Ketua MPR: BUMN Berakhlak Tak Boleh Jadi Seremonial Tanpa Makna

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 16:35 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo ngobrol bareng Founder ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian yang ditayangkan di kanal YouTube Bamsoet Channel. Dalam obrolan tersebut, pria yang disapa Bamsoet itu mengupas keterlibatan ESQ LC dalam perubahan mindset di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui core values BUMN Berakhlak.

"Pak Ary Ginanjar mengungkapkan keterlibatan ESQ dalam core values BUMN Berakhlak bertujuan membangun beberapa elemen dalam BUMN. Antara lain holistic human dimensions, inside out approach, top down matrix, dan start from you," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2020).

"Pada intinya, menggerakkan 'alam bawah sadar' manusia, dalam hal ini pegawai BUMN, untuk menyadari bahwa bekerja adalah bagian dari amal ibadah. Tak sepatutnya ditujukan hanya sekadar untuk memperkaya diri melalui tindakan kejahatan ataupun perbuatan tak mulia," imbuhnya.

Ketua DPR RI ke-20 ini memaparkan sepanjang 2015-2019, Kementerian Keuangan masih harus mengalokasikan Penyertaan Modal Negara (PMN) terhadap berbagai BUMN akibat ketidakmampuan BUMN bekerja maksimal untuk menghasilkan laba yang besar bagi negara.

Antara lain sekitar Rp 65,6 triliun di tahun 2015, Rp 51,9 triliun pada tahun 2016, Rp 9,2 triliun pada 2017, Rp 3,6 triliun pada 2018, dan Rp 20,3 triliun pada 2019. Di tahun 2020, diperkirakan Rp 18,73 triliun uang rakyat akan dialokasikan untuk PMN ke berbagai BUMN.

"Dalam laporan Kementerian Keuangan yang disampaikan di akhir tahun 2019 lalu, sebanyak 12 dari 113 BUMN masih mencatat kerugian di tahun 2018. Antara lain Jiwasraya yang rugi Rp 15,83 triliun, Krakatau Steel yang rugi Rp 1,08 triliun, kemudian Perum Bulog yang mencatat kerugian Rp 923,23 miliar. Total kerugian 13 BUMN di tahun 2018 tercatat mencapai Rp 19,43 triliun," ungkap Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan melalui core values BUMN Berakhlak, diharapkan para pekerja dan pimpinan BUMN bisa membuat BUMN tak lagi merugi. Melalui profesionalitas, BUMN harus bisa mendatangkan keuntungan sebesarnya bagi kemakmuran bangsa. Bukan justru terus menerus bergantung dari negara melalui PMN.

"BUMN Berakhlak tak boleh menjadi seremonial ataupun ungkapan tanpa makna. Pada akhirnya waktulah yang akan membuktikannya. Apakah core values BUMN Berakhlak bisa menjadi salah satu jawaban untuk meningkatkan kinerja BUMN. Atau hanya akan menjadi pemanis di atas kertas yang pada akhirnya menguap begitu saja," jelasnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mengajak Ary Ginanjar turut menyosialisasikan materi kebangsaan berupa Empat Pilar MPR RI di dalam berbagai pelatihan ESQ yang dilakukannya.

Sebab, kata dia, derasnya arus globalisasi yang menawarkan gaya hidup dan berbagai paham yang tidak selaras dengan jati diri keindonesiaan, memunculkan kekhawatiran bahwa semangat kebangsaan akan semakin memudar dan kian terpinggirkan oleh nilai-nilai asing.

"Di tengah tekanan arus globalisasi di era disrupsi, di mana informasi global dapat dengan leluasa kita akses tanpa filter, maka membumikan Pancasila akan dihadapkan pada berbagai tantangan. Atas nama modernitas zaman, globalisasi telah menawarkan nilai-nilai, paham, konsep dan gagasan yang dikemas seakan-akan lebih menarik daripada nilai nilai Pancasila," pungkas Bamsoet.

(prf/ega)