Sentilan IAD

Sudra Pengetahuan yang Terombang-Ambing

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 19:15 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Menjadi bodoh itu bikin susah. Tapi berusaha beranjak dari kebodohan, dengan menyimak dan mendengar bermacam-macam hal, bukan lantas berarti jadi tidak susah. Bahkan bisa-bisa, ketika kita mengambil satu pengetahuan kecil saja, beban kesusahan kita jadi sekilo bertambahnya.

Dulu di masa kecil, saya dan orang-orang segenerasi saya merasa baik-baik saja minum susu kental manis. Rasanya enak, dan jelas kami merasakan sugesti kesehatan dan kekuatan. "Kalau sahur minum susu, biar nggak gampang lapar," begitu kata kakak saya waktu adiknya ini belajar puasa.

Minumlah saya susu kental manis, meski kadang nggak kental-kental amat karena dituangi banyak air demi alasan penghematan. Dan benar, saya tumbuh besar dan sehat bersama susu encer manis yang murah itu.

Hingga kemudian puluhan tahun setelahnya kebenaran sejati itu terbongkar. Susu kental manis ternyata bukan susu! Atau ya susu sih, tapi nggak susu-susu amat. Susu yang tidak terlalu susu, sebab jauh lebih banyak kandungan gula di dalamnya.

Saya merasa ditipu habis-habisan. Langsung terbayang betapa selama belasan tahun saya menyantap banyak sekali gula, lalu segenap aliran darah dan sistem organ tubuh saya mencandu gula, dan itu fondasi yang tidak cukup masuk akal untuk sebuah perasaan sehat sentosa. Lebih-lebih karena saya trauma mengingat penyakit terkutuk bernama diabetes yang mengantarkan almarhum ayah saya ke akhir hidupnya.

Pendek kata, karena mengetahui satu hal, saya malah jadi susah. Coba tidak usah tahu, mungkin perasaan saya akan baik-baik saja. Saya akan tetap selalu bergembira, dan mengenang masa kecil yang indah bersama apa yang saya yakini sebagai susu padahal tidak benar-benar susu.

Belakangan, ketika akses bahan pangan lebih mudah, susu bubuk dan susu segar menjadi konsumsi kami sehari-hari. Saya merasa sehat. Di masa rajin-rajinnya berolah raga, meminum segelas susu segar menciptakan sensasi pertumbuhan sel-sel di tubuh saya, protein dan segenap nutrisi yang kaya raya terserap dan menciptakan kepercayaan diri akan peningkatan kesehatan dan kecerdasan.

Sampai suatu hari saya menonton film itu. Ternyata industri susu begitu mengerikan. Sapi-sapi disiksa, dieksploitasi, dipaksa terus beranak-pinak tanpa ada sapi-feminis yang memperjuangkan hak-hak para sapi perempuan atas kemerdekaan dalam kehamilan, semata agar air susu mereka terus mengucur deras. Belum lagi bagaimana bayi-bayi sapi jantan langsung digebuk kepalanya sampai mati karena pejantan tidak akan menghasilkan susu, dan mereka sah untuk disebut sebagai limbah produksi.

Di situ saya mengetahui satu hal lagi, dan beban kesusahan hidup saya meningkat dua kilogram lagi. Entah, apakah karena itu pula perut saya jadi menolak susu, langsung murus setelah kemasukan susu, dan saya menjadi kaum intoleran gara-gara mengidap irritable bowel syndrome yang berkonsekuensi lactose intolerance.

Sejak itu, alih-alih susu, saya lebih memilih air putih. Air putih itu tidak enak, saya tidak suka, dan saya jenis orang yang entah kenapa sangat jarang kehausan. Tapi berusaha meminum air putih banyak-banyak dengan penuh kesadaran mendatangkan perasaan sehat di hati saya. Saya paksa minum air putih sebanyak yang saya bisa. Badan pun terasa segar, saya merasa endapan-endapan lemak dan dosa di sepanjang jaringan pembuluh saya rontok lalu hanyut, dan setiap kali kencing ada perasaan bahwa diri ini kembali suci.

Kemudian saya membaca tautan berita kesehatan itu. "Jangan terlalu banyak minum air putih, kebanyakan air justru bisa menyebabkan over-dehidrasi, pembengkakan otak, dan water intoxication alias keracunan air." Whottt? Keracunan air? Apa-apaan ini?

Saya lunglai. Sejak SD, saya selalu melihat bahwa dalam soal air, pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sama dengan Pendidikan Moral Pancasila. Sebagaimana tujuh puluh persen tubuh kita terdiri atas air, tujuh puluh persen wilayah Indonesia juga berupa air. Maka, air dan perairan itu penting dan harus dijaga. Maka tak ada salahnya menggelontorkan banyak-banyak air ke perut kita. Tapi, aduh, keracunan air?

Karena pengetahuan baru tentang air, saya kembali susah dan sulit bahagia. Jadi akhirnya saya minum air secukupnya saja, dan membiarkan dosa-dosa tetap bersemayam dengan tenang di dalam tubuh saya.

Belakangan, saya kena kolesterol tinggi. Bukan cuma tinggi, tetapi severely high menurut catatan dari lab. Terang saja karena saya penggila daging kambing berikut lemak-lemaknya, gulai otak dan gajebo di warung nasi Padang, cumi dan kepiting, belum lagi sate kulit dan brutu ayam di angkringan.

Setelah vonis lab itu, saya melihat satu video seorang dokter senior yang berceramah tentang larangan makan benda-benda sampah yang biasa saya lalap itu, sembari dia menyarankan untuk makan ikan. Persis ketika dia menyebut kata "ikan", wajahnya tersenyum penuh kedamaian. Seolah ikan adalah kenikmatan terpuncak di surga dan hanya disantap orang-orang saleh saja.

Sejak itu, saya termotivasi makan ikan. Sebelumnya saya juga makan, tapi jarang, dan waktu makan perasaan saya biasa saja. Namun sejak ucapan "ikan" yang lembut dari Pak Dokter, kelezatan ikan berlipat-lipat di batin saya. Saya pun berlangganan ikan bakar segar di warung dekat rumah saya, kadang order dari seorang kawan yang jualan ikan, dan kalau di warung Padang saya tak ragu lagi meninggalkan gulai tunjang lalu memilih ikan.

"Makan ikan adalah makan tanpa perasaan bersalah," begitu istri saya sampai berkata. Kalimat itu menjadi mantera sakti yang terus meningkatkan semangat saya untuk berbaris tegap di belakang Bu Susi Pudjiastuti.

Entahlah sudah berapa ratus ikan yang masuk ke mulut saya, hingga pagi tadi saya menonton film itu. Seaspiracy, karya Ali Tabrizi.

Itu film kurang ajar betul. Tabrizi membongkar habis-habisan bahwa industri penangkapan ikan adalah musuh terbesar keselamatan ekologi, jauh lebih berbahaya daripada pelenyapan hutan-hutan di Amazon dan Kalimantan. Hutan-hutan di dunia hanya menyumbang lima belas persen saja oksigen bagi dunia, sedangkan delapan puluh lima persen lainnya merupakan anugerah plankton yang hidup di lautan.

Jadi, bohong kalau bilang bahwa hutan adalah paru-paru dunia. Hutan belantara mungkin cuma hidung dunia saja. Dan lebih jauh lagi, investigasi di film itu menunjukkan bahwa pembalakan liar memang jahat, tapi jauh lebih jahat industri penangkapan ikan.

Penjelasannya, industri penangkapan ikan selalu tanpa sengaja membunuh paus dan lumba-lumba, sementara keduanya kunci kehidupan plankton, dan skala penangkapan ikan yang lebih besar lagi merusak terumbu karang, matinya terumbu karang membunuh ikan, ikan yang mati membuat ekosistem laut hancur, ekosistem laut hancur membunuh plankton lebih besar lagi, dan seterusnya dan seterusnya.

Waktu menulis ini, saya mau menyimak ulang film itu. Tapi saya malas sekali menyadari kenyataan. Sialan. Sialan. Selama ini saya selalu merasa berdosa setiap kali membeli buku-buku, karena kertas-kertas di halaman buku-buku saya berarti tumbangnya hutan seluas ratusan lapangan bola. Tapi gara-gara film Si Ali itu, aforisma suci "Makan ikan adalah makan tanpa perasaan bersalah" dari mulut istri saya jadi runtuh sia-sia.

Untuk entah ke berapa belas kalinya, saya menambah sejengkal pengetahuan, dan hidup saya semakin penuh kesengsaraan.

Malam tadi, saya membaca unggahan di halaman Facebook pengarang kondang Paulo Coelho. "If it's costs you your peace or your freedom, it's too expensive." Intinya, kedamaian hati dan kemerdekaan adalah segalanya, seolah tak bisa ditukar dengan apa pun.

Seorang kawan pernah bilang bahwa Paulo Coelho itu hanyalah Mario Teguh yang pintar menulis. Saya sepakat dengannya. Tapi melihat siksa demi siksa menghantam saya, sepertinya saya akan segera memilih Mario Teguh saja.

Jadi kalau nanti Anda menemukan kebenaran-kebenaran baru yang menghentak kesadaran, tolong jangan beritahu saya. Lebih baik saya bersama Paulo Coelho, duduk-duduk nyaman penuh kedamaian di tepi Sungai Piedra.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)