Kolom

Mewariskan "Gen Emansipatif" Kartini

Nurul Lathiffah - detikNews
Rabu, 21 Apr 2021 13:00 WIB
Kaki-kaki Mungil Ini Menari di Sepatu Roda Peringati Hari Kartini
Anak-anak perempuan beratraksi sepatu roda di peringatan Hari Kartini (Foto: Muhammad Aminudin)
Jakarta -

Setiap tanggal 21 April, kilasan kisah inspiratif tentang Raden Ajeng Kartini selalu dapat menghangatkan hati. Emansipasi, barangkali merupakan keyword yang tepat untuk menelusuri buah pikir dan karyanya. Kartini dikenal sebagai sosok pendidik, penulis, ibu rumah tangga, ahli relasi publik, sekaligus penikmat karya sastra, dan buah pikiran yang mengandung gagasan emansipatif, kesetaraan, dan juga pemberdayaan kaum perempuan.

Tanpa Kartini, mungkin saja kesetaraan relasi antara hak-hak laki-laki dan perempuan di ranah publik masih begitu timpang. Dapur, sumur, kasur.

Tiga tempat inilah yang dulu merupakan 'singgasana' bagi kaum perempuan pada masa Kartini kecil hingga remaja. Konstruksi budaya seakan membangun aturan paten bahwa wanita tidak sopan jika mengutarakan perasaannya. Wanita harus menjadi 'mesin' yang secara otomatis menerima sabda suami atau orangtuanya dengan suara dan bahkan nada takzim yang terkesan pasrah, nggih.

Begitu sulitnya bagi kaum perempuan untuk berpendapat, karena ia dianggap sebagai makhluk yang tidak pernah protes dan penurut, bahkan meskipun hak-haknya dicederai kaum adam pada masa itu.

Berbagai literatur menyebutkan bahwa sejak kecil Kartini telah akrab dengan buku. Ia begitu gila membaca, seakan-akan tak pernah puas dengan membaca satu atau dua buku saja. Namun tentu saja, buku bacaan Kartini bukan buku yang 'sembarangan.'

Sejak muda, Kartini tertarik dengan adanya kebebasan kaum wanita di Eropa. Bahkan, kegelisahannya tentang nasib kaum wanita di Nusantara yang seolah tak memiliki 'masa depan' diungkapkan oleh Kartini dalam korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri.

Sebenarnya bukan tentang kisah korespondensi internasionalnya yang mengagumkan. Melainkan, satu pendapat kuat dari Kartini bahwa emansipasi yang ia dambakan adalah bukan kaum wanita menyaingi laki-laki.

Kartini sendiri merasa bahwa kaum wanita tak mungkin bisa bersaing dengan kaum laki-laki. Interaksi antara laki-laki perempuan dalam pandangan Kartini adalah relasi yang setara, saling membutuhkan, dan juga saling melengkapi. Mungkin, ide ini setali tiga uang dengan Muhammad Iqbal sang penyair yang mengemukakan bahwa, "Wanita adalah belahan tak terpisahkan dari laki-laki."

Pemikiran Kartini tentang gagasan emansipasi begitu mulia, tak ternoda oleh rasa bangga berlebihan terhadap potensi feminis kaum wanita. Lantas, apa yang menjadikan Kartini merumuskan emansipasi dengan begitu anggun, tenang, berwibawa, dan mencerahkan kaum wanita setelahnya?

Pergulatan ide dan jalan panjang perenungan Kartini tentu tidak lepas dari interaksinya dengan ilmu pengetahuan, dalam hal ini pendidikan agama. Selain dikenal sebagai wanita cendekia, Kartini juga merupakan rohaniawan wanita. Berbagai literatur menyebutkan bahwa Kartini pernah nyantri dan belajar ilmu agama. Fondasi inilah yang membentuk pemikiran, ide, dan konsep emansipasi wanita ala Kartini memiliki 'ruh' spiritual yang tinggi.

Apa jadinya jika Kartini berliterasi dan banyak membaca, namun tak memiliki pijakan pengetahuan dan rasa agama? Tentu saja gagasan-gagasannya tak bertahan lama, bahkan mudah terpatahkan.

Sampai di sini kita menjadi lebih yakin bahwa spirit literasi emansipasi yang dicetuskan Kartini perlu untuk ditelusuri, dipahami, dan dilanjutkan estafetanya. Kartini-Kartini milenial perlu direncanakan untuk 'tetap lahir.' Jangan sampai anak-anak perempuan tidak mewarisi pemikiran dan gaya emansipasi Kartini yang memiliki pijakan literasi agama. Gen emansipasi Kartini harus tetap kita jaga blue print-nya.

Lantas, bagaimana caranya agar anak-anak milenial yang umumnya digital native dapat menjaga citra diri sebagai putri yang mulia ibarat Raden Ajeng Kartini yang smart, santun, dan memiliki gagasan cemerlang?

Tentu saja semua berawal dari keluarga. Khususnya terhadap anak perempuan, perhatian yang khusus harus diberikan secara masif dan berkelanjutan. Mendidik anak perempuan sangat berbeda dengan mendidik anak laki-laki. Penting bagi oran tua untuk memberikan landasan ilmu agama sebagai fondasi anak perempuan menjalankan peran emansipatifnya.

Ada sebuah ide menarik, bahwa hal urgen bagi anak perempuan belajar agama adalah niat yang benar. Ibarat Kartini belia yang memiliki niat belajar untuk menghilangkan kebodohan dan mensyukuri nikmat akal, niat mulia belajar ilmu agama harus dipatrikan orangtua dalam sanubari anak. Tentu saja, ini adalah salah satu upaya mewariskan gen emansipastif Kartini dalam denyut hidupnya.

Kedua, penting bagi orangtua untuk memfasilitasi anak perempuan dengan berbagai bahan bacaan penunjang pemikiran dan ide-ide yang mencerahkan, bahkan bersifat out of the box. Di era media baru (baca: internet) seperti sekarang, tentu bukan hal sulit untuk mengakses banyak pengetahuan secara free, hanya bermodal kuota data.

Meski demikian, orangtua juga harus tampil sebagai teman diskusi anak, sehingga anak mendapatkan pemikiran parental yang dapat mengimbangi idealismenya. Dialog orangtua-anak merupakan stimulator yang baik bagi anak perempuan untuk menumbuhkan ide dan merusmukannya.

Yang tidak kalah penting, upaya diet media. Di era yang sesak media, fitnah akhir zaman, dan penyebaran hoax ini, diet media urgen dilakukan remaja yang merupakan pengguna internet aktif (bahkan hiperaktif). Seperti halnya Kartini yang hanya membaca buku-buku yang bisa menunjang pertumbuhan pemikiran dan kematangan kepribadian, remaja milenial juga harus melakukan diet media demi menjaga kesinambungan gen emansipatif Kartini.

Bagaimana bisa remaja putri akan produktif dan berkontribusi, ketika ia terjebak dalam aktivitas internet yang merugikan dan kontraproduktif?

Memastikan anak dan remaja putri mengonsumsi internet secara sehat tentu merupakan hal yang urgen untuk memastikan bahwa gen emansipatif hadir dalam pribadinya. Tentu saja ini tidak mudah. Namun, menjaga kesinambungan gen emansipasi Kartini begitu penting, sebab banyak fenomena yang menurunkan marwah kaum perempuan, juga bermula dari kebiasaan patologis dalam berinternet.

Pungkasnya, momentum Hari Kartini adalah saat yang tepat ketika kita harus menguatkan komitmen untuk memelihara gen emansipatif, agar tetap hadir dalam citra remaja putri masa kini. Kita harus yakin!

Nurul Lathiffah, M. Psi peminat kajian psikologi wanita dan pengelola Rumah Baca Welcome Friends di Gunung Kidul

(mmu/mmu)