memperingati hari kelahiran menurut hitungan pasaran Jawa. Biasanya diadakan selapan sekali tepat di hari pasaran kelahiran anak tersebut (1 lapan=35 hari). Ibu saya adalah orang yang hobi selamatan. Termasuk ketika saya sudah besar pun masih saja diselamati hari neptu saya. Alasannya biar anak-anak di sekitar rumah senang.

Biasanya jenis masakannya adalah nasi urap (ada yang menyebutnya gudhangan, kalau di desa saya menyebutnya kulup) dan telur rebus yang ditusuk cabe rawit merah utuh di atasnya. Telur itu nanti akan dipotong-potong sebagai lauk di nasi urap yang juga dibagi-bagi dalam takir kecil (daun pisang yang dibuat seperti kotak makan). Anak-anak itu nanti juga akan diberi uang receh ketika pulang.

Ada juga tradisi yang tidak dilakukan setiap orang tapi tetap menjadi kebahagiaan bagi anak-anak di desa saya. Yang pertama adalah aqiqah. Untuk keluarga yang mampu biasanya aqiqah diselenggarakan 7 hari setelah bayi dilahirkan. Kultur masyarakat desa kami yang terbiasa masak pedas dan gurih seperti sayur becek (sayur daging kambing, sapi atau ayam dengan daun kedondong) dan asem-asem daging, ketika aqiqah kami akan memasak bestik daging manis.

Selain mengandung filosofi agar anak yang dilahirkan nantinya menjadi anak yang manis baik fisik dan kelakuannya, juga agar anak-anak yang memakannya senang karena masakannya tidak pedas. Meski manis versi di desa saya tidak semanis masakan Yogya.

Tradisi yang kedua adalah mbancah. Mbancah ini tradisi ketika seseorang sudah khatam Al Quran dengan membaca juz 30 mulai dari Surat Adh Dhuha sampai dengan An Nas di depan tamu undangan dengan beberapa orang yang akan menyimaknya. Di desa saya ketika seseorang sudah pernah khatam Al Quran pada seorang guru ngaji, seperti wajib mbancah ketika dia akan sunat atau menikah. Tapi ada juga yang tidak harus menunggu mau sunatan atau menikah.

Biasanya keluarga yang mampu akan menyelenggarakan tradisi mbancah bagi anaknya tidak lama setelah dia mengkhatamkan Al Quran. Kalau tidak, ya cukup selamatan biasa saja. Mbancah memang tidak khusus diperuntukkan bagi anak-anak, tapi menjadi kebahagiaan sendiri ketika kami melihat manten mbancah. Orang yang mbancah memang akan didandani. Biasanya kalau yang akan menikah adalah malam sebelum akad keesokan harinya.

Saya sendiri hanya pernah menjadi penyimak bacaan manten mbancah, belum menjadi manten itu sendiri. Yang jelas akan ada banyak jajanan ketika ada acara bancahan, sesuatu yang dicari oleh anak-anak.

Sebagian besar anak-anak sekarang mungkin sudah tidak mengalami kebahagiaan tradisi yang sama seperti ketika saya kecil. Zaman memang berubah. Sekarang mereka sudah mempunyai tradisi mereka sendiri. Semoga mereka tidak kehilangan masa-masa bahagia ketika menjadi anak-anak. Karena menjadi dewasa ternyata mengerikan. Mikirin cicilan tiap bulan, misalnya.

Mendungan, 28 Mei 2021

Impian Nopitasari penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa, tinggal di Solo

(mmu/mmu)