Kolom Ramadhan

Puasa untuk Menyatukan "Islam" dan "Muslim"

Abd Rohim Ghazali - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 15:10 WIB
A Muslim makes a donation after an evening prayer called
Tarawih pertama menyambut Ramadhan di Chicago, AS (Foto: AP/Shafkat Anowar)
Jakarta -

Ibadah, dalam pengertian yang luas merupakan seluruh aktivitas yang berisi kebaikan dan kebenaran untuk Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan seluruh makhluk yang ada di alam raya ini. Di samping pengertian luas, ada ibadah dalam arti khusus (ibadah khas atau ibadah mahdhah) yang prasyarat, syarat dan mekanismenya sudah ditentukan melalui syariat berupa nash baik al-Quran maupun al-Hadits (Sunah Rasulullah SAW)

Perbedaan mendasar antara keduanya: yang pertama bisa ditampilkan dalam berbagai variasi, tergantung pada kreativitas manusia sebatas tidak melanggar norma. Sementara yang kedua bersifat baku, menutup kemungkinan kreativitas manusia. Sudah ditetapkan juklak dan juknisnya dalam nash.

Fungsi ibadah jenis pertama untuk memupuk kesalehan pada sesama makhluk (antroposentris), yang meminjam istilah Muhammad Abduh sebagai cerminan "Islam", sedangkan yang kedua untuk memupuk kesalehan pada Tuhan (teosentris) sebagai ceminan "Muslim". Islam diwujudkan dalam semua ucapan dan tandakan yang menceminkan kebaikan sesama makhluk, sedangkan Muslim diwujudkan dalam sosok/manusia yang mengaku dan menjalankan serangkaian ibadah mahdhah.

Islam dan Muslim harus menyatu secara integral. Orang yang rajin melakukan ibadah mahdhah seperti salat, puasa atau haji, tapi masih menyakiti tetangganya, masih kikir, angkuh, sombong, mau menang sendiri dan tidak bersahabat dengan lingkungan, ibadahnya kurang berfungsi atau bahkan bisa dikatakan tidak berfungsi sama sekali. Kemuslimannya belum menceminkan keislaman.

Mengintegrasikan Islam dan Muslim bukanlah pekerjaan mudah. Belum ada penelitian berapa persen orang yang secara formal menyatakan diri sebagai Muslim telah mencerminkan prilakunya secara Islam. Seperti kesulitan kita mencari orang yang bisa menyelaraskan kata dan perbuatan, sesulit itu pulalah kita mencari seorang Muslim yang benar-benar berislam.

Butuh Latihan

Sesulit apa pun upaya menyatukan Islam dan Muslim pasti bisa dicapai, meskipun hanya oleh orang-orang tertentu saja. Orang-orang tertentu yang dimaksud tentu mereka yang memiliki integritas pribadi dan kemauan keras untuk mencapai cita-cita tersebut, yang ukurannya terlepas sama sekali dari atribut-atribut keduniaan seperti status sosial dan kepangkatan.

Banyak jalan menuju Roma, demikian kata pepatah klasik, atau "Banyak jalan menuju Tuhan," tulis Cak Nur (Prof. Dr. Nurcholish Madjid). Dalam mengintegrasikan Islam dan Muslim juga banyak pirantinya, di antaranya yang paling efektif adalah dengan melakukan puasa. Kata "puasa" dalam bahasa Arab shaum atau shiyam yang artinya "meninggalkan (perbuatan)" atau arti bebas "menahan diri dari perbuatan tertentu", yang tentu saja untuk tujuan tertentu.

Puasa tidak hanya ada dalam doktrin agama. Dalam budaya Jawa, orang yang berkeinginan untuk mencapai kesejatian hidup biasanya juga melalui "puasa", dengan mutih (hanya makan nasi putih dan hanya minum air putih) atau ngrawot dengan makan daun-daunan.

Dalam pergaulan sehari-hari, perempuan-perempuan masa kini atau bahkan laki-lakinya juga, untuk menjaga keseimbangan berat badan, agar bisa tampil di depan publik secara prima dan memikat, juga melalui "puasa" dengan cara diet, meninggalkan makanan dan minuman yang berlemak dan berkalori tinggi. Dalam hal ini "puasa" terbukti sangat efektif untuk menjaga penampilan.

Puasa dalam konteks seperti diungkap dalam judul tulisan ini tentu bukan puasa dalam arti diet, mutih, atau semacamnya. Tapi, puasa yang dimaksud adalah "menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan badan antara pria wanita dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari."

Dalam puasa ada prasyarat dan syarat yang harus dipenuhi sesuai ketentuan nash. Oleh karena puasa bisa disebut sebagai ibadah khas atau ibadah mahdhah. Puasa jenis ini dikatakan sebagai piranti atau wahana yang efektif untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim, karena sebagai ibadah mahdhah puasa sangat sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan (antroposentris).

Dengan menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih satu hari penuh, khusus puasa Ramadhan bahkan berturut-turut selama satu bulan, orang-orang kaya dan berkecukupan akan dengan sendiinya merasakan bagaimana "penderitaan" yang selama ini dirasakan fakir miskin yang sangat jarang ketemu makanan dan minuman secara layak. Dari sini tercipta kesetiakawanan sosial. Artinya kebiasaan puasa bisa membuat orang welas asih, rajin berderma, dan membantu orang lain.

Di samping itu, puasa sebagai ibadah khusus ia memiliki kekhususan dari yang khusus. Orang yang sengaja merusak atau meninggalkan salat atau haji dengan mudah bisa dideteksi. Tapi bagi orang yang merusak atau meninggalkan puasa sulit dilacak. Orang yang mengaku puasa bisa saja minum atau makan di kala sendirian, siapa tahu, ia bisa saja berakting seperti orang lapar dan haus. Di sinilah di antara fungsi sosial puasa, bisa dijadikan sarana untuk berlaku jujur.

Karena kekhususannya yang lebih khusus ini maka tidak heran jika bagi orang yang berpuasa (shaim) diberikan pahala khusus di sisi Allah. "Setiap ibadah milik si pelaku dan berpahala bagi yang melakukannya kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah milik-Ku, dan Akulah yang memberikan pahalanya," demikian salah satu bunyi hadits qudsi yang populer.

Prasyarat

Selain terletak pada jenis pahala yang langsung dari Allah, kekhususan puasa juga terletak pada prasyarat dalam melaksanakannya. Berbeda dengan prasyarat bagi peribadatan mahdhah yang lain, prasyarat puasa relatif lebih bernuansa kualitatif. Dalam al-Quran, perintah puasa disebutkan dalam Surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa."

Dari ayat ini bisa diambil pemahaman bahwa prasyarat untuk berpuasa yang paling penting adalah adanya keimanan. Atau dalam ungkapan lain Allah hanya mewajibkan puasa bagi orang-orang yang beriman. Tidak bagi orang-orang "Islam KTP", atau mereka yang "bersyahadat" karena pernikahan.

Karena syaratnya yang relatif berkualitas, maka puasa memang baru benar-benar dikatakan puasa jika ia memiliki fungsi sosial. Puasa yang hakiki tidak sebatas menahan makan, minum dan berhubungan seks, tapi juga menahan perkataan keji pada orang lain, tidak boleh mengumpat dan marah.

Dalam hadits lain juga disebutkan: "Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah adalah lebih wangi dari bau minyak kasturi" Menurut Prof. Dr. H.A. Mukti Ali bahwa makna yang sebenarnya dari hadits tersebut, orang yang tidak makan dan minum bukan berarti mulutnya harum. Tapi karena dia menjauhi omongan yang jelek, dusta, dan perkataan-perkataan yang tidak senonoh . Jadi "wangi" bermakna metaforis.

Dari beberapa petunjuk di atas, maka untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim melalui puasa,menuntut prasyarat adanya disiplin fisik dan moral sekaligus. Tanpa itu, integrasi antara keduanya tidak bisa dicapai.

Introspeksi

Kita tentu bertanya-tanya: dalam masyarakat Muslim yang rajin melakukan ibadah seperti salat, puasa, zakat, maupun haji ke Baitullah, mengapa belum menunjukkan indikasi keislaman? Dalam masyarakat yang rajin berpuasa, mengapa belum tercipta kesetiakawanan? Drama pemerkosaan, penindasan, pemerasan, penipuan, egoisme serta tindak asosial lainnya, mengapa kadang-kadang masih dipentaskan orang-orang yang rajin berpuasa? Mengapa juga korupsi semakin menjadi-jadi di negeri ini?

Jawabannya, disebabkan karena puasa hanya dilakukan sebatas meninggalkan hal-hal yang teknis di siang hari, belum sampai pada tahapan meninggalkan hal-hal yang non-teknis seperti disiplin moral dan spiritual. Sehingga pada malam harinya, drama keserakahan terus berlangsung. Berlebih-lebihan dalam menyajikan menu berbuka dan santap sahur merupakan bukti ketidaksiapan Muslim mencerminkan Islam.

Puasa seolah-olah hanya menunggu waktu berbuka, dengan menahan nafsu sehingga datangnya maghrib merupakan saat pelampiasan nafsu tersebut sepuas-puasnya. Di sinilah perlunya kita terus melakukan introspeksi, menyadari kondisi yang kemudian dengan penuh kesadaran mencoba sekuat tenaga untuk mengintegrasikan Islam dan Muslim, mulai dari diri kita masing masing.

Abd Rohim Ghazali Direktur Eksekutif Maarif Institute

(mmu/mmu)