Kolom

Detoksifikasi Gawai dan Kesehatan Mental Anak

Fatma Laili - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 11:35 WIB
Geniora Phone hadir sebagai smartphone pertama khusus untuk anak-anak. Gadget tersebut dirilis sebagai solusi orang tua, yang mana saat ini tak bisa dipungkiri, kehidupan anak zaman sekarang akrab dengan teknologi digital, seperti smartphone.
Foto ilustrasi: Geniora
Jakarta - Kegelisahan dan dilema atas perubahan pola perilaku anak dalam ber-gadget menjadi salah satu jejak problematika pandemi. Meski masalah gadget addict (kecanduan gawai) pada anak sudah menjadi momok bagi orangtua dalam mendampingi dinamika perkembangan anak mereka sejak sebelum pandemi ini muncul, namun dapat dipastikan bahwa di masa pandemi ini prosentase ketergantungan anak terhadap aplikasi apapun di dalam ponsel pintarnya mengalami kenaikan yang signifikan.

Tidak dipungkiri bahwa dengan adanya kebijakan segala layanan pendidikan di sekolah yang selama pandemi diwakilkan pada peran gadget juga berkontribusi pada kompleksitas permasalahan yang dihadapi orangtua seputar anak dan gadget-nya. Yang sebelumnya sekolah menjadi media yang efektif dalam mengendalikan ketergantungan anak pada gawai, sejak pandemi , pihak sekolah mau tidak mau bersahabat dengan gawai sebagai instrumen utama yang membantu agar proses pembelajaran tetap terus berjalan .

Di sini sudah tidak saatnya kita membicarakan pro dan kotra dari kebijakan apapun yang menjadi solusi dalam penanganan pandemi, termasuk dominasi peran dunia digital dalam pembelajaran. Fokus kita adalah pada penyelesaian permasalahan yang menjadi jejak dari kebijakan "belajar di rumah". Saat ini yang menjadi problematika yang cukup rumit bagi mayoritas orangtua yakni "gawai addict" khususnya pada anak usia sekolah.

Pergeseran fungsi gawai sebagai media belajar online menjadi media game online telah melahirkan rentetan kasus gangguan mental pada anak dalam bentuk gaming disorder yang membuat kita miris. Prevalensi meningkatnya jumlah pasien anak pada Rumah Sakit Jiwa (RSJ) sebagai dampak dari kecanduan gadget menjadi salah satu indikator adanya kisah suram perkembangan mental anak di negeri kita.

Sebagai contoh, terdapat satu kecamatan di Jakarta Pusat dengan 98 anak yang menderita kecanduan game online. Sebanyak 15 anak dirawat jalan di RSJ, sisanya rawat inap. Bahkan, dalam dua bulan RSJ Jawa Barat mencatat, ada 14 anak yang hingga kini harus menjalani perawatan intensif akibat adiksi atau kecanduan. Sementara pada 2020, ada 98 anak yang mengalami adiksi dan dirawat di RSJ Jabar.

Tak Terkendali

Gaming disorder merupakan bentuk perilaku bermain game yang tidak terkendali hingga dapat mengganggu minat dan aktivitas sehari-hari, menurunkan motivasi, mengganggu konsentrasi dalam belajar, mengikis hubungan pemain dengan keluarga, teman, dan pekerjaan, dan dengan paparan yang masif akan berdampak pada perilaku murung, stres, depresi, bipolar, dan gangguan kecemasan.

Sejak 2018 gaming disorder telah ditetapkan oleh WHO sebagai salah satu bentuk gangguan mental dan diklasifikasikan sama dengan kelompok kecanduan berjudi. Gaming disorder banyak dialami oleh anak maupun remaja sampai dewasa yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Hal tersebut mengingat laki-laki lebih menyukai hal-hal yang bersifat tantangan dan olah ketangkasan. Berbeda dengan anak perempuan yang kecanduan gadget untuk mengakses media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp dan Tiktok.

Namun apapun bentuk aplikasi yang dimainkan mereka, saat pola konsumsi terhadap gadget melebihi batas kewajaran akan mengindikasikan mereka sebagai kelompok pencandu. Gangguan mental pada anak akibat dari kecanduan gadget merupakan kondisi ironis yang bisa juga disebabkan oleh minimnya edukasi orangtua akan bahaya penggunaan gadget pada anak.

Dari beberapa kali saya lakukan kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan tema "bijak ber-gadget", mayoritas orangtua tidak tahu berapa usia minimal dan durasi yang diperbolehkan bagi anak mereka untuk menggunakan gadget. WHO menyarankan, anak baru boleh menatap layar gadget pada usia 2 tahun dengan durasi maksimal 1 jam. Anak usia 3-4 tahun yang juga tidak boleh menonton layar gadget lebih dari satu jam. Sama seperti usia 1-2 tahun, anak usia 3-4 tahun masih perlu memperbanyak aktivitas fisik sehari-hari.

Realitasnya, tidak sedikit orangtua yang justru menjadikan gadget sebagai alat bantu untuk meredakan kerewelan anak mereka yang masih balita, bahkan batita. Demikian juga terkait pentingnya pemahaman orangtua dengan aplikasi yang dikonsumsi anak. Banyak orangtua yang pragmatis menyikapi perilaku anak dalam bermain game online. Mereka mungkin tidak menyadari, dan lebih tepatnya tidak tahu, tingkat keamanan aplikasi permainan yang digunakan anak mereka bagi perkembangan psikisnya.

Ada batasan usia minimal dalam beberapa bentuk game online yang --saya yakin-- tidak banyak orangtua tahu. Misalnya untuk permainan game Free Fire, sebuah game shooting yang bergenre Battle Royal yang sangat menghipnotis anak-anak Indonesia saat ini sebenarnya diperuntukkan bagi anak di atas usia 12 tahun, itu pun dengan durasi pemakaian yang tidak terus-menerus untuk menghindari kecanduan.

Tapi mungkin kita bisa lihat anak-anak kita yang masih di bawah usia tersebut juga menjadi bagian dari keseruan Free Fire, dan menjauhkan anak-anak kita dari keceriaan, realitas, dan kehangatan dalam relasi sosialnya. Kemudian anak menjadi begitu agresif (mudah marah ) saat kita melarangnya bermain gadget, mengalami gangguan konsentrasi, hilangnya motivasi belajar, insomnia, gangguan kecemasan terlebih saat gadget jauh dari jangkauannya, bipolar, perilaku yang obsessive, dissocial, dan muncul perilaku-perilaku menyimpang sebagai manifestasi dari kondisi mentalnya yang "sakit".

Memutus Rantai

Sebuah kemustahilan untuk memutus rantai interaksi anak kita dengan teknologi yang memang sudah menjadi eranya. Namun, tidakkah kita lupa bahwa anak adalah harapan? Kalimat itu setidaknya tetap menjadi pijakan kita selaku orangtua dalam mendampingi anak sehingga tidak ada kata lelah untuk melindungi dan memberikan yang terbaik dalam mengasuh dan mendidik mereka.

Detoksifikasi gadget adalah salah satu upaya yang ditawarkan bagi orangtua untuk melakukan pembatasan atau lebih tepatnya bijak dalam menggunakan gadget bagi anak. Detoksifikasi gadget merupakan upaya seseorang untuk menahan diri untuk tidak menggunakan gadget dalam periode tertentu, dan mengalihkannya dengan fokus pada kegiatan dalam kehidupan yang nyata, produktif yang bertujuan untuk menekan/menghindari/melepas stres yang bersumber dari konektivitas yang konstan yang terdapat dalam gadget.

Dalam konteks pengasuhan, detoksifikasi gadget adalah suatu upaya bagi orangtua untuk menyelamatkan anak dari cengkeraman kecanduan dengan cara mengembalikan fungsi gadget sebagai media komunikasi, alat bantu belajar, dan instrumen pendukung yang lebih berkontribusi positif bagi perkembangan anak. Anak dikembalikan pada dunia yang nyata, yang dinamis, sehat, ceria dan interaktif secara sosial dalam bentuk real sebagai modal bagi perkembangan kualitas mentalnya di masa depan.

Tema detoksifikasi gadget ini sering disikapi secara apriori oleh orangtua dengan kalimat: Mana mungkin? Bisakah? Sudah telanjur! Terlalu sulit! dan beragam pernyataan berkonotasi pesimistis bahkan apatis. Sikap ini mungkin menjadi gambaran bahwa orangtua pun sudah ada pada titik jenuh dalam berupaya kuratif menangani anak-anak mereka yang sedang dalam lingkaran gadget addict.

Namun tidak kemudian kondisi ini menjadikan kita sebagai orangtua lebur dalam keputusasaan pengasuhan dan kerumitan problematika di dalamnya. Untuk itu, detoksifikasi gadget ini pun menjadi sebuah treatment yang sudah segera selayaknya kita coba sebelum kondisi gadget addict ini semakin merapuhkan karakter anak-anak kita.

Detoksifikasi gadget menjadi program utama yang pernah diterapkan oleh pemerintah Korea Selatan untuk mengatasi anak dan remaja dengan permasalahan kecanduan internet dengan mendirikan Kamp Detoksifikasi sejak 2014. Kita dapat mengadopsi upaya yang dilakukan kamp dalam menangani anak dengan dengan fokus pada kegiatan dan aktivitas apapun yang intinya membatasi anak untuk berinteraksi dengan gadget-nya melalui beberapa treatment yang diberikan.

Mengajak anak untuk kembali beraktivitas ke alam, seperti olah raga, bermain, berseni, beternak, berkebun, memancing merupakan langkah yang efektif untuk mengalihkan perhatian mereka dari gadget. Kegiatan konseling yang diterapkan oleh kamp dapat kita adaptasi dengan cara sering mengajak anak untuk berdialog, mendongeng ,atau sekadar bercerita tentang apapun yang dialami anak hari ini, terlebih saat anak menjelang tidur.

Berlibur, beribadah bersama, makan, dan nonton TV bersama adalah sebagian dari upaya kita selaku orangtua untuk menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan menyenangkan sebagai solusi utama untuk mengalihkan sumber rasa bahagia yang selama ini telah mereka temukan dalam dunia virtualnya. Upaya ini pun juga harus didukung oleh perubahan sikap dan perilaku orangtua sebagai role model (contoh) anak dalam ber-gadget, dengan cara lebih selektif memilih waktu dalam menggunakan gadget terlebih di hadapan anak.

Saya rasa tidak akan sulit bagi kita sebagai orangtua untuk memulai terapi psikososial ini, bila semua didasari oleh rasa cinta dan tanggung jawab kita pada anak. Mari, sejak saat ini, kita coba untuk memulai detoksifikasi gadget, sembari menunggu dan mempersiapkan kesehatan mental buah hati kita untuk kembali mengikuti aktivitas pembelajaran tatap muka langsung, yang semoga tidak butuh waktu lama lagi.

Simak Video: Kasus Gangguan Kesehatan yang Diviralkan Efek Kecanduan Game

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)