Kolom

Terorisme dan Upaya Memperkuat Keindonesiaan

Saiful Maarif - detikNews
Senin, 29 Mar 2021 15:00 WIB
Anggota polisi mengamati motor yang digunakan terduga pelaku bom bunuh diri sebelum dievakuasi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (29/3/2021). Kepolisian telah mengidentifikasi salah satu dari dua terduga pelaku bom bunuh diri yang terjadi pada Minggu (28/3/2021) di depan Gereja Katedral Makassa rberjenis kelamin laki-laki berinisial L sedangkan lainnya masih dalam proses identifikasi. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/aww.
Foto: Arnas Padda/Antara
Jakarta -

Insiden terorisme di Makassar (28/3) memantik kembali ingatan pilu tentang kejadian yang sama di Indonesia sebelumnya. Dalam berbagai kasus serupa sebelumnya, tindakan semacam ini adalah bukti adanya sikap yang tidak bisa menerima perbedaan. Pelaku dan pandangan yang mendasari tindakan tersebut hanya melihat kebenaran tunggal yang ada dan diyakini dalam dirinya. Pada saat yang bersamaan, kebenaran yang ada pada orang lain adalah salah dan harus dihancurkan.

Klaim agama seringkali dipakai sebagai pembenaran semu untuk menolak keragaman tersebut. Padahal, secara saintifik dan budaya, manusia Indonesia adalah genome perbedaan itu sendiri. Dalam banyak temuan ilmiah dan lanskap budaya Nusantara, perbedaan dan percampuran berbagai warna tak seragam sudah menjadi langgam khas Nusantara.

Rilis hasil studi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (2017), tentang studi genetika manusia Indonesia menyebutkan bahwa berdasarkan hasil penelitian genetika dan penelitian bahasa, etnografi, antropologi-arkeologi, dan sejarah dapat disimpulkan bahwa manusia Indonesia merupakan manusia campuran. Disebutkan, orang di timur Indonesia lebih dekat dengan orang-orang di kawasan Samudera Pasifik, sedangkan di barat Indonesia lebih dekat ke kawasan Asia Tenggara, dan orang Nias dan Mentawai lebih dekat dengan suku asli Taiwan.

Fenomena ini telah terjadi selama puluhan ribu tahun lewat beberapa periode migrasi. Melalui riset genetika tersebut diketahui bahwa orang Indonesia ialah produk sejarah pembauran puluhan ribu tahun sejarah manusia di Nusantara. Pada titik ini, tidak disebutkan adanya gen murni yang bisa sebagai yang asli, khas, dan karenanya adalah "pribumi" Indonesia.

Keragaman


Genetika campuran khas Nusantara tersebut berkembang dan mempengaruhi keberagaman budaya Nusantara. Dalam trilogi magnum opus Nusa Jawa-nya, sejarawan ternama Denys Lombard memaparkan seribu tahun (abad ke-5 - 16) lebih pengaruh kebudayaan India, Islam, China, dan Eropa di Sumatra, Jawa, dan Bali. Silang budaya yang demikian intens didukung letak dan posisi geografis Nusantara yang mampu berkembang menjadi laboratorium penting persemaian konsep tradisi, akulturasi, dan etnisitas.

Dalam karya raksasanya tersebut Lombard mengatakan bahwa Nusantara, bersama kawasan Asia Tengah, merupakan wilayah yang menyajikan lanskap hampir seluruh kebudayaan besar dunia. Unik dan istimewanya, Lombard menilai beragam lanskap tersebut mampu berdampingan dan melebur menjadi satu.

Salah satu bukti pandangan Lombard adalah Menara Kudus. Menara ini menjadi ikon Kota Kudus dengan latar kesejarahan yang kuat bernafaskan heterogenitas agama dan budaya serta penghargaan terhadap keragaman. Bukan kebetulan jika pada Maret ini dirayakan pula ta'sis berdirinya Masjid Al Aqsha, dengan segala perayaan atas keragaman agama dan budaya yang ada. Kearifan lokal seperti ini jelas mengajarkan banyak hal terkait perlunya menghargai perbedaan yang ada.

Sejarawan lainnya, Anthony Reid dalam Religious Pluralism or Conformity in Southeast Asia's Cultural Legacy (2015) menyatakan bahwa keberagamaan telah menjadi bagian yang menyatu dalam masyarat Indonesia. Reid menempatkan Pulau Jawa sebagai contohnya, dengan ikon dua candi besar, yakni Candi Borobudur (Budha) dan Candi Roro Jonggrang (Hindu). Candi Borobudur dan Roro Jonggrang oleh para sejarawan digambarkan sebagai representasi persaingan agama, pengaruh, dan kekuasaan antara Wangsa Syailendra dan Sanjaya (abad ke-8 - 9).

Namun demikian, Reid melihat keberadaan dua candi besar itu sebagai a carefully maintained balance, sebuah keseimbangan yang dikelola dengan hati-hati. Dalam keseimbangan itu, terdapat bukan hanya kesadaran kompetitif sebagai medan perjuangan "merebut dan mendapatkan" umat (antara Hindu dan Budha), namun juga sikap dan kesediaan untuk saling melengkapi dan menghormati.

Itulah mengapa kedua candi, yang tengah digodok agar makin menguatkan identitas destinasi wisata premium kelas dunia, tersebut berdiri kokoh sebagai representasi perbedaan masing-masing dalam jarak yang tidak berjauhan. Pada titik ini, promosi wisata dan budaya pada level internasional eloknya dapat berdiri sejajar dengan pentingnya pengenalan khazanah sikap saling menghormati dalam perbedaan dan keragaman.

Menghargai Perbedaan


Mengikuti cara pandang Lombard dan Reid, Menara Kudus-Candi Borobudur-Candi Roro Jonggrang adalah representasi terjaganya keragaman yang mudah ditemukan di wilayah lain di Nusantara. Pesan dasarnya adalah semangat merawat keragaman sesungguhnya telah inheren dalam kesejatian identitas manusia Nusantara.

Pada keberadaan Menara Kudus, misalnya, pesan penting itu mengejawantah pada kesediaan untuk membiarkan dan selanjutnya melestarikan kutub perbedaan apa adanya, bahkan saling melengkapi. Hal demikian terlihat pada bagaimana sebuah pancuran khas Budha dipakai sebagai sarana berwudhu dengan lanskap candi pada menaranya.

Dalam skala politik dan konteks bernegara, manusia Indonesia telah matang dalam kontes perbedaan dan menemukan titik temu di dalamnya. Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), atau oleh pemerintah Jepang saat itu disebut sebagai Dokuritsu Junbi Inkai, pada 18 Agustus 1945 untuk merumuskan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 membuktikan hal tersebut.

Sidang tersebut dihadiri berbagai tokoh dan representasi berbagai golongan dan agama. Sejarah mencatat, sidang tersebut diwarnai perdebatan yang intens dan perbedaan pandangan yang kuat. Namun demikian, momen tersebut juga menjadi penanda kesediaan dan kebesaran para tokoh bangsa untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan.

Tokoh-tokoh Islam, seperti KH Wahid Hasyim, Teuku Mohammad Hasan, dan lainnya, demi persatuan bangsa dan negara Indonesia mengganti kalimat yang berbunyi "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" menjadi "Ketuhanan yang Maha Esa". Keputusan tersebut dilakukan setelah muncul dan berkembang protes dan usulan dari wakil-wakil Protestan dan Katholik di Indonesia bagian timur. Sikap negarawan dengan nalar keberagaman tersebut menunjukkan semangat merayakan kebersamaan dan persatuan dalam perbedaan.
P
ada akhirnya, pada konteks heterogenitas dan "dialektika" genetika, budaya beserta segala turunan produknya, dan beragam perbedaan pandangan politik yang mengemuka, menegaskan bahwa secara asali perbedaan dan pencampuran manusia Indonesia telah terjadi. Nalar berbeda dan semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan menjadi modal dasar penting dalam pencampuran beragam genome tersebut.

Dengan sendirinya, tindakan yang menolak ragam perbedaan tersebut adalah sikap yang menolak sunnatullah. Lebih jauh, pilihan untuk bertindak merusak, membunuh, dan menghancurkan dalam terorisme adalah tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam ajaran agama dan nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Saiful Maarif
bekerja pada Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, penggiat Birokrat Menulis

(mmu/mmu)