Kolom

Saatnya Sekolah Dibuka Kembali

Hanifatul Hijriati - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 11:40 WIB
Sejumlah sekolah di Kabupaten Bogor, mulai melakukan uji coba belajar mengajar tatap muka. Salah satunya adalah SMAN 1 Citeureup.
Sebuah sekolah di Kabupaten Bogor mulai tatap muka kembali (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Pada pagi yang mendung, lagi-lagi saya harus menerima kabar seorang siswa mundur dari seleksi masuk perguruan tinggi. Siswa yang mundur bukanlah siswa yang memiliki kemampuan rata-rata, tetapi siswa yang memiliki kemampuan unggul.

Sebagai guru yang mengajar di sebuah SMA pinggiran di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, kabar mundurnya siswa untuk melanjutkan pendidikan bukanlah kabar yang mengejutkan.

Mereka tentunya bisa memperoleh beasiswa dari pemerintah, tetapi biaya hidup lainnya saat kuliah adalah pertimbangan logis yang membuat mereka memutuskan untuk berhenti. Kepemilikan laptop yang menjadi keharusan, penyediaan buku hingga kebutuhan lainnya yang nominalnya tidak sedikit jelas memberatkan keluarga menengah. Pandemi mendukung kemerosotan kondisi ekonomi ini.

Tidak hanya penurunan minat siswa untuk kuliah yang terjadi di sekolah saya, tetapi juga keberminatan untuk melanjutkan sekolah mengalami penurunan juga. Beberapa siswa menyatakan tidak lanjut karena menikah atau pun sudah terlanjur bekerja.

Pernikahan usia remaja yang terjadi selama pandemi menjadi catatan penting sebagai efek signifikan ditutupnya sekolah. Siswa yang menikah entah karena kehamilan atau kehendak sendiri merupakan konsekuensi atas tutupnya sekolah dalam jangka waktu yang lama.

Alasan orangtua yang kemudian menikahkan anaknya adalah ketakutan karena putrinya bisa saja seharian hanya pergi berduaan dengan pacarnya. Uniknya, tidak sedikit pernikahan usia remaja yang lolos setelah melalui sidang dengan berbekal uang denda. Secara umum, hampir di seluruh pelosok negeri, terjadi peningkatan signifikan angka pernikahan usia remaja selama pandemi.

Hilangnya Rutinitas

Dalam masyarakat pedesaan, sekolah adalah sumber pengetahuan. Ritual dan kebiasaan setiap hari anak-anak ke sekolah hingga usia remaja adalah ritual yang sangat berharga. Bertemu dengan guru, bersosialisasi dengan teman sebaya adalah refleksi bentuk hiburan yang mereka peroleh. Interaksi dengan guru, teman, dan warga sekolah lainnya menumbuhkan kebiasaan siswa untuk melakukan rutinitas belajar dan meningkatkan kompetensi.

Mereka dapat menemukan buku-buku di sekolah, berinteraksi dengan guru, dan menemukan persahabatan dengan ilmu pengetahuan di sekolah. Ketika siswa kembali ke rumah, mereka kembali berhadapan dengan lingkungan pedesaan yang mayoritas tidak bersinggungan dengan rutinitas pembelajaran.

Lunturnya tingkat kritisisme belajar siswa di pedesaan karena lamanya rutinitas sekolah ditinggalkan adalah akibat dari tak adanya rutinitas yang lebih mendukung untuk meningkatkan kompetensi. Siswa yang kembali ke rumah dalam jangka waktu lama berarti meningkatkan intensitas internalisasi nilai-nilai sosial dengan keluarga dan masyarakat pedesaan.

Siswa kemudian harus berhadapan kembali pada kisah-kisah takhayul yang dipercayai sebagian besar orang, dan tentunya nilai-nilai tradisionalis yang pada awalnya bertentangan dengan pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah.

Miskinnya interaksi membangun pada siswa di pedesaan mendorong siswa usia remaja memilih menghabiskan waktu jam sekolah dengan bekerja. Kondisi ekonomi keluarga menengah memperparah fakta tentang siswa bekerja ini. Di sisi lain, remaja perempuan menghadapi tantangannya sendiri yang berkutat pada urusan domestik rumah tangga.

Kondisi lingkungan pedesaan, hiruk pikuk masyarakat pedesaan yang tidak jauh-jauh dari kegiatan agraris, jauhnya pusat keramaian menciptakan pola pergaulan remaja yang tak jauh-jauh dari tongkrongan di warung-warung kecil, perbincangan di pos-pos ronda hingga mendekatkan pada pergaulan yang lebih jauh antara remaja laki-laki dan perempuan.

Lingkungan yang mendukung, serta jauhnya siswa dari sarana prasarana yang merangsang mereka untuk meningkatkan kompetensi belajar, semakin mendorong situasi-situasi yang mengarah pada pernikahan usia remaja tinggi.

Tidak sekolah berarti tidak perlu belajar adalah anggapan yang membuat sebagian besar siswa dari keluarga menengah di pedesaan untuk memilih kegiatan lainnya.

Beberapa siswa di daerah seperti di sekolah saya mengajar berangkat merantau ke luar kota untuk belajar. Entah sampai kapan mereka bekerja dan entah pula apakah mereka akan kembali ke sekolah. Selama sekolah belum diizinkan dibuka, selama itu pula kemungkinan angka putus sekolah siswa akan semakin tinggi.

UNICEF sudah menemukan 938 siswa di Indonesia putus sekolah selama pandemi. Dari jumlah itu, 75% siswa putus sekolah karena biaya. Jumlah ini belum dihitung dari sekian siswa yang tidak atau belum dilaporkan putus sekolah karena data dapodik siswa masih berproses dan masih tertulis sebagai pelajar. Biaya sekolah bisa jadi gratis, namun biaya pemenuhan proses belajar tentu tidaklah sedikit pula.

Dari data itu juga belum tercatat secara resmi berapa persen siswa yang putus sekolah karena pernikahan dini. Sebagian pernikahan dini terjadi karena kehamilan siswa remaja.

Dampak luar biasa dari dihentikannya proses belajar mengajar di sekolah terbukti tidak saja menyentuh sisi kognitif siswa, tapi juga psikologis dan moral siswa. Hilangnya rutinitas sekolah setiap pagi hingga sore adalah harga mahal yang harus dibayar atas lunturnya kompetensi siswa. Ini tentu belum termasuk siswa yang mengalami kekerasan di rumah.

Sekolah sudah saatnya dibuka kembali. Sekolah kembali difungsikan sebagai pusat interaksi siswa meningkatkan kompetensinya. Protokol kesehatan tentunya tetap harus diterapkan. Setidaknya ketika tiang ekonomi diterjang pandemi, pendidikan adalah sumber kekuatan negeri untuk membangun generasi masa depan.

Hanifatul Hijriati guru SMA di Sragen

Simak juga 'Sekolah di Pangandaran Gelar Pembelajaran Tatap Muka':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)