Kolom

Politik Ekologi Wisata Premium Pulau Komodo

Punta Yoga Astoni - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 16:02 WIB
Pembangunan Pulau Rinca di Taman Nasional Komodo mengundang polemik dari beragam pihak. Hasrat Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun jurassic park itu kini mendapat kritikan tajam.
Foto: 20detik
Jakarta -

Indonesia dikenal memiliki Pulau Bali sebagai destinasi wisata andalannya, namun kekayaan potensi pariwisata yang dimiliki oleh negara ini jauh lebih besar dari sekadar melihat potensi Bali saja. Salah satu potensi wisata yang dimiliki oleh Indonesia adalah keberadaan komodo (hewan purba) di Pulau komodo, Nusa Tenggara Timur. Potensi ini sepertinya ingin dimanfaatkan oleh pemerintah dengan menjadikannya kawasan di Labuan Bajo ini salah satu Destinasi Pariwisata Super Premium pada Juli 2019 lalu.

Pulau Komodo sendiri sebenarnya bukan kawasan biasa yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun kepulauan yang menjadi habitat komodo ini adalah sebuah kawasan Taman Nasional yaitu kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (UU No 5/1990).

Status kawasan konservasi inilah yang seharusnya menjadi landasan konsep pengembangan nilai ekonomi, namun adanya status kebijakan wisata super premium sepertinya menjadi masalah baru yang harus segera diselesaikan secepatnya.

Kepentingan Manusia

Ada suatu pandangan dalam etika dan filsafat lingkungan hidup yang dikenal dengan sebutan antroposentrisme, yang secara sederhana menyatakan bahwa sebuah prinsip etis berkaitan dengan lingkungan hidup ditentukan oleh kepentingan manusia. Pada perkembangannya memang pandangan ini memiliki antitesis dengan pandangan biosentrisme atau bahkan ekosentrisme.

Namun pandangan kapitalisasi kepentingan manusia pada hubungan dengan lingkungan hidup masih tumbuh subur di era sekarang. Komodo hanya dipandang sebagai objek komoditas ekonomi saja tanpa dilihat sebagai salah satu mata rantai dalam sebuah ekosistem pada wilayah tersebut. Hal yang sepertinya dilupakan oleh manusia adalah keberadaan komodo sebagai hewan purba yang masih hidup sampai sekarang dikarenakan ekosistem habitat di kawasan tersebut terjaga beratus tahun lamanya.

Semangat adanya upaya konservasi harus dimaknai sebagai semangat pelestarian alam beserta potensi lingkungan di dalamnya. Nilai ekonomi yang sebenarnya hanya dirasakan oleh manusia tidak boleh melebihi upaya konservasi itu sendiri. Penetapan kawasan premium ini seperti melabeli komodo adalah barang yang mahal, maka untuk mendapatkan manfaatnya kita harus membayar mahal.

Pandangan antro ini dapat pula dilihat dari betonisasi dan penataan ulang dari kawasan yang semula hanya memiliki zona inti dan zona rimba di kawasan Taman Nasional Komodo dikembangkan muncul zona pemanfaatan di kawasan tersebut. Perubahan zonasi ini tentu tidak dapat dipandang sederhana. Adanya kepentingan pemerintah pusat dan kepentingan pemerintah daerah menjadi salah satu akar permasalahan politik ekologi Taman Nasional yang susah untuk diselesaikan.

Namun terlepas dari itu, semua pengelolaan Taman Nasional tidak serta merta selesai dengan membungkus kawasan tersebut bak surga "Jurasic Park" saja. Apalagi cara yang dipakai adalah swatanisasi secara bebas tanpa mengindahkan prinsip pengelolaan kawasan konservasi.

Perlindungan Kawasan

Secara umum prinsip pengelolaan kawasan konservasi meliputi tiga tujuan. Pertama, perlindungan kawasan dengan objeknya adalah lingkungan hidup berserta semua sumber daya alam di dalamnya. Perlindungan adalah tujuan utama dalam upaya konservasi lingkungan hidup.

Upaya menjaga ini memiliki tingkat berbeda tergantung status sebuah kawasan konservasi. Misalnya kawasan cagar alam adalah kawasan yang peruntukan perlindungan lingkungannya paling maksimum dibanding kawasan lain dan taman wisata alam yang memiliki kekuatan kawasan lindung yang lebih sedikit daripada yang lain.

Kedua, tujuan pelestarian yang memiliki objek nilai ekonomi di dalamnya. Kawasan yang dapat lestari bisa disebut kawasan yang memiliki nilai ekonomi yang panjang dan besar dikarenakan nilai tersebut akan dimanfaatkan lintas antargenerasi. Nilai ekonomi ini adalah titik tengah dari cara pandang konservasi dengan eksploitasi. Nilai ekonomi tidak cukup ditentukan hanya dengan menyebut sebagai kawasan premium saja, namun juga harus diimbangi dengan visi kelestariannya.

Nilai ekonomi yang dimiliki oleh Taman Nasional Komodo harus dihitung dari cara pandang pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang hanya melihat satu generasi akan membahayakan kelestarian kawasan tersebut. Pembangunan yang berasal dari atas (penguasa) dan tidak melihat daya dukung masyarakat lokal sama saja membunuh ekosistem yang sudah ada.

Masyarakat lokal sekitar kawasan harus menjadi tuan rumah yang telah menjaga ekosistem komodo berjalan selama bertahun-tahun. Bukti nyatanya tentu tidak arif jika hanya diukur dengan nilai rupiah saja, namun juga harus dilihat pola hubungan masyarakat lokal dan komodo ini adalah pola hubungan yang cukup berhasil dalam upaya pelestarian komodo sebelum era paradigma kawasan premium ini.

Ketiga, tujuan pemanfaatan yang memiliki objek sosial/budaya ini dilihat sebagai suatu kesatuan ekosistem yang mempengaruhi kelestarian komodo. Budaya yang menjadi sebuah budaya lokal/adat bisa dijadikan cerminan untuk mengelola kawasan ini. Paham pariwisata modern tidak sepenuhnya benar dan bisa cocok diberlakukan di suatu kawasan.

Hal yang perlu diketahui adalah setiap kawasan konservasi memiliki kekhasan masing-masing sehingga generalisasi sistem pengelolaan adalah kebijakan yang tidak tepat. Keran investasi swasta dengan membawa konsep ekowisata modern (taman bermain, resor, kawasan ekonomi modern, dan lain-lain) tidak boleh dikatakan sebagai jawaban atas kurangnya pengoptimalan jasa lingkungan di kawasan Taman Nasional Komodo ini.

Persepsi pengelolaan kolaborasi tidak hanya dilihat sebagai upaya konservasi semata, tidak pula dilihat sebagai upaya peningkatan nilai ekonomi melalui investasi swasta. Tapi, harus melihat upaya pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat lokal sehingga kawasan konservasi tetap terjaga, nilai ekonomi wilayah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan terpenuhi dengan baik.

Bali mungkin bisa menjadi contoh kebudayaan tradisional dan infiltrasi investasi swasta pada sektor wisata, namun konsep pariwisata Bali harus dilihat sebagai salah satu cermin, bukan menjadi patokan untuk kawasan Taman Nasional Komodo bertransformasi jadi "Bali baru" seperti yang dikampanyekan pemerintah.

Punta Yoga Astoni Magister Hukum Universitas Indonesia

(mmu/mmu)