Sentilan IAD

Makhluk Penggemar Persiapan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 16:02 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Bulan Puasa tahun ini istimewa buat saya. Ada perubahan konkret yang saya capai, bahkan ketika Ramadhan belum sepertiga jalan. Sampai-sampai saya merasa Ramadhan saya sudah layak dinyatakan sukses, jauh hari sebelum datangnya malam takbiran.

Ketika saya mengatakan puasa saya berhasil, Anda yang saleh-saleh itu tak perlu cemburu. Ukuran keberhasilan puasa saya tentu beda dengan ukuran Anda. Tidak sampai sehebat khatam Quran lima belas kali atau kejatuhan cahaya Lailatul Qadar di ujung malam sunyi. Bukan hal-hal sedahsyat itu. Tapi semata karena saya mulai berbeda dalam menjalankan ritual buka puasa.

***

Pada tahun-tahun yang lewat, kami berbuka sebagaimana para pemuja perut dan hawa nafsu pada umumnya. Sajian rupa-rupa selalu kami siapkan dengan heboh. Teh manis panas, gorengan, kolak pisang, es buah, semur telur, ayam bakar, dan entah apa lagi, semua tergelar megah sekali. Sekitar jam lima sore, saat saya memandangi meja makan, benar-benar kepercayaan diri ini terbangun sempurna. Yakin, semua menu akan saya babat habis tanpa sisa.

Sampai kemudian azan magrib terdengar dari toa terdekat. Allahu akbar. Teh panas pun saya seruput. Satu kali, tiga kali, tujuh kali, disusul dua-tiga biji bakwan yang saya embat dengan kilat, sambil terus melirik sasaran-sasaran berikutnya.

Tapi kemudian, sungguh aneh. Ternyata, rongga perut selepas puasa tak sekosong yang saya kira! Cuma dengan tiga kepal gorengan, saya nggak kuat lagi makan. Maksimal nambah beberapa suap kecil nasi, dan setelah itu lemas tak ada tenaga lagi. Secara mengejutkan rencana pun tinggal jadi rencana, segenap persiapan sia-sia belaka.

Lalu, apa yang terjadi sesungguhnya? Apakah murni karena kerakusan dan cinta dunia? Sisi itu sih jelas ada benarnya. Saya toh memang suka makan enak. Makan adalah salah satu wahana hiburan yang biasa saya gunakan untuk mendatangkan kegembiraan-kegembiraan. Tapi untuk kerakusan menjelang berbuka, sepertinya ada sesuatu yang lain.

Ini perkara imajinasi. Rasa lapar karena perut kosong seharian penuh menciptakan bayangan tentang ruang dalam perut yang pasti sangat longgar. Secara nalar dan pengetahuan kognitif, mungkin kita paham bahwa perut tak akan selonggar itu. Tapi reaksi kimiawi akibat lapar menyerbu otak, kemudian menciptakan halusinasi. Walhasil, rasa lapar, imajinasi, keinginan balas dendam, dan pemuasan kebutuhan, campur aduk menjadi satu. Di permukaan adonan semua itu, tumbuhlah satu keyakinan bahwa kita akan mampu melalap habis semua menu.

Keyakinan itulah yang membuat kita melangkah terlalu jauh dalam melakukan persiapan. Persiapan demi persiapan adalah wujud dari segala perasaan yang terbangun di dalam siksaan rasa lapar. Dari situ kentara sekali bahwa kita ini memang makhluk yang senang melakukan persiapan-persiapan. Dalam persiapan, ada kekhawatiran. Ada ketakutan. Namun juga ada semangat, dan ada harapan.

Bukan cuma urusan buka puasa. Kalau Anda melihat rak di kamar Anda berisi ratusan buku, sementara setelah dihitung-hitung baru sepertiga di antaranya yang tuntas terbaca, itu pun hasil dari naluri akan persiapan. Anda melihat buku-buku bagus di toko, atau di marketplace. Lalu Anda ngiler, kepingin banget membacanya, kepingin banget paham isinya, kepingin banget mendapat predikat cerdas karena bisa menggunakan konten buku itu untuk kutipan-kutipan di caption Instagram dan sebagainya.

Bersama timbunan keinginan itu, ada kecemasan. Cemas kalau-kalau buku itu akan habis di pasaran, cemas kalau-kalau malah tak ada lagi slot anggaran di bulan depan, cemas jika tidak segera update lalu jadi tampak kurang berkelas dalam perbincangan-perbincangan dan pergaulan sosial.

Menyusul keinginan dan kecemasan, ada juga harapan-harapan besar. Diam-diam kita berharap akan punya waktu luang yang banyak untuk membaca semua itu, berharap cepat larut tenggelam dalam palung kata-kata di buku-buku itu, juga berharap punya cadangan kemampuan konsentrasi yang berlebih untuk membacanya di tengah gempuran godaan series di Netflix atau perdebatan-perdebatan tiada guna di Twitter dan Facebook.

Ada kalanya kita sendiri tidak yakin apakah memang kita akan punya cukup tenaga dan waktu. Tapi persiapan-persiapan yang maksimal memang selalu melahirkan sensasi ayem tentrem, menciptakan rasa tenang, persis dengan rasa yang muncul ketika kita melihat saldo rekening dengan angka yang memuaskan.

Maka, atas nama persiapan, kita pun membeli buku-buku. Satu buku, dua buku, lima belas buku, tiga puluh buku. Kita bersiap untuk menyambut hari itu, hari ketika waktu kita benar-benar longgar dan bisa kita jalani hanya dengan berteman buku-buku.

Lima tahun berlalu. Ah, bukan. Tujuh tahun sudah. Dan hari indah itu tak kunjung tiba. Tapi kecemasan datang lagi, harapan manis tumbuh lagi, dan persiapan demi persiapan dengan belanja buku-buku kita lakukan lagi.

Saya pun mengalami hal yang sama. Bukan cuma soal buku, tapi juga dengan sekian terabyte file film-film dari berbagai masa yang ngendon di hardisk eksternal saya, termasuk dengan urusan sepeda dan olah raga.

Satu setengah bulan lalu, saya mereparasi sepeda lama saya. Ganti jeruji, ganti kabel rem dan persneling, frame-nya dicat ulang, lampu untuk night cycling dipasang, juga segenap tetek bengek pelengkapnya.

Hasilnya? Tiga kali sepedaan saja. Setelah itu, entah kenapa saya sering lupa. Tapi setidaknya persiapan-persiapan telah dengan matang saya lakukan. Jika sewaktu-waktu datang semangat untuk bersepeda, ya saya tinggal menggenjotnya. Soal "kapan", nah itu tidak usah terlalu dibahas panjang. Toh yang penting semua sudah siap, bukan?

Karena naluri akan persiapan seperti itu, konon fitness center selalu punya member yang banyak tapi ruang latihannya tidak pernah penuh. Karena naluri seperti itu juga, banyak penulis menyimpan ratusan draf kasar tulisan, tapi yang tereksekusi hanya puluhan. Karena naluri seperti itu pula, bertumpuklah barang-barang tak berguna di rumah kita, mulai tenda camping, alat pancing, sepatu gunung, perlengkapan pertukangan, panci presto, hingga bread maker. Barang-barang yang kita beli karena melakukan persiapan-persiapan sangat matang, untuk aktivitas yang ternyata tidak pernah kita wujudkan.

***

Awal Ramadhan ini, saya sudah cukup belajar. Keengganan membuang-buang makanan berpadu dengan angka umur yang semakin merayap naik, membuat saya meninggalkan festival persiapan dalam menyambut jam buka puasa setiap harinya.

Hasilnya, setiap sore menjelang berbuka, hanya ada beberapa bungkus pecel dua ribuan di meja makan, ditambah beberapa gelintir tahu isi dan bakwan. Semuanya beli di warung tetangga sebelah rumah.

Perlu saya akui dulu, seumur-umur baru kali ini saya menghadapi pecel sebagai menu buka puasa. Saya ini karnivora dalam level yang agak keterlaluan. Memandang sebungkus pecel di meja menjadikan saya ibarat harimau Sumatra yang disuguhi sup jagung, atau hyena yang dipaksa menelan salad buah. Jadi pada awalnya begitu berat saya menghadapi ini semua.

Namun saat bedug magrib tiba, setelah menyeruput teh panas, dengan malas saya membuka bungkus daun pisang itu. Saya gelar ijo-ijoan di menu pecel sembari menuangkan bumbu kacangnya, lalu memasukkannya sejumput demi sejumput ke mulut saya. Bungkus pertama, biasa saja. Lalu bungkus kedua menyusul, kali ini sambil saya selingi dengan menggigit bakwan.

Tiba di gigitan terakhir, tiba-tiba saya merasa cukup. Cukup. Tanpa harus heboh dengan aneka persiapan, saya merasa sangat cukup. Lalu saya merasa puasa saya sukses. Bukan karena berhasil mengendalikan nafsu makan, melainkan karena terlebih dulu saya berhasil membunuh keinginan untuk melakukan persiapan-persiapan.

Lantas soal film, sepeda, dan buku-buku bagaimana? Oh, anu, itu soal beda. Jangan semua diperlakukan sama dengan urusan buka puasa. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)