Kolom Kang Hasan

Akhir Perjalanan Harun Yahya

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 18 Jan 2021 10:05 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Turki menjatuhkan hukuman penjara 1000 tahun lebih kepada Adnan Oktar. Ada banyak kejahatan yang dituduhkan padanya, mulai dari kejahatan seksual, finansial, serta kejahatan politik. Boleh jadi hukuman yang dia terima juga terkait dengan aktivitas politik dia.

Tapi siapa itu Adnan Oktar? Boleh jadi tak banyak yang mengenal nama itu, sampai disebutkan nama aliasnya: Harun Yahya. Kalau nama alias ini, banyak yang mengenalnya. Harun Yahya sangat populer di dunia Islam sejak akhir dekade 90-an. Ia memproduksi begitu banyak buku dan video tentang sains dan Islam.

Harun Yahya menguraikan begitu banyak kecocokan antara sains modern dengan ayat-ayat Quran. Ia memproduksi begitu banyak video dan buku, dan sangat laris.

Pada saat yang sama Harun Yahya juga lantang menentang teori evolusi, yang menurut dia dongeng, dan tentu saja bertentangan dengan Quran. Tema ini pun banyak mendapat sambutan. Tentu saja ia juga mendapat banyak uang dari aktivitas itu.

Tapi kenapa seorang intelektual religius bisa jadi seorang kriminal dengan berbagai kejahatan? Entahlah. Tapi kalau dilihat dari berbagai dokumentasi foto yang beredar luas, tak tampak konsistensi antara gaya hidup Harun Yahya dengan ajaran Islam yang dia ceramahkan. Boleh jadi dia memang bukan orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam.

Apa sebenarnya isi pemikiran Harun Yahya yang begitu banyak diminati orang? Sebenarnya tidak ada yang baru dalam hal kandungan. Harun Yahya boleh dibilang hanya meneruskan apa yang sudah diperkenalkan oleh Maurice Bucaille dan Keith Moore. Keduanya intelektual Barat yang diundang oleh pemerintah Arab Saudi untuk menuliskan pesan tadi, bahwa isi Quran sesuai dengan temuan sains modern. Harun Yahya memproduksi pesan-pesan itu dalam format yang populer, yaitu video dan buku-buku dengan cetakan kualitas tinggi dan ilustrasi yang menarik.

Dalam sebuah diskusi tertulis di grup para dosen, saya pernah diomeli oleh seorang dosen, karena saya mengatakan bahwa Harun Yahya itu bukan ilmuwan. Begitu mempesona video-video dan buku-buku yang dia produksi, sehingga banyak orang, termasuk kalangan terdidik yang mengira Harun Yahya itu ilmuwan hebat. Bukan. Ia tidak pernah belajar sains secara formal, tidak pula bekerja dalam riset sains. Ia hanya seseorang yang pandai memproduksi video dan buku yang menarik --tentu saja bagi orang yang tidak paham substansi.

Yang diproduksi Harun Yahya adalah hiburan. Ia memuaskan banyak pihak yang ingin mendengar, tanpa mereka perlu memahami substansinya. Begitulah profil utama para penggemar Harun Yahya. Anehnya, ada pula orang-orang yang kalau dilihat secara formal adalah orang-orang yang paham substansi, tapi mengalami fallacy dalam berpikir, sehingga mengaminkan apa yang dia bahas.

Yang dilakukan oleh Harun Yahya hanyalah pencocokan. Ia mencomot fakta sains yang digali oleh para ilmuwan, kemudian mencari ayat yang mengandung kata kunci yang sama atau mirip dengan bahasan sains itu, lalu mengarahkan pemirsa dan pembacanya untuk melakukan lompatan logika dan membuat kesimpulan: cocok! Tak jarang fakta sains pun dia pelintir agar tampak cocok.

Pola seperti itu mendapat kritik keras dari sejumlah intelektual muslim. Pada zaman dulu, sezaman dengan Bucaille dan Moore, ada Ziauddin Sardar. Kini ada Nidal Guessom, profesor astrofisika, seorang ilmuwan asli. Bagi Sardar maupun Guessoum, sambutan meriah pada karya-karya Bucaille maupun Harun Yahya berpangkal pada ketidakpahaman terhadap sains secara fundamental, ditambah kesalahan berpikir (logical fallacy). Keduanya aktif menulis artikel-artikel yang menjelaskan sains dan cara berpikir yang benar.

Soal bantahan terhadap teori evolusi pun bukan hal baru. Harun Yahya cuma mengulang bantahan-bantahan kaum kreasionis Kristen terhadap teori evolusi. Lagi-lagi ia mengemasnya dalam format yang sangat menghibur, sehingga laku keras. Persoalan mendasar dalam bantahan itu adalah, mereka tidak melakukan riset. Oleh karena itu mereka juga tidak menyodorkan teori alternatif. Ringkasnya, mereka membantah sains tidak dengan sains.

Harun Yahya mungkin akan runtuh pamornya karena kasus kriminalnya. Bisa jadi juga tidak. Hingga saat ini buku-bukunya masih jadi rujukan. Sedihnya, jadi rujukan di perguruan tinggi. Persoalannya bukan pada Harun Yahya. Tapi soal ketidakpahaman pada sains, dan kehausan pada hiburan tadi. Sebelum kasus hukum Harun Yahya ini muncul, para penikmat hiburan tadi sudah punya idola baru, Zakir Naik. Ia pernah datang ke sini, disambut sangat hangat, bahkan sampai bertemu elite pemimpin negara.

Petualangan Harun Yahya atau Adnan Oktar boleh saja berakhir. Tapi sepertinya itu cuma soal aktor saja. Kegemaran pada "hiburan sains" yang mengalahkan kemampuan mencerna sains nampaknya masih akan terus bergelora.

(mmu/mmu)