Kolom

Tangkal Hoaks Vaksin di Kalangan Umat Kristen

Yesaya Sihombing - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 13:29 WIB
Vaccine and syringe injection It use for prevention, immunization and treatment from COVID-19
Foto: Getty Images/iStockphoto/kiattisakch
Jakarta -

Seiring dengan rencana vaksinasi di Indonesia, isu-isu liar kembali bergulir di kalangan umat beragama. Di kalangan umat Islam, isu yang diangkat adalah perihal kehalalan bahan pembuatan vaksin. Dan, untuk menjawab sekaligus menangkal isu tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan status vaksin sebagai suci dan halal.

Sementara itu, bagi kalangan umat Kristen, salah satu isu yang digulirkan adalah perihal adanya microchip 666 yang nantinya akan ditanamkan ke tubuh manusia melalui vaksin. Kiriman-kiriman handai taulan perihal isu tersebut telah tersebar di berbagai Grup WhatsApp. Pada akhirnya, banyak pertanyaan yang diajukan tentang kebenaran isu liar tersebut, yang bila tidak dijawab dengan tepat, akan menimbulkan kebingungan umat.

Isu microchip 666 sebenarnya bukanlah hal baru. Hampir setiap ada kejadian, musibah, dan pandemi, seperti yang terjadi sekarang ini, isu ini selalu bergulir. Hal tersebut dapat dikatakan berawal dari studi eskatologi, atau yang sering disebut sebagai studi tentang 'akhir zaman' di kalangan umat Kristen.

Sebagian teolog menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan akhir zaman secara literal tanpa melihat konteks saat ayat tersebut dituliskan. Salah satu contoh ayat tersebut adalah: Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, yang tertulis di surat Wahyu pasal 13 ayat 16.

Ayat tersebut dianggap sebagai cara yang digunakan oleh sosok yang dijuluki sebagai 'Antikris' untuk menguasai sistem perekonomian dunia dengan menanamkan chip pada tangan dan/atau dahi seluruh umat manusia. Karenanya, bagi umat yang mempercayai penafsiran tersebut, vaksin yang dapat dianggap sebagai solusi bagi seluruh umat manusia di masa pandemi ini adalah sarana paling tepat yang dapat digunakan untuk menggenapi ayat tersebut.

Mereka meyakini akan ada microchip yang diintegrasikan di tiap vaksin yang akan disuntikkan pada manusia. Microchip itulah yang nantinya dapat digunakan oleh sang 'penguasa' untuk mendeteksi dan mengendalikan kehidupan manusia di seluruh dunia. Tidak ada orang yang dapat melakukan transaksi apapun tanpa chip tersebut.

Penafsiran tersebut tentu saja dapat menimbulkan keresahan dan ketakutan di kalangan umat. Bahkan, bisa jadi akan ada orang yang menolak untuk divaksin. Sungguh disayangkan bila hal itu sampai terjadi. Niat baik pemerintah untuk mengendalikan sekaligus menghentikan penyebaran virus corona tidak menemui sasarannya.

Karenanya, peran dari lembaga-lembaga Kristen aras nasional sangat diharapkan untuk dapat menyosialisasikan vaksinasi sekaligus juga mengedukasi umat. Apresiasi patut diberikan kepada Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang telah mengeluarkan imbauan tentang vaksinasi pada 5 Januari 2021. Dalam rilisnya, PGI menghimbau gereja-gereja untuk dapat memberikan dukungan optimal bagi pelaksanaan vaksinasi.

Di samping itu, PGI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan edukasi dan literasi secara berkelanjutan dan merata bagi masyarakat luas dengan memanfaatkan semua jejaring sosial sebagai media dan medium sosialisasi. Edukasi publik yang diharapkan tentunya berhubungan dengan distribusi vaksin, pelaksanaan vaksinasi, efektivitas vaksinasi, termasuk kemungkinan kontra indikasi dan penanganannya yang telah dipersiapkan.

Mengingat umat Kristen di Indonesia terdiri dari beragam aliran/mazhab, alangkah baiknya bila sosialisasi dan edukasi tidak hanya dilakukan oleh salah satu lembaga saja. Selain PGI, ada juga Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), misalnya. Lalu, ada juga gereja-gereja dari aliran Advent, Baptis, Bala Keselamatan, dan Ortodoks.

Sudah bukan rahasia lagi bila ada pemeluk Kristen yang sangat fanatik dengan alirannya sendiri. Ia sulit untuk menerima pendapat atau imbauan yang disampaikan oleh lembaga aras yang tidak sealiran dengannya.

Ke depannya, bagi pemerintah, alangkah baiknya bila dibentuk badan/lembaga khusus yang dapat digunakan sebagai rujukan teologis bagi seluruh umat Kristen di Indonesia. Badan tersebut nantinya dapat berfungsi layaknya MUI bagi umat muslim.

Tentu saja, orang-orang yang diharapkan tergabung di dalamnya adalah para teolog yang dianggap mumpuni, dan tidak hanya berasal dari satu aliran saja. Dengan demikian, umat tidak harus menunggu-nunggu arahan dari lembaga arasnya masing-masing. Dan nantinya tiap kebijakan dari pemerintah dapat tersampaikan dengan jelas, baik dari segi tujuan, sasaran, maupun dari sisi teologisnya.

Yesaya Sihombing pengurus Forum Komunikasi Gereja Wonosobo

(mmu/mmu)