Kolom

Menikmati Islamnya Gus Baha

Joko Yuliyanto - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 09:30 WIB
Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (Foto: NU Online)
Jakarta -
Kehadiran Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha menjadi oase tersendiri bagi muslim milenial yang merindukan gagasan-gagasan Islam moderat. Ia mengimbangi atau bahkan mungkin menggeser hingar-bingar fanatisme terhadap ulama atau ustaz konservatif yang sempat menguasai jagad maya, sebut saja Felix Siauw, Khalid Basalamah, Firanda, hingga Yazid.

Konsisten menawarkan kajian dua arah (ruang bertanya-menjawab), metode kajian yang pragmatis mengenai hukum agama, membuat namanya cepat dikenal masyarakat daring. Gus Baha yang merintis karier di Yogyakarta dengan kajian-kajian ala pesantren mendadak viral kala kealimannya diakui oleh ustaz medsos seperti Ustaz Abdul Somad dan Adi Hidayat.

Pada periode pertengahan 2020, Alvara Research Center melakukan pendataan ustaz terpopuler di Indonesia. Data survei menyebut Abdul Somad adalah ustaz paling populer dengan 18,6%. Kemudian disusul KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dengan 15,7%. Di posisi ketiga dan keempat ada KH. Mustofa Bisri (8,3%) dan Abdullah Gymnastiar (5,3%). Sedangkan di posisi kelima dan keenam ada Profesor Quraish Shihab serta Ustadz Adi Hidayat, dengan masing-masing 4,9%.

Sedangkan dalam penganugerahan Dai of the Year 2020 dari Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Gus Baha berhasil mengungguli ulama/ustaz lainnya di Indonesia.

Sepanjang 2020, ustaz konservatif sudah tidak begitu diminati di dunia maya. Agenda-agenda kreatif untuk menarik basis kaum milenial juga terhenti ketika pandemi sejak Maret tahun lalu. Ketika media digital mengambil alih ruang dakwah, kajian Gus Baha yang dikenal alim dan intelektual menjadi primadona baru bagi masyarakat yang haus kajian dakwah.

Meskipun menggunakan metode ngaji pesantren dan sering menggunakan bahasa Jawa, namun gairah menuntut ilmu dengan Gus Baha tidak dapat dielakkan. Youtube sebagai platform digital yang menyediakan aneka ragam konten kajian pria berusia 50 tahun tersebut turut menyajikan kajian dengan terjemahan bahasa Indonesia. Melalui Gus Baha, kajian kitab klasik (kitab kuning) kembali diminati generasi milenial.

Berislam itu Mudah

Di banyak kesempatan, Gus Baha menekankan tentang nikmatnya menjadi seorang muslim. Penguasaan tafsir dan hadis yang begitu kaya membuat dakwahnya begitu logis diterima masyarakat. Termasuk jaminan masuk surga bagi semua orang yang beriman (muslim).

Bukan tanpa alasan, kampanye "memudahkan surga" bagi setiap orang yang pernah bersyahadat merupakan metode untuk bersaing dengan agama lain yang menjanjikan kemudahan masuk surga daripada ancaman-ancaman karena melakukan dosa/kesalahan. Tujuannya adalah tidak ada lagi orang yang takut masuk Islam karena azab dan siksa karena tidak mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Berislam itu mudah, meskipun bukan berarti mempermudah prinsip dan tata cara beragama.

Terpidana kasus Bom Bali I Ali Imron pernah mengatakan bahwa perekrutan teroris menyasar kepada preman/pelaku kemaksiatan. Dengan dalih menghapus dosa atas perbuatan dosa yang begitu besar, akhirnya satu-satunya jalan penebus dosa adalah dengan berjihad (bom bunuh diri). Kosep radikalisme dan terorisme hanya menghendaki dua hal, yakni negara islamiyah dan jihad fisabilillah. Ideologi ini yang sering mengancam dasar negara dan keutuhan NKRI dengan aksi teror dan narasi memecah belah umat.

Gus Baha menjadi peneduh para pelaku dosa dengan kisah dan kajian tafsirnya. Tidak perlu melakukan tindakan teroris yang selain mengancam keselamatan dirinya, juga mengancam keselamatan orang lain. Bertobat dan kembali berislam adalah jalan terbaik mengakui kesalahan tanpa merugikan orang lain.

Meskipun berpenampilan sederhana dengan pakaian khas santri pondok pesantren (sarung dan peci), Gus Baha nyatanya sering diajak diskusi dengan profesor ataupun ulama-ulama mancanegara. Ketekunannya mengabdikan diri untuk agama tanpa pernyataan-pernyataan yang menimbulkan kontroversi membuat Gus Baha cepat dikenal banyak orang.

Ketika sebelumnya dakwah pesantren kurang begitu diminati kaum milenial, Gus Baha membawa sesuatu yang baru dengan kajian yang moderat ala pesantren; mengedepankan akhlak dan menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan. Baginya, kebenaran tidak perlu diomongkan dengan serius dan ngotot, karena akal sehat pasti akan dipaksa menerima kebenaran. Kebenaran itu mudah diterima.

Islamnya Gus Baha mengajak untuk berpikir dan merenungi kembali tentang hakikat agama yang rahmatan lil'alamin; memberikan gambaran tentang luasnya ilmu, khususnya agama, jika dipelajari oleh seorang muslim. Hal ini seolah menjadi tamparan bagi kaum muslim konservatif yang mudah mengklaim kebenaran relatif dengan menyalahkan kebenaran kelompok atau orang lain yang berbeda mazhab atau ideologi agamanya.

Apakah layak seorang yang baru belajar agama beberapa tahun via media sosial menyalahkan Gus Baha yang sejak kecil sudah belajar kitab di pondok pesantren?

Jika pemahaman atau ilmu agama kita luas, berislam itu mudah. Menjadi susah ketika belajar agama secara instan dengan metode pengajaran yang salah. Agama bukan tentang doktrinisasi, tapi lebih kepada inspirasi. Keindahan dalam beragama adalah ajang beriklan agar bisa dinikmati banyak orang. Tanpa memarahi, menyalahkan, dan menghukum secara sosial dan agama.

Joko Yuliyanto penggagas Komunitas Seniman NU

(mmu/mmu)