Analisis Zuhairi Misrawi

Manuver Terakhir Trump di Timur-Tengah

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 09:38 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak hanya membuat kekisruhan politik di dalam negeri dengan menolak kekalahan dalam pilpres yang digelar awal November lalu, tetapi juga terus bermanuver untuk menancapkan ambisinya sebagai penguasa absolut di Timur-Tengah. Tidak ada angin tidak ada hujan, dalam seminggu terakhir, beberapa sosok penting di Iran tewas dalam serangan brutal. Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir, serta Muslim Shahdan, komandan Garda Revolusi di Suriah dan tiga pengawalnya menjadi korban pembunuhan di Suriah.

Pembunuhan terhadap sejumlah sosok penting di Iran ini memperjelas kasak-kusuk yang muncul di laman media bahwa Trump ingin mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden AS dengan cara melancarkan serangan militer ke Iran. Hal tersebut ditandai dengan pertemuan tertutup antara Netanyahu dan Muhammad bin Salman, kunjungan Pompeo, Melu AS ke sejumlah negara di Timur-Tengah, termasuk Turki, serta manuver Uni Emerate Arab (UAE) pasca-kerja sama politik dengan Israel.

Trump memandang, tidak ada pilihan lain dalam rangka mengisolasi Iran dari mitra strategisnya di Timur-Tengah, seperti Turki dan Qatar, kecuali dengan cara melancarkan serangan militer. Dan untuk mendapatkan justifikasi serangannya, Trump bersama jemaahnya di Timur-Tengah, terutama Israel, Arab Saudi, dan UAE terus melakukan prakondisi dengan membunuh sosok penting di Iran, seperti Mohsen Fakhrizadeh dan Muslim Shahdan. Trump sedang memancing aksi pembalasan dari Iran, sehingga ia mendapatkan legitimasi untuk melakukan serangan balik yang lebih besar.

Sementara itu, Presiden Iran Hasan Rouhani dan Menlu Javad Zarid serentak mengatakan bahwa Israel di balik serangan terencana yang menyebabkan syahidnya dua sosok penting tersebut. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, Iran menyebut adanya konspirasi antara AS, Israel, Arab Saudi, dan UAE untuk menciptakan kekisruhan politik yang lebih besar di kawasan.

Lebih jauh lagi, sebenarnya apa yang dilakukan Trump bersama Israel, Arab Saudi, dan UAE itu mempunyai tujuan yang tidak sederhana. Hal tersebut terkait dengan pernyataan Biden yang ingin memulihkan kembali kesepakatan nuklir dengan Iran yang dikukuhkan pada kepemimpinan Obama, lalu dibatalkan Trump. Biden sebagai Presiden terpilih AS ke-46 mempunyai komitmen mewujudkan perdamaian di Timur-Tengah dengan merangkul Iran.

Intinya, Trump bersama Israel, Arab Saudi, dan UAE hendak membangun opini bahwa Iran adalah musuh bersama, karenanya harus diisolasi, dan kalau perlu harus digempur secara bersama-sama. Tujuan utamanya, Biden dapat membatalkan rencana renegosiasi dengan Iran perihal kesepakatan nuklir. Biden hendak didikte untuk melanjutkan perundingan dengan Iran.

Iran sendiri berusaha untuk selalu terukur dalam menyikapi apa yang terjadi di Timur-Tengah dalam seminggu terakhir ini. Iran hanya berjanji akan melakukan balasan yang pantas dan tepat. Iran juga memahami rencana busuk yang hendak dilancarkan oleh Trump dan mitra strategisnya di kawasan. Sebab itu, Iran akan sangat hati-hati dalam mengambil langkah besar dalam rangka melakukan pembalasan atas para pejuangnya tadi.

Apa yang terjadi pasca-kemartiran Qassem Soleimani dapat menjadi pelajaran berharga karena AS dan mitra strategisnya di Timur-Tengah telah menyusun langkah-langkah besar yang ingin menjadikan Iran sebagai musuh bersama. Manuver Trump di akhir masa-masa kepemimpinannya di Gedung Putih harus dianalisis dengan cermat karena tidak menutup kemungkinan sebagai Panglima Tertinggi militer AS, ia akan mengambil keputusan besar untuk menyerang Iran.

Jika Trump pada akhirnya benar-benar melakukan serangan militer ke Iran, maka ini akan menjadi preseden buruk bagi matinya nalar dan hati nurani karena AS akan dicatat sebagai penjajah besar. Melakukan pembunuhan terhadap sosok penting seperti Qassem Soleimani, Mohsen Fakhrizadeh, dan Muslim Shadah merupakan sebuah tindakan yang sangat tidak manusiawi. Apalagi Trump melakukan serangan militer di tengah suasana pandemi yang meniscayakan tumbuhnya kemanusiaan dan persaudaraan sejati.

Apa yang dilakukan oleh AS bersama mitra strategisnya terhadap Iran semakin mengukuhkan wajah AS sebagai penjajah di Timur-Tengah. Ironisnya, penjajahan AS yang terus berlangsung tersebut justru didukung oleh negara-negara Arab Teluk, seperti Arab Saudi dan UAE. Mereka memilih berkongkalikong dengan AS dan Israel daripada memastikan perdamaian dan persaudaraan dengan Iran, saudara mereka seagama dan seiman. Sungguh ironis dan tidak bisa dipercaya sama sekali.

Namun, itulah peta politik dan peta geopolitik di Timur-Tengah yang sama sekali jauh dari rasionalitas dan kearifan dalam melihat masa depan negeri para Nabi itu. Trump ingin Timur-Tengah terus bergejolak dan memastikan Israel mendapatkan keuntungan politik dari gonjang-ganjing politik yang berlangsung dalam empat tahun terakhir sejak ia memimpin AS hingga sekarang ini.

Satu bulan terakhir, menjelang pelantikan Biden sebagai Presiden AS ke-46, Timur-Tengah akan penuh ketidakpastian perihal rencana busuk Trump melakukan serangan militer ke Iran. Trump bisa kapan saja mengambil opsi militer karena ia dikenal sebagai pemimpin yang tega dan nekad. Ia akan melakukan apa saja agar Iran terus semakin terisolasi, dan pada akhirnya akan menjadi musuh bersama di kawasan.

Namun, jalan Trump tersebut tidak akan berjalan mulus. Selain Biden yang memberikan sinyalemen memulai perundingan dengan Iran dalam kesepakatan nuklir, Kongres AS baru saja mengeluarkan kebijakan untuk menarik pasukan dan persenjataan dari Yaman. Hal tersebut sejalan dengan visi politik luar negeri Biden dengan memilih jalan damai dalam menyikapi gejolak politik di Timur-Tengah.

Maklum, Yaman dalam beberapa tahun terakhir menjadi lokus pertarungan politik antara Arab Saudi dan UAE melawan kubu Houthi yang dekat dengan Iran. Sikap Kongres AS menarik pasukan dan persenjataan dari Yaman merupakan kode keras agar AS diceraikan dari mitra strategisnya, dari Arab Saudi dan UAE. Dan pada akhirnya, AS agar berjarak dengan visi politik kubu kanan Israel, Netanyahu.

Semua itu akan terus bergulir dan menggelinding hingga pelantikan Presiden Joe Biden pada awal Januari nanti. Skenario apapun bisa saja terjadi karena dalam kurun waktu hingga pelantikan, Trump masih memegang kendali politik di AS dan Timur-Tengah. Tetapi, Trump juga harus mempertimbangkan kondisi objektif pandemi dan politik dalam negeri AS yang sedang tidak berpihak pada dirinya.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Muslim, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)