Catatan Agus Pambagio

Kualitas Jalan Tol Kita

Agus Pambagio - detikNews
Sabtu, 13 Feb 2021 09:46 WIB
agus pambagio
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Jalan bebas hambatan atau jalan tol dianggap oleh publik merupakan salah satu cara mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan arteri, sehingga dapat meningkatkan kecepatan berkendara dan mengurangi waktu tempuh. Budaya berkendara di jalan tol sudah dimulai sejak peresmian Jalan Tol Jagorawi sepanjang 50 km pada 9 Maret 1978 oleh Presiden Soeharto. Sejak itu publik dapat merasakan manfaat adanya jalan tol.

Setelah itu muncul pembangunan jalan tol berikutnya, seperti jalan tol Jakarta-Merak, jalan tol dalam kota Jakarta, jalan tol Jakarta-Cikampek, jalan tol Cikampek-Padalarang, jalan tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera), dan sebagainya. Pembangunan jalan tol terhenti dengan berbagai sebab, selain persoalan lahan juga pembiayaan pembangunannya setelah krisis finansial 1998.

Pembangunan jalan tol kembali marak, salah satunya diawali dengan pembangunan ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 116 km pada 2011 di era Presiden SBY dan diresmikan oleh Presiden Presiden Jokowi pada 2015. Di era Presiden Jokowi pembangunan jalan tol berlangsung sangat cepat, sehingga jalan tol Trans Jawa (Merak-Surabaya) dapat beroperasi penuh pada akhir 2018 lalu. Berikutnya pembangunan jalan tol di luar Jawa juga terus berjalan meskipun dengan banyak kendala teknis dan finansial.

Pembangunan jalan tol idealnya dilaksanakan setelah ada kajian ekonomi, sosial, lingkungan, antropologi yang saksama dan terharmonisasi untuk mengantisipasi dampak keberadaannya bagi ekonomi masyarakat sekitar. Tanpa kajian lengkap dan menyeluruh dapat memunculkan kasus-kasus sosial baru yang mengganggu kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal dalam jangka panjang.

Jika faktor penting tersebut dilupakan atau hanya dibuat ala kadarnya, maka ketika jalan tol beroperasi akan muncul berbagai masalah seperti sekarang.

Persoalan Jalan Tol

Selain masalah tanah dan finansial, dampak pembangunan jalan tol muncul salah satunya karena kontraktor kurang memahami kondisi sosial budaya masyarakat sekitar sebagai akibat studi awal dibuat asal selesai demi target penyelesaian yang dicanangkan oleh Presiden.

Satu sisi, strategi tersebut baik supaya Kementerian terkait bekerja cepat memenuhi target. Tetapi di sisi lain memunculkan banyak masalah yang pada akhirnya memerlukan anggaran besar saat beroperasi, baik yang terkait teknis maupun non teknis.

Kondisi tersebut mengakibatkan kualitas jalan tol yang dibangun setelah tol Jagorawi kurang baik kualitasnya, seperti cepat berlubang, bergelombang, banyak genangan air ketika hujan yang memicu aqua planning, dan sebagainya. Sehingga dapat dipastikan bahwa biaya operasi dan perawatan yang dibebankan kepada operator jalan tol mahal.

Berkendara di jalan tol Indonesia perlu keahlian dan kewaspadaan khusus supaya selamat, jangan hanya sekadar injak pedal gas. Keselamatan dan keamanan di jalan tol menjadi faktor utama yang harus dipenuhi oleh operator jalan tol. Kenyataannya jalan tol memang masih menjadi salah satu tempat meregang nyawa yang mengkhawatirkan.

Kasus longsor dan retaknya Jalan Tol Cipali km 121-400 penyebabnya bukan hanya sekadar curah hujan yang tinggi seperti yang disampaikan oleh pengelola, tetapi patut diduga persoalan kualitas pembangunannya buruk. Struktur konstruksi jalan menggunakan beton cor bukan aspal diharapkan dapat bertahan hingga 30 tahun, namun baru sekitar maksimum 5 tahun sejak di bangun sudah retak di beberapa titik dan bahkan longsor.

Puluhan perbaikan sepanjang jalan tol Trans Jawa tak kunjung selesai hingga sekarang. Dengan rambu-rambu peringatan yang minimalis tentunya sangat membahayakan pengguna. Terbayang berapa kerugian operator sepanjang tahun sebagai dampak perbaikan-perbaikan yang tak pernah henti.

Kerusakan jalan tol terus terjadi dan selalu hujan yang disalahkan. Pertanyaan awam seperti saya: mengapa jalan tol di negara tetangga jauh lebih bagus, padahal kualitas ahli konstruksi jalan tol yang dipunyai Indonesia seharusnya lebih banyak dan lebih bagus?. Mengapa di Malaysia yang kondisi cuacanya mirip, jalan tolnya tidak cepat hancur dan mulus? Pasti ada masalah mendasar dan besar yang menyebabkan jalan tol kita kualitasnya kurang baik.

Contoh lain, jalan tol Jakarta-Cikampek elevated sudah beroperasi, tetapi yang lama --saat ini bergelombang, penuh lubang sehingga membahayakan pengendara dengan kecepatan tinggi-- tidak dikembalikan kondisinya seperti semula supaya mulus? Kekhawatiran saya menjadi kenyataan ketika belum lama banyak korban mobil terperosok lubang di tol tersebut. Konsekuensinya, pengelola jalan tol harus memberikan ganti rugi kepada seluruh pengguna sesuai dengan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Pada akhir 2019 saya sempat melakukan pengamatan langsung di beberapa titik perbaikan tol Trans Jawa dan berbincang langsung dengan para pekerja. Saya menemukan banyak retakan di konstruksi statis (beton). Menurut ahli konstruksi jalan yang saya ajak berdiskusi, hal itu terjadi sebagai akibat saat pemadatan tanah tidak sempurna dan terburu-buru. Sehingga muncul rongga antar-lapisan tanah yang ketika tertekan oleh kendaraan yang lewat di atasnya permukaan beton mudah pecah dan rusaklah petak jalan itu.

Kepadatan tanah timbunan merupakan kunci ketahanan konstruksi beton di jalan tol, di samping banyaknya kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL) berlalu lalang di atasnya serta curah hujan tinggi. Selain itu saya juga menemukan bongkahan batu utuh yang belum dihancurkan (crushing) pada lokasi perbaikan. Kondisi tersebut menurut ahli yang mendampingi saya merupakan penyebab utama semen dan batu tidak terikat, sehingga permukaan beton cepat pecah sebelum 30 tahun.

Patut diduga korupsi pun terjadi di pembangunan jalan tol.

Langkah Antisipasi

Pertama, antisipasi harus segara dilakukan melalui perbaikan studi sosial ekonomi yang melibatkan ahli sosial kemasyarakatan, antropologi, ahli ekonomi kerakyatan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Tujuannya supaya ada studi sosial ekonomi yang komprehensif yang dapat digunakan sebagai langkah antisipatif supaya pembangunan jalan tol baik.

Kedua, libatkan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) untuk dapat mencari kontraktor yang sesuai keahliannya dengan SDM yang mumpuni. Ketiga, rekrut konsultan pengawas yang paham konstruksi jalan tol, tegas serta mempunyai daya kreativitas dan integritas tinggi.

Keempat, pastikan untuk menghindari korupsi yang menahun di Indonesia, libatkan KPK, BPK, dan Kejaksaan melakukan pengawasan sejak anggaran dibahas pada pembahasan APBN di Komisi Anggaran DPR. Juga libatkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) saat proses tender. Kelima, publik harus aktif terlibat mengawasi dan mempertanyakan jika muncul persoalan dalam pembangunan jalan tol dan saat pengoperasiannya.

Semua langkah di atas belum tentu dapat menyelesaikan buruknya kualitas jalan tol, tetapi paling tidak jangan ada lagi jalan tol yang sekadar bisa digunakan tetapi mengabaikan keselamatan. Kualitas dan keselamatan berkendara di jalan tol harus menjadi tujuan utama pemerintah.

Agus Pambagio pemerhati kebijakan publik dan perlindungan konsumen

(mmu/mmu)