Pustaka

Mencari Makna Pulang ke Rumah

Muhamad Ulinnuha - detikNews
Sabtu, 08 Mei 2021 11:42 WIB
Jalan Panjang untuk Pulang, Perjalanan Mencari Makna Pulang k
Jakarta -

Judul: Jalan Panjang untuk Pulang: Sekumpulan Tulisan Persinggahan; Penulis: Agustinus Wibowo; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2001; Tebal: x + 461 halaman

Lebaran adalah momen pulang ke tanah kelahiran yang selalu dinanti-nantikan oleh setiap perantau. Tak peduli meski larangan mudik sudah diberlakukan begitu ketat, selalu saja ada perantau yang ingin pulang ke rumah di kampung halamannya.

Hal itu membuat saya berpikir, sebenarnya apa yang membuat mereka ingin pulang? Bukankah di perantauan tak ada bedanya dengan di kampung halaman? Jika hanya ingin berjumpa, bukankah teknologi sudah bisa mempertemukan secara virtual? Jika bukan itu semua, lalu apa sebenarnya makna pulang ke rumah?

Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika saya membaca buku berjudul Jalan Panjang untuk Pulang. Ketika membaca buku ini kita akan diajak melakukan perjalanan batin sendiri, mengenal diri sendiri dan memahami makna rumah.

***

Sebagai seorang keturunan etnis Tionghoa, Agustinus Wibowo merasakan sendiri bagaimana hidup di negeri sendiri, namun dicap orang asing oleh negerinya. Bahkan, mungkin hampir semua anak-anak keturunan etnis Tionghoa pernah menjadi korban bullying, dan bahan olok-olokan oleh orang yang mengatasnamakan dirinya pribumi.

Etnis Tionghoa memang telah lama menjadi bagian dari sejarah Nusantara. Mereka datang sebagai pedagang, pengungsi, bahkan penyebar agama. Namun, mereka kerap sekali menerima perlakuan stereotip negatif dan rasisme.

Kebencian itu dikarenakan di zaman Orde Baru, Presiden Soeharto melarang segala hal yang berhubungan dengan komunisme. Dan baginya, itu termasuk segala hal yang berhubungan dengan China: bahasa China, budaya China, agama China. Karena menurutnya, China adalah sebuah negara komunis yang ditengarai diam-diam menyokong Partai Komunis Indonesia.

Tidak peduli seberapa pun orang China berusaha melebur ke dalam dunia Indonesia, mereka tetap akan dilabeli "orang asing".

Hal itulah yang membuat Agustinus gundah, merasa kehilangan identitas jati dirinya, hingga memutuskan mencari jawabannya dengan memulai perjalanannya pergi ke Negeri Tirai Bambu, mengunjungi negeri leluhurnya untuk mencari jati diri.

Di awal cerita perjalanannya, kita akan diajak mengunjungi Gunung Huangshan yang berada di selatan Provinsi Anhui. Huangshan dikenal sebagai gunung terindah di China, bahkan di seluruh muka bumi. Musafir kenamaan China, Xu Xiake dari akhir Dinasti Ming mengatakan, "Di seluruh penjuru negeri, tiada yang melebihi di Huizhou. Mendaki Huangshan, tiada lagi gunung di bawah kolong langit, cukuplah semua!"

Orang-orang menerjemahkan ungkapan itu menjadi pemeo, "Siapapun yang pernah mendaki Huangshan, tidak perlu lagi melihat gunung lain mana pun."

Batu-batuan yang besar menjulang dalam beragam bentuk yang begitu aneh, berselimut kabut menambah kecantikannya yang tiada tanding. Memikat mata, menarik perhatian setiap yang memandang, dari dekat maupun kejauhan. Huangshan telah menjadi budaya dan alam UNESCO, sehingga setiap jengkal pembangunan harus mendapat restu dari dunia.

Kekayaan orang Anhui tak hanya Gunung Huangshan. Mereka mewarisi sisa peninggalan ketangguhan nenek moyang di dusun Xidi berupa rumah-rumah tua, yang masing-masing memiliki kemolekan arsitektur, kerumitan dekorasi dan sejarah di dalamnya.

Rumah-rumah mereka adalah perjalanan sejarah. Dan mereka adalah bagian dari sejarah: hidup, mati, lalu terlahir kembali dalam esensi berbeda sebagai museum. Rumah peninggalan nenek moyangnya kini adalah destinasi wisata wajib bagi turis mancanegara yang menjejakkan kakinya ke Provinsi Anhui.

Di sana mereka hanyalah menumpang, merelakan siapapun menjejakkan kakinya di semua sudut ruangan, karena bangunan-bangunan itu kini menjadi hak milik negara. Mereka harus kehilangan makna rumah demi kelangsungan hidup.

Di Quanzhou, Agustinus berjumpa dengan lelaki tua bernama Zhang Meidong. Ia menyebut dirinya "anak Betawi asli". Dia dipungut dan dibesarkan oleh keluarga Tianghoa Jakarta sejak bayi. Ia adalah salah satu perantau Indonesia yang sudah setengah abad lebih tinggal di Hokkian karena tak bisa pulang ke tanah leluhurnya. Dan kini umurnya 73 tahun.

Meski setengah abad lalu ia meninggalkan kampung halaman, keinginannya untuk untuk pulang ke Indonesia tak pernah surut. Di hadapan Agustinus, Meidong mendendangkan sebait lagu yang menyatakan kerinduannya kepada kampung halamannya, Indonesia.

Jauhlah sudah berlayar
Mungkin nanti jauh merayu
Hilang tertinggal kampungku, sayang
Air mataku berlinang

"Bawa saya pulang ke Indonesia, apa pun caranya, saya ingin pulang. Selama-lamanya," katanya pada Agustinus.

Perjalanan Agustinus mencari jati diri tak berhenti di negeri leluhurnya Tionghoa. Ia melanjutkan perjalanannya mengunjungi Negeri Kincir Angin, Belanda. Di Belanda, ia bertemu dengan orang-orang diaspora Maluku di Belanda generasi-2 dan ke-3.

Diaspora Maluku di Belanda mempunyai cerita hidup yang teramat getir. Mereka adalah anak turunan anggota tentara KNIL yang mendapat iming-iming menjadikan Maluku sebuah negara sendiri dengan nama Republik Maluku Selatan.

Namun, setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia sebagai Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 1949, Belanda membubarkan tentara KNIL. Meski sudah dibubarkan, Belanda masih memiliki kewajiban untuk mengurus mereka, karena saat itu suasana masih berkecamuk. Tidak ada solusi lain, Belanda harus mengangkut mereka semua ke negerinya.

Mereka dijanjikan hanya akan sementara tinggal di Belanda. Mereka terus menunggu dan menunggu janji-janji, tapi siapa sangka, ini menjadi tak berujung hingga generasi-generasi selanjutnya. Dan Maluku masih menjadi rumah impian mereka untuk pulang.

Saat anak turunan mereka sudah bisa berkunjung dan berniat pulang ke Maluku, mereka terkejut karena ternyata realitas Maluku tak seindah bayangannya. Mereka terasa asing di tanah leluhurnya. Kemiskinan dan ketertinggalan di sana membuat mereka menyadari sudah tak mungkin lagi bagi mereka dengan kenyamanan Belanda untuk tinggal di Maluku.

Pulang sesungguhnya punya makna jauh lebih dalam dari sekadar kembali ke rumah untuk berjumpa kembali dari sanak yang ditinggalkan. Pulang adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah perjalanan, sebagaimana filsuf Cina berkata, "Kita melakukan perjalanan adalah untuk pulang." (hal.277)

***

Isu identitas adalah isu yang menarik dalam buku ini. Tentang bagaimana orang memaknai Tanah Air. Buku Jalan Panjang untuk Pulang berbeda dengan buku Agustinus sebelum-sebelumnya yang berjudul Selimut Debu atau pun buku yang berjudul Garis Batas yang hanya bercerita tentang satu daerah. Buku ini merupakan kumpulan cerita, serpihan memori dari berbagai tempat penjuru dunia. Kita bisa membacanya dari mana pun secara acak sesuai keinginan tanpa harus urut karena cerita yang berbeda-beda.

Cerita-cerita dalam tulisannya adalah sebuah kepingan mozaik yang membuat mindset pembaca terbuka tentang sebuah makna rumah di kampung halamannya. Pulang itu bukanlah tentang geografis, tapi secara batin. Di mana pun ketika kita merasa ada kedamaian dan kenyamanan batin, itulah kita bisa menamainya dengan pulang ke rumah.

Muhamad Ulinnuha keturunaan suku Jawa yang tinggal di Sumatera

(mmu/mmu)