Kolom

Soto, Oseng Pedo, dan Misi Menyelamatkan Bumi

Nia perdhani - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 10:59 WIB
Tentang Soto, Oseng Pedo dan Misi Menyelamatkan Bumi
Nia Perdhani (Foto ilustrasi: istimewa)
Jakarta -

Beberapa waktu belakangan ini saya menonton banyak film dokumenter semacam Cowspiracy, Seaspiracy, Milk System, A Life On Our Planet-nya David Attenborough dan masih ada beberapa lagi. Film-film itu kemudian membawa saya pada sebuah kesadaran baru. Betapa banyaknya aktivitas manusia yang merusak bumi ini dilakukan hanya untuk memenuhi syahwat perut.

Tapi tidak seperti Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya beberapa waktu lalu di detikcom, yang setelah nonton film-film itu jadi pesimis dan mutung, nggak mau menonton lagi karena kok sepertinya manusia itu isinya salah-salah melulu, saya justru menemukan sudut pandang lain. Bahwa eating habit atau budaya makan orang Indonesia bisa jadi merupakan gaya makan yang akan menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Menonton Seaspiracy kita jadi tahu bagaimana barbarnya industri perikanan di berbagai belahan dunia dijalankan. Tak pernah terbayang sekalipun di benak saya, ada kelompok manusia yang sengaja melakukan pembunuhan besar-besaran pada sekawanan hiu karena menganggap mereka adalah musuh abadi dalam perburuan ikan laut.

Betapa konyolnya. Manusia dengan pilihan makanan yang nyaris tak terbatas, yang dengan akalnya sangat bisa mengolah apa saja menjadi makanan, merasa takut disaingi oleh kelompok ikan tak berakal hingga harus melakukan mass massacre pada mereka. Padahal ikan-ikan itu memiliki peran yang sedemikian pentingnya dalam ekosistem. Menontonnya benar-benar meninggalkan rasa nyeri di hati.

Tak hanya itu, perampokan besar-besaran hasil laut juga meninggalkan sampah yang merusak lautan. Ternyata bukan sedotan plastik atau gelas air mineral jenis sampah yang paling banyak memenuhi lautan kita, tapi bekas alat tangkap ikan. Sekalipun seluruh orang di dunia berhenti menggunakan sedotan plastik, masalah sampah di laut tetap tak akan selesai karena 50% lebih jenis sampah laut rupanya adalah jaring dan macam-macam kawannya sesama alat tangkap ikan.

Lain di laut lain pula masalah di darat. Di darat, peternakan sapi, babi, domba, dan berbagai hewan yang diternakkan untuk tujuan konsumsi ternyata sangat merusak lingkungan. Gas methan dan nitrogen yang dihasilkan dari kotoran ternak merupakan sumber polusi utama. Bahkan andai manusia berhenti menggunakan bahan bakar minyak sekalipun, atmosfer akan tetap rusak karena aktivitas peternakan.

Sudah begitu, peternakan juga penyebab utama deforestasi hutan alam di berbagai belahan dunia. Amazon misalnya, sumber utama kerusakannya dikarenakan pembukaan lahan untuk penggembalaan ternak dan menanam kedelai sebagai bahan baku pakan ternak. Ckckck...

Wajar saja kalau semua cerita itu akhirnya memunculkan semacam beban moral bagi kita. Bayangkan, bumi sebegini besarnya bisa terancam hancur cuma gara-gara badokan! Betapa sia-sianya. Pantas saja kalau Nabi Muhammad bilang puasa Ramadhan yang 30 hari lamanya itu serupa Perang Badar beratnya. Bagaimana tidak, ternyata sumber kerusakan di bumi ini pangkal pokoknya adalah urusan mulut hingga perut manusia.

Di satu sisi timbul rasa bersalah. Di sisi lain, rasanya tidak mungkin juga semua makhluk itu diturunkan ke bumi oleh Tuhan tanpa boleh dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Semestinya tagline "sustainable" yang dicantolkan pada berbagai aktivitas ekonomi manusia itu bisa menjadi jawaban. Bahwa selama ini gagal, karena tagline itu rupanya hanya jadi akal-akalan untuk menarik simpati konsumen alih-alih benar-benar untuk kebaikan alam.

Tapi, begini. Kalau kita memperhatikan data konsumsi daging maupun ikan negara-negara di dunia, selayaknya berkurang sedikit beban moral kita terhadap kerusakan lingkungan. Indonesia dengan jumlah populasi nomer 4 di dunia, ternyata bukan konsumen utama daging ternak maupun daging ikan. Pada kategori daging ternak, Amerika Serikat, Australia, Argentina, Israel, dan Brazil adalah juara unggulannya.

Sementara pada kategori ikan bahkan total konsumsi kita hanya ada di nomer 9, masih jauh di bawah Vietnam, Jepang, dan Myanmar. Padahal jumlah penduduk mereka tak sampai setengah jumlah penduduk kita. Padahal juga, kita punya laut yang sebegitu luasnya dengan kekayaan biota laut yang luar biasa banyak pula.

Bukankah itu semua menggambarkan betapa seserakah-serakahnya kita, masih lebih serakah orang-orang dari negara yang lebih maju sana? Budaya makan kita pada dasarnya sudah mendukung penangkapan ikan dan peternakan yang berkelanjutan.

Orang Amerika menjadi konsumen terbesar daging karena budaya mereka adalah hamburger dengan potongan daging yang besar, sementara budaya kita adalah soto dengan suwiran daging ayam sehingga satu ekor ayam cukup untuk memberi makan orang sekampung.

Budaya kita bukan tenderloin atau sirloin dobel, tapi botok daging yang memungkinkan satu ons tetelan bisa cukup untuk makan orang serumah karena kelapanya dibanyakin sementara dagingnya sebagai aksesoris saja. Sekadar biar ada grenjel-grenjel-nya pas kena gigi.

Budaya kita bukan makan sashimi dari bagian terbaik ikan; budaya kita adalah oseng pedo, sedikit ikan asin yang ditumis dengan bawang merah, bawang putih, cabe, kalau perlu ditambah sayuran lainnya biar jadi banyak.

Rata-rata orang Amerika mengkonsumsi sekitar 99 kg daging per tahun. Setengahnya adalah daging ayam, sisanya daging sapi dan babi. Artinya, konsumsi rata-rata bulanan adalah 8 kg per bulan, atau 2 kg per minggu. Kita boro-boro 2 kg per minggu per orang, mau beli daging sekilo saja nunggu Lebaran. Beli daging ayam seperempat dibikin sop sudah bisa buat makan orang serumah.

Betapa mulianya eating habits kita. Andai gaya makan kita menjadi gaya makan dunia, permintaan susu, daging, dan ikan akan menurun. Kalau permintaan susu dan daging menurun, jumlah peternakan akan berkurang. Kalau permintaan ikan menurun, luasan laut yang terancam over-eksploitasi akan berkurang. Maka dua sumber utama kerusakan bumi akan berkurang. Bukankah itu yang diharapkan dari berbagai tagline "berkelanjutan"?

Jadi, rasanya sudah saatnya kita memperkenalkan gaya makan kita pada dunia sebagai "sustainable eating habits". No sustainable industrial food production without sustainable eating habits. Seluruh penduduk bumi harus mulai belajar cara kita makan daging dan ikan. Dunia internasional harus mulai belajar makan botok daging, oseng-oseng pedo dengan sedikit pedo dan banyak-banyak bawang, brambang, dan cabe, serta belajar menikmati soto dengan daging yang cukup disuwir-suwir, atau sambel manyung kelapa yang banyakan kelapanya daripada ikannya.

Nia Perdhani owner House of Trazzi, UKM di bidang pengolahan ikan. Tinggal di Juwana, Pati

Tonton Video: Gurih Nikmat Soto Mie Bogor Ala Mang Ohim

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)