Sentilan IAD

Keterampilan Memindah Masalah

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 22:00 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Di tengah obrolan kami saat ronda dua pekan kemarin, seorang pemuda bersepeda motor datang mendekat. Saya kira dia mau menemui semua petugas ronda. Tak tahunya, hanya Mas Sudar dan Pak Nardi yang dia jumpai.

Ketiganya lalu mojok, sehingga percakapan mereka tidak terdengar yang lain. Sampai kemudian, sayup-sayup mampir di telinga saya suara Pak Nardi. "Sudah, sekarang gini aja, Mas. Kalau njenengan ada di posisi kami, apa ya njenengan mau dibegitukan?"

Sempat saya kaget. Kalimat seperti itu biasanya muncul kalau ada cekcok. Untunglah beberapa detik setelahnya mereka bertiga tergelak bersama, lalu sang pemuda bermotor pamitan dan lenyap bersama tarikan gasnya.

Ternyata, pemuda itu wakil dari pedukuhan. Ia punya tugas terkait satu program yang kami juga baru tahu, yakni pengadaan bak penampungan sampah bersama untuk wilayah sekitar tujuh atau delapan RT.

Dana pengadaan bak sampah itu sudah cair. Nilainya lima puluh juta, kalau tidak salah diberikan oleh Pak Bupati yang baru. Dana segitu lumayan cukup untuk bikin bak sampah besar yang muat menampung sampah rumah tangga dari beberapa ratus kepala keluarga. Nah, repotnya, dana sudah tersedia, tapi lokasinya yang tak tahu harus di mana.

Karena itulah anak muda tadi menemui Mas Sudar dan Pak Nardi. Rumah kedua kawan ronda saya itu jejer. Di depan rumah mereka, ada secuil tanah kosong, bagian dari tanah kas desa. Secara legal, tentu tidak masalah menggunakan tanah desa. Yang jadi masalah tentu saja baunya.

Saya bisa membayangkan kenyamanan yang porak-poranda karena bau tempat sampah. Meskipun sampah tetap akan diangkut oleh truk ke pembuangan akhir, tapi jelas tidak akan dilakukan setiap harinya. Akibatnya, timbunan serta ceceran benda busuk pasti tetap akan menyebarkan aroma ke mana-mana.

Pak Nardi pensiunan pegawai pemda. Tentu dia ingin menikmati masa istirahatnya bukan bersama bau-bauan menyengat yang menerjang halaman rumahnya. Mas Sudar juragan bakso tusuk. Apa jadinya kalau orang tahu bahwa bakso tusuk yang dijual di gerobak-gerobak milik pegawai Mas Sudar itu diolah di sebelah penampungan sampah yang banyak lalatnya?

Oke, warga pedukuhan kami memang bukan cuma Mas Sudar dan Pak Nardi. Bagaimana kalau ditawarkan ke warga lain, untuk membangun bak penampungan sampah itu di dekat rumah mereka? Saya jamin seratus persen tidak ada yang bakalan mau. Apalagi kalau sampai ada yang kepikiran memilih tempat di sebelah rumah Mas Iqbal. Dengar-dengar dia juga ogah, dan sudah siaga dengan template jawaban: "Sudah, sekarang gini aja. Kalau njenengan ada di posisi saya, apa ya njenengan mau dibegitukan?"

Akhirnya, ujung ceritanya persis yang diduga semuanya: tidak bakal ketemu solusinya.

***

Soal sampah ini memang ajaib. Sudah puluhan tahun kami di desa memproduksi sampah, tapi baru di zaman Atta Halilintar ini fasilitas penanganan sampah dipikirkan. Dan selama puluhan tahun, kami menangani sampah sesuai selera masing-masing. Ada yang membuang diam-diam di bak penampungan sudut Pasar Bantul seperti saya. Ada yang menimbunnya dengan tanah di pekarangannya. Ada yang membakarnya. Ada yang melemparnya ke pinggir jalan sempit tengah sawah yang sepi. Ada juga yang membuangnya ke kali.

Hasilnya, masalah tidak terpecahkan, tidak pernah terpecahkan, dan selama bertahun-tahun kami memang melatih diri bukan untuk memecahkan masalah, melainkan sebatas memindahkan masalah.

Tentang kebiasaan memindah masalah itu paling kentara saat melihat orang buang sampah ke kali. Hanya dengan sekali lempar, dalam beberapa belas detik si pelaku akan melihat masalahnya hanyut bersama air. Menjauh, menjauh, menjauh. Masalah yang ia hadapi telah pergi. Lingkungannya bersih, indah, tertib-aman-sehat-asri. Tetapi, apakah si masalah telah berhasil diatasi?

Jelas saja belum. Masalah itu masih mengapung pelan-pelan, menjauh dari kampung si pembuang sampah. Ia tak lagi kelihatan, tapi akan segera menjadi masalah baru bagi orang-orang di desa-desa yang menjauhi hulu. Lalu mereka di sana memegang galah bambu, mendorong-dorong sampah yang nyangkut di kali dekat rumahnya, membuatnya hanyut lagi, mengapung lagi, menjauh lagi, dan masalah pun dipindahkan untuk ke sekian kali.

Maka, sudah semestinya kita membuang sampah pada tempatnya. Begitu yang disampaikan bapak-ibu guru di sekolah, bukan? Masalahnya, membuang sampah pada tempatnya itu pun ternyata tidak jauh beda dengan membuang sampah ke kali: masalah cuma dipindahkan, tidak sungguh-sungguh diatasi.

Beberapa hari yang lalu saya berdebat kecil dengan istri. Dia ngotot untuk sangat tertib memilah sampah kering dan sampah basah. Sekarang, setiap Jumat sore kami menitipkan sampah kami ke rumah ibu saya, sebab di sana ada truk sampah yang rutin mengambili sampah tiap akhir pekan (sementara di desa kami tidak ada). Tentu saja pendirian istri saya itu baik. Tapi saya malas kalau harus sedisiplin istri saya. Kenapa?

Saya tahu bagaimana truk-truk sampah itu bekerja. Di tingkat rumah tangga, sampah bisa saja dipisahi. Sampah organik, anorganik, plastik-kertas-kaca. Sialnya, begitu naik di bak truk, semua dicampur aduk juga sekenanya. Truk melaju ke tempat pembuangan sampah terpadu sepuluh kilometer dari rumah kami, dan di sana sampah-sampah yang terpisah rapi di tangan istri saya itu ditumpahkan, dan semakin campur aduk lagi.

Akhirnya, pemilahan sampah pada level rumah tangga saja cuma jadi ilusi penyelamatan ekologi. Yang senyatanya terjadi mirip-mirip buang sampah di kali, yaitu masalah sebatas dipindah. Dipindah dari rumah ke area pembuangan, menabung problem besar bagi desa-desa di sekitarnya, tanpa menghadirkan solusi yang benar-benar nyata.

Saya sampai curiga, mungkin banyak sekali persoalan di negeri kita yang dilatih oleh perilaku kita dalam puluhan tahun membuang sampah. Kita tidak pernah benar-benar dididik untuk menyelesaikan masalah. Kita malah jadi sangat terbiasa dan sangat ahli dalam memindah masalah. Kita tidak pernah benar-benar paham bahwa kita bergerak dalam sistem, bahwa sebuah sistem melibatkan unsur-unsur yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain, sehingga masalah yang dipindah dari sini belum tentu akan beres di sana.

Maka, kita terbiasa melihat orang melempar tanggung jawab. Itu bukan semata karena egoisme atau ketidakbecusan. Itu keterampilan memindah masalah. Maka, salah satu metode komunikasi efektif di era amplifikasi adalah pengalihan isu. Masalah yang nyata gagal dibereskan, tapi perhatian publik dengan mudah digeser-pindahkan.

Maka, kita juga melihat kebiasaan menunda-nunda. Ketika pagi tadi saya tahu ada tugas menulis karena deadline hari Selasa, saya lebih memilih menunda hingga sore harinya. Itu pun cuma memindah masalah, masalah pagi digeser jadi masalah sore. Maka, kita melihat pemindahan ibukota. Timbunan masalah yang menggunung di Jakarta gagal diatasi, lalu sekian gelondong masalah itu digeser saja ke pulau lainnya.

Hari ini hari pertama Bulan Puasa. Prinsip dasar puasa adalah pengendalian diri. Dengan pengendalian diri, sebenarnya ada pendidikan tentang menghadapi masalah. Bukan latihan memindah masalah, bukan pula latihan mengatasi masalah. Pengendalian diri jauh lebih hulu lagi, yaitu medan berlatih untuk sebisa-bisanya meminimalkan produksi masalah.

Selamat berpuasa bagi yang berpuasa. Tapi mau Anda berpuasa ataupun tidak, sebaik-baiknya memang tidak usah hobi cari-cari masalah.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)