Kolom

Paskah Ini, Kita Bangkit!

Martinus Joko Lelono - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 11:16 WIB
Paskah ini, Kita Bangkit
Martinus Joko Lelono (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Paskah kali ini lagi-lagi masih dalam suasana pandemi Covid-19. Harapan akan selesainya pandemi memang sedikit-banyak sudah ada, tetapi tidak ada kepastian. Sementara di beberapa tempat jumlah penambahan kasus aktif dan kematian akibat Covid-19 sudah jauh berkurang, di tempat lain terdengar lonjakan yang kian meningkat. Beberapa negara bahkan mengumumkan lockdown lagi.

Tangis akibat kematian, dan berbagai ketakutan akan kemungkinan terjangkit, serta perjuangan berat para tenaga medis masih terus terjadi. Dunia telah, sedang, dan masih akan mengalami peristiwa-peristiwa yang tak pernah dinyana, yang meluluhlantakkan segala kesombongan dan menghancurkan tembok-tembok keangkuhan.

Namun, di balik semua itu, kita bisa berharap bahwa dunia bisa bangkit dan melahirkan kemanusiaan baru yang memungkinkan dunia ini berjalan dengan lebih baik.

Salah satu ungkapan yang amat terkenal di masa Paskah dalam kalangan orang Kristiani adalah ungkapan Yesus yang mengatakan, "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yoh 12: 24).

Ungkapan itu memang menunjuk pada kematian Yesus, pribadi yang inspirasi hidupnya melahirkan banyak kebaikan sampai dengan hari ini, tetapi pada waktu yang sama ungkapan tersebut adalah sebuah panggilan untuk mempertanyakan tentang kematian diri kita sendiri. Kematian di sini tentu tidak dalam arti fisik, melainkan kematian terhadap sifat-sifat manusiawi yang lama menuju kepada sikap-sikap yang baru.

Toh, kalau disadari, hidup ini adalah rangkaian dari kelahiran, kehidupan, dan kematian. Paskah adalah sebuah ajakan bagi setiap orang agar kematiannya tak hanya sekadar berhentinya sebuah kehidupan, melainkan bermakna bagi kemanusiaan yang lebih baik.

Mewariskan dan Mewarisi

Salah satu pemaknaan akan kematian adalah proses mewariskan dan mewarisi. Tentu hal ini tak selalu harus mengenai harta benda, tanah atau berbagai bentuk barang-barang warisan, melainkan juga tentang semangat juang, ketekunan, kerendahan hati, dan segala sifat-sifat hidup yang diberikan oleh generasi yang hidup sebelum kita.

Demikianlah di masa pandemi ini, masyarakat kita sedang mencoba untuk mati terhadap sikap-sikap hidup yang lama dan mulai menghidupi sikap hidup yang baru. Paling tidak saya bisa mengatakan tentang tiga sikap hidup baru di masa pandemi ini: menghargai orang lain, peduli kepada yang lain, perasaan senasib sepenanggungan.

Di generasi masyarakat sekarang, dengan begitu canggihnya teknologi, orang bisa sampai kepada sikap sombong karena ia bisa memenuhi segala hal selama ia punya uang. Pandemi meluluhlantakkan segala kesombongan itu. Uang tak menjadi jaminan. Dalam kurun waktu ini, hidup kita amat tergantung kepada perjuangan"'siap mati" dari para tenaga medis.

Orangtua yang harus merawat anak-anaknya mulai menyadari betapa penting jasa guru saat mereka harus menemani anak-anak belajar. Kita bisa melihat betapa besar jasa mereka yang di berbagai tempat tidak dibayar selayaknya.

Orang mulai menyadari bagaimana pentingnya jasa tukang ojek yang menyediakan layanan menghantar makanan bagi mereka yang menjalani isolasi mandiri. Mereka yang sering dianggap rendah itu, dalam beberapa waktu belakangan menjadi pahlawan. Tak jarang mereka mempertaruhkan nyawa saat harus memberi layanan kepada pelanggan. Dari peristiwa demi peristiwa di masa pandemi ini, masyarakat dunia belajar tentang penghargaan kepada orang lain.

Sikap kedua adalah peduli kepada orang lain. Pada masa-masa awal pandemi, saudara-saudari yang terkena Covid-19 sangat dikucilkan, terutama karena masyarakat benar-benar ketakutan. Namun, belakangan muncul berbagai baliho yang mengatakan, "Positif Covid Bukan Aib." Ajakan-ajakan untuk bersifat suportif terhadap mereka yang sedang mengalami "bencana" ini membuat isolasi mandiri, yang dulunya terasa tidak mungkin, menjadi mungkin.

Sikap masyarakat dengan koordinasi di jajaran paling bawah sungguh-sungguh bisa diandalkan. Sungguh indah bahwa masyarakat mampu "mematikan" perasaan takut, dan melahirkan sikap peduli kepada sesama.

Sikap ketiga adalah perasaan senasib sepenanggungan. Untuk hal ini, kita bisa mengapresiasi bagaimana masyarakat kita benar-benar bisa menanggapi dengan positif situasi ini. Hadirnya "sayur gantungan" menjadi sinyal positif bahwa kita belum hidup di masyarakat yang benar-benar egois. Gotong royong sebagai warisan agung serta senjata pamungkas dalam hidup masyarakat di negeri ini kembali terbukti ampuh menyelamatkan negeri ini dari jurang egoisme. Ibu Pertiwi berbangga bahwa putra-putrinya mewarisi apa yang dipegang sebagai nilai hidup oleh generasi sebelumnya.

Bangkit Bersama

Paskah adalah tentang Allah yang membangkitkan. Setelah setahun, tak layak lagi kita menangisi ibadah yang harus diatur sedemikian rumit, perayaan yang lebih sederhana, atau berbagai bentuk pembatasan yang ada. Setelah setahun pandemi, negeri ini membutuhkan orang-orang yang bangkit bersama.

Pertanyaan tentang konspirasi pandemi, keengganan untuk divaksinasi, dan sebagainya sudah saatnya untuk ditinggalkan. Inilah saatnya untuk mematikan berbagai hal yang hanya akan menghambat proses kemajuan di negeri ini. Sekarang yang penting adalah bersama dengan seluruh negeri dengan dipimpin oleh pemerintahan mencari jalan-jalan terbaik untuk bangkit bersama.

Berbagai bentuk perayaan Paskah kita gunakan bersama untuk menyadarkan diri bahwa sudah tiba saatnya untuk terlibat untuk membangkitkan negeri ini dari berbagai keterpurukan. Sikap menghargai orang lain, peduli pada orang lain, dan rasa senasib sepenanggungan bisa menjadi modal untuk bangkit bersama.

Dalam sambutan Paskahnya, Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Quomas mengatakan, "Dalam keyakinan umat Kristiani, perayaan Jumat Agung dan Paskah adalah pengingat serta dorongan bahwa Kristus senantiasa mencintai dan memelihara seluruh dunia, mengatasi kematian dengan kehidupan, menaklukkan ketakutan dan ketidakpastian dengan harapan." Rasa-rasanya ini adalah undangan kepada umat Kristiani untuk bersama dengan seluruh negeri bangkit, sembari mewarisi dan mewariskan nilai-nilai baik yang ditawarkan oleh pandemi yang telah, sedang dan masih akan kita jalani ini.

Teladan pengorbanan Yesus bukan pertama-tama hanya untuk unjuk kehebatan. Pengorbanannya adalah untuk memberikan teladan. Itulah sebabnya, Ia bersabda kepada wanita-wanita Yerusalem itu, "Jangan engkau menangisi Aku. Tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu." (Luk 23: 28).

Selamat Paskah bagi Anda yang merayakan. Salam hangat untuk keluarga. Semoga Paskah membangkitkan semangat kita untuk menjadi kabar gembira bagi negeri ini.

Martinus Joko Lelono pastor Katolik di Paroki St. Mikael Pangkalan TNI-AU Adisutjipto, doktor Bidang Interreligious ICRS, UGM Yogyakarta

(mmu/mmu)