Kolom

2021: Sisifus Harus Bahagia

Wahyu Kuncoro - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 11:42 WIB
Self-sewn mouth-nose masks against corona viruses hang on the clothesline to dry.
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Rike_
Jakarta -

Tahun 2020 tak pelak lagi menjadi sebuah tragedi dunia. Ini menjadi tahun kematian yang sangat memprihatinkan sekaligus berbeda. Mati berarti meninggal, tapi juga ditinggal. Saat para korban Covid-19 dikubur, mereka bukan saja telah meninggal, tapi juga ditinggalkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang lain yang mencintai mereka.

Kita seperti kena kutukan, sebagaimana dialami Sisifus dalam buku yang ditulis Albert Camus Mitos Sisifus (2020). Kutukan itu mulanya datang karena perilaku kita yang tamak terhadap alam sehingga habitat satwa terganggu. Sebagai akibatnya, kontak antara manusia dengan satwa menjadi tak berjarak sehingga mutasi virus dengan mudah menjangkiti manusia.

Peristiwa Wuhan adalah contoh paling nyata. Covid-19 menyebar bermil-mil jauhnya dari episentrum wabah. Siapa yang akan menduga bahwa sekarang virus itu telah mencapai sebuah kampung kecil di lereng Gunung Egon di Maumere Flores atau di tempat lain di desa tersembungi di Bangka? Saat kota-kota di mana pun di dunia terhubung dengan mudah, para penumpang membawa serta pasukan virus yang siap menulari manusia-manusia lain di sekitarnya.

Sisifus melakukan silih atas perbuatannya yang melanggar tata tertib yang dibuat dewa. Demikian juga kita, menjalani hukuman atas perilaku tamak kita terhadap alam. Alam menghukum manusia atas obsesi manusia yang mengeksploitasi alam tanpa henti. Hukuman Sisifus sangat absurd karena dia harus mendorong batu ke gunung secara terus menerus. Tiap kali batu sampai di puncak gunung, batu itu menggelinding turun lagi. Begitu seterusnya.

Menurut hemat saya, pada saat ini kita juga dituntut mengulang-ulang aktivitas yang sama (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan atau 3M). Ini menjadi persoalan keseharian kita di tengah-tengah menghadapi pandemi. Sekalipun bukan sebuah hal yang absurd, menjalankan aktivitas berulang-ulang dalam jangka waktu lama tentu tidak mengenakkan. Membatasi pergaulan sosial adalah hal yang tidak mungkin bagi kita sebagai makhluk sosial.

Pandemi mengubah kehidupan sosial kita secara radikal. Yang turut berubah tentunya jumlah kematian lebih banyak daripada kelahiran. Mungkin saja, ini merupakan kutukan dari siklus pandemi yang melanda bumi. Yuval Noah Harari (2015) mengingatkan kita bahwa pandemi merupakan peristiwa siklis yang akan datang kapan saja. Dunia yang terhubung dengan cepat menjadi neraka epidemologis bagi manusia.

Pandemi kali ini bukan peristiwa tunggal. Wabah yang juga sangat terkenal pernah terjadi adalah Maut Hitam yang muncul sekitar tahun 1330. Pada saat itu, pandemi dihadapi dengan doa-doa dan prosesi massal. Selebihnya, siapapun tak tahu bagaimana menghentikan penyebaran pandemi tersebut. Tak ada yang tahu bahwa penyebab kematian penduduk adalah benda super kecil yang disebut virus. Tak ada yang curiga bahwa maut dibawa oleh seekor kutu kecil Yersinia pestis.

Pandemi kali ini berada pada zaman yang sama sekali lain. Dalam waktu cepat, virus penyebab pandemi bisa diidentifikasi oleh para ilmuwan. Vaksin segera dikembangkan dan selama hampir setahun, vaksis telah ditemukan. Dunia tak perlu menunggu beberapa tahun lamanya. Cara memutus rantai pendemi juga segera bisa kita ketahui melalui praktik 3M. Masker dan keperluan kesehatan lain mudah diproduksi dan didistribusikan ke seluruh penjuru dunia.

Namun, ini bukan perkara mudah. Kita serta merta harus mengalami keadaan normal baru sebagai bentuk menghadapi musuh yang tiap hari memakan korban jiwa. Menerapkan normal baru menjadi bencana baru pula bagi kebanyakan dari kita. Gerak kita dibatasi, interaksi kita menjadi serba canggung, dan kita direpotkan harus memastikan segala sesuatu di sekitar kita steril dari virus.

Kita dikutuk untuk kedua kalinya. Menjadi homo socius, tak bisa dipungkiri bahwa anjuran menjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan lain merupakan kegiatan tak menyenangkan. Banyak sisi kehidupan kita dibatasi. Apa mungkin kita akan di rumah saja dalam jangka waktu tertentu? Juga terus menerapkan 3M setiap saat?
Saya pesimis kita bisa melakukan semua itu dengan disiplin tinggi. Saya melihat banyak orang mengabaikan protokol kesehatan bahkan lebih mempercayai teori konspirasi.

Kematian tidak masuk dalam kalkulasi sebagai akibat keganasan virus yang bisa diredam dengan 3M. Maka, vaksin menjadi senjata pungkas menghadapi pandemi. Namun, bagi saya, vaksin menjadi senjata pamungkas menghadapi perilaku ngeyel kita. Saat banyak orang mengabaikan protokol kesehatan, vaksin menjadi 'harapan' terakhir.

Kata 'harapan' harus saya pertegas untuk mengenali kedalaman respons kita menghadapi pandemi. Kita lebih bisa menaruh harapan daripada melakukan sesuatu yang riil. Buktinya, 3M tidak ditaati oleh sebagian dari kita. Di dalam lubuk hati terdalam, kita selalu mengharapkan agar pandemi segera berakhir. Harapan adalah doa. Kita kembali seperti menghadapi pandemi Maut Hitam tahun 1330.

Doa dan prosesi massal menjadi jawaban dari ketidaktahuan penduduk bagaimana memutus rantai penyebaran virus mematikan tersebut. Tapi, memanglah demikian kita. Kita telah mengerti bagaimana kita bisa menjadi pahlawan modern untuk membantu mengalahkan pandemi pada zaman ini, tetapi tidak melakukannya secara serius. 3M kita jalankan setengah-setengah. Karenanya, kita masih diuji untuk berkontribusi menghadapi pandemi.

Menaruh harapan lebih gampang. Harapan adalah jampi-jampi "kebijaksanaan purba yang mengafirmasi kepahlawanan modern" (meminjam frasa Albert Camus). Cukupkah itu untuk membuat tahun 2021 lebih membahagiakan? Sisifus harus bahagia, menurut Camus. Namun, adakah yang bisa membuat lebih bahagia selain menaruh harapan? Selamat berefleksi dan menaruh harapan untuk tahun 2021 yang lebih membahagiakan!

(mmu/mmu)