3 Fakta Pakistan dan Afghanistan Perang Terbuka

3 Fakta Pakistan dan Afghanistan Perang Terbuka

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 28 Feb 2026 03:01 WIB
Distrik Bihsud dilaporkan porak-poranda setelah serangan udara Pakistan menghantam wilayah tersebut, Minggu (22/2/2026). Sejumlah rumah warga rusak, sementara puing-puing bangunan berserakan di lokasi terdampak serangan. REUTERS/Stringer
Dampak serangan udara Pakistan di Afghanistan (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta -

Hubungan Pakistan dan Afghanistan membara. Kedua negara yang bertetangga itu terlibat perang terbuka.

Dirangkum detikcom, Sabtu (28/2/2026), perang Pakistan dan Afghanistan dimulai pada Jumat (27/2) waktu setempat. Perang pecah usai hubungan kedua negara ini memburuk dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagian besar perlintasan perbatasan darat ditutup sejak pertempuran mematikan pada Oktober tahun lalu, yang menewaskan total lebih dari 70 orang di kedua pihak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Islamabad menuduh Kabul gagal bertindak melawan kelompok-kelompok militan yang melancarkan serangan-serangan di wilayah Pakistan. Pemerintah Taliban membantah soal serangan-serangan tersebut.

Beberapa putaran negosiasi digelar menyusul gencatan senjata awal yang dimediasi oleh Qatar dan Turki. Namun upaya itu gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.

ADVERTISEMENT

1. Pakistan Bombardir Ibu Kota Afghanistan

Militer Pakistan membombardir kota-kota besar di wilayah Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, pada Jumat (27/2) waktu setempat. Menteri Pertahanan (Menhan) Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan kedua negara kini berada dalam "perang terbuka" setelah berbulan-bulan bentrokan yang terus meningkat.

Gempuran terhadap ibu kota Afghanistan itu dilancarkan oleh Islamabad setelah sehari sebelumnya, atau pada Kamis (26/2) malam, pasukan militer Kabul menyerang pos-pos perbatasan di wilayah Pakistan. Pemerintahan Taliban yang menguasai Kabul menyebut serangan di pos perbatasan itu sebagai balasan atas serangan-serangan udara mematikan sebelumnya.

Laporan jurnalis AFP dan warga setempat di area Kabul dan Kandahar, seperti dilansir AFP dan France24, Jumat (27/2), menyebut rentetan suara ledakan dan jet tempur yang terbang rendah terdengar jelas pada Jumat (27/2) waktu setempat. Rentetan suara ledakan keras yang diikuti oleh suara tembakan dilaporkan terdengar selama lebih dari dua jam.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengumumkan serangan terhadap Kabul dan wilayah-wilayah Afghanistan lainnya dalam pernyataan via media sosial X.

"Target pertahanan Taliban Afghanistan menjadi sasaran di Kabul, (Provinsi) Paktia, dan Kandahar," kata Tarar dalam pernyataannya.

Menhan Asif, dalam pernyataan terpisah, menyatakan "konfrontasi habis-habisan" dengan pemerintah Taliban di Afghanistan.

"Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda," tegas Asif dalam pernyataannya.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi adanya serangan udara Pakistan di wilayah Afghanistan. Namun Mujahid mengatakan tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.

Salah satu serangan disebut melanda area Kandahar, Afghanistan bagian selatan, yang menjadi lokasi pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada.

2. 133 Petempur Taliban Tewas

Pakistan terus melancarkan serangan udara terhadap beberapa provinsi di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, pada Jumat (27/2) pagi. Pemerintahan Taliban yang berkuasa di Afghanistan mengumumkan serangan balasan telah dilancarkan terhadap pusat-pusat militer Pakistan, menyusul gempuran terbaru.

Otoritas Pakistan mengklaim pasukan militernya menewaskan 133 petempur Taliban Afghanistan dalam serangannya. Sedangkan otoritas Taliban mengumumkan serangan balasannya telah menewaskan 55 tentara Pakistan.

Pertempuran terbaru antara kedua negara yang bertetangga ini, seperti dilansir CNN, Jumat (27/2), terjadi setelah gencatan senjata yang rapuh berlaku sejak Oktober tahun lalu, dengan dimediasi oleh Qatar dan Turki, menyusul gelombang kekerasan lintas perbatasan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

"Militer Pakistan yang pengecut telah melancarkan serangan-serangan udara di beberapa wilayah Kabul, Kandahar, dan Paktia," kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam pernyataan terbarunya.

Mujahid juga mengatakan bahwa pembalasan terhadap serangan itu telah dimulai. "Operasi pembalasan besar-besaran telah dimulai kembali terhadap pusat-pusat militer Pakistan dari Kandahar dan Helmand," ujarnya.

Pakistan, dalam pernyataannya, menyebut pasukan militernya merespons serangan yang terlebih dahulu dilancarkan oleh pasukan Taliban Afghanistan pada Kamis (26/2) malam waktu setempat.

"Pasukan rezim Taliban sedang menerima hukuman di sektor Chitral, Khyber, Mohmad, Kurram dan Bajaur," kata Kementerian Informasi Pakistan dalam pernyataannya, sembari menyebut serangan Afghanistan sebelumnya sebagai serangan "tanpa provokasi".

"Pakistan akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk memastikan integritas wilayah serta keselamatan dan keamanan warganya," tegas pernyataan tersebut.

Kedua pihak melaporkan angka korban tewas yang sangat berbeda. Pakistan mengklaim serangannya telah menewaskan 133 petempur Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang lainnya.

Diklaim juga oleh juru bicara kantor Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, seperti dilansir Al Jazeera, bahwa 27 pos Taliban dihancurkan dan sembilan pos lainnya direbut. Zaidi juga menyebut bahwa lebih dari 80 unit "tank, artileri, dan kendaraan pengangkut personel bersenjata telah dihancurkan".

Mujahid, dalam pernyataannya, mengatakan tidak ada korban jiwa akibat serangan terbaru Pakistan pada Jumat (27/2) waktu setempat. Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan dalam keterangannya menyebut delapan tentaranya tewas dan 11 tentara lainnya luka-luka.

Disebutkan oleh Kementerian Pertahanan Afghanistan bahwa sekitar 13 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, juga mengalami luka-luka ketika serangan Pakistan menghantam kamp pengungsi di Nangarhar.

Setelah Mujahid mengatakan serangan balasan dilancarkan terhadap Pakistan, wakil juru bicara pemerintah Taliban, Hamdullah Fitrat, mengklaim bahwa pasukan Afghanistan telah menewaskan 55 tentara Pakistan. Fitrat juga mengklaim beberapa tentara Pakistan ditangkap hidup-hidup dan 19 pos militer Pakistan direbut.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyebut angka lebih rendah dengan mengatakan dua tentara Pakistan tewas dan tiga tentara lainnya luka-luka.

3. Pemimpin Tertinggi Taliban Dikabarkan Tewas

Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, dikabarkan tewas dalam operasi militer Pakistan di wilayah Afghanistan baru-baru ini. Kabar kematian Akhundzada ini belum dikonfirmasi oleh kelompok Taliban, yang kini menguasai Kabul.

Namun Akhundzada yang sosoknya misterius, sudah berkali-kali diterpa rumor kematian yang semuanya, sejauh ini, tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Kabar terbaru soal kematian Akhundzada dilaporkan oleh sejumlah media asing, seperti Views Bangladesh, kemudian First Post dan The Sunday Guardian, yang merupakan media-media lokal India.

Laporan-laporan itu, seperti dikutip oleh detikcom, Jumat (27/2), mengutip sumber yang sama, yakni postingan media sosial X dari sebuah akun bernama OSINT Europe, yang merupakan cabang Eropa dari Open Source Intelligence (OSINT). OSINT Europe adalah lembaga think-tank intelijen internasional.

Akun media sosial X milik OSINT Europe, dengan nama profile @Osinteurope, mengumumkan kematian Akhundzada dalam postingan pada Jumat (27/2) pagi.

"BREAKING: Pemimpin Tertinggi Emirat Islam Afghanistan, Hibatullah Akhundzada, dilaporkan tewas bersama para komandan senior Taliban setelah serangan udara Pakistan menargetkan markas besar mereka di Kabul, Afghanistan," demikian bunyi postingan @Osinteurope, yang dikutip media-media asing.

Sejumlah postingan lainnya dengan informasi serupa juga beredar luas di media sosial X.

Akhundzada yang memimpin Taliban sejak tahun 2016, kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi Emirat Islam Afghanistan, nama resmi Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban, setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO pada tahun 2021 lalu.

Pemerintah Taliban sejauh ini belum mengonfirmasi kabar kematian Akhundzada.

Halaman 2 dari 3
(fas/fas)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads