Kolom

Politik Tubuh Sara

Karyudi Sutajah - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 13:50 WIB
Rahayu Saraswati atau Sara Djojohadikusumo menjalani sesi foto di kantor detikcom
Sara Djojohadikusumo, calon wakil wali kota di Pilkada Tangsel 2020 (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -

Entah dari mana Cipta Panca Laksana beroleh referensi tentang, maaf, mulusnya paha Rahayu Saraswati Djojohadikusumo alias Sara. Apakah ia pernah melihatnya sendiri, baik langsung atau pun lewat gambar, menurut cerita orang lain, atau hanya asumsi dirinya sindiri. Kita tidak tahu pasti. Yang pasti, politisi Partai Demokrat itu mencuit di akun Twitter-nya, Jumat (4/9) tentang paha calon wakil wali kota Tangerang Selatan, Banten itu, yang ia sebut "mulus banget".

Paha perempuan memang sensitif, baik bagi si empunya maupun orang lain, terutama laki-laki. Sebab itu, cuitan soal paha tersebut langsung "disambar" Said Didu. Bekas Sekretaris Kementerian BUMN ini "menantang" Panca untuk menunjukkan foto paha tersebut. Tanpa foto, kata Didu, maka "hoax" (bohong).

Cuitan itu pun langsung direspons banyak warganet yang umumnya mengecam Panca dan Didu.

Panca memang tidak menyebut nama. Namun satu-satunya calon wakil wali kota dalam Pilkada Tangsel 2020 adalah Sara. Ada perempuan lain, memang, yakni Siti Nur Azizah. Tetapi, putri Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin ini adalah calon wali kota Tangsel. Jadi, cuitan Panca itu langsung dikaitkan dengan Sara.

Dalam Pilkada Tangsel 2020, Sara yang anggota DPR tersebut berpasangan dengan calon wali kota Muhammad. Keduanya diusung PDIP, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Partai Hanura dengan total dukungan 23 kursi di DPRD Tangsel.

Adapun Siti Nur Azizah berpasangan dengan Ruhamaben, diusung Partai Demokrat tempat Panca berada, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan total dukungan 17 kursi.

Satu pasangan calon lainnya adalah Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan yang diusung Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Bulan Bintang (PBB) dengan total dukungan 10 kursi.

Disengaja atau tidak, disadari atau tidak, anggota tubuh Sara bernama paha itu telah mengalami politisasi. Tubuh Sara telah memasuki wilayah politik. Bukan oleh Sara, melainkan oleh Panca yang partainya mengusung kandidat lain. Terjadilah politik tubuh di sana.

Kalau yang mencuit bukan politisi, dan yang dicuit pun bukan paha politisi, mungkin tak akan terjadi politisasi tubuh.

Memang, paha mulus identik dengan kecantikan perempuan. Kecantikan merupakan penopang utama eksistensi perempuan. Makin cantik, makim menarik, makin eksislah perempuan.

Seseorang yang eksistensinya diakui publik lebih mudah untuk masuk dan berkiprah di ranah politik. Termasuk eksistensi yang ditopang kecantikan, karena politik adalah soal persepsi, dan kecantikan juga soal persepsi.

Terbukti kemudian, tingkat kecantikan paralel dengan popularitas dan elektabilitas. Hal ini salah satunya sudah terbukti dalam Pemilu 2019.

Di Jawa Tengah, misalnya, seorang calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang berparas cantik, meski relatif belum punya nama, Denty Eka Widi Pratiwi, terpilih ke Senayan mengalahkan kandidat-kandidat lainnya, termasuk yang sudah punya nama besar.

Cleopatra (69-30 SM) pun salah satunya memanfaatkan kecantikan parasnya dan kemolekan tubuhnya untuk meraih ambisi-ambisi politiknya, sehingga berhasil menjadi Ratu Mesir. Cleopatra berhasil "menaklukkan" dua jenderal sekaligus, yakni Julius Caesar dan Mark Anthony.

Lolosnya Desy Ratnasari (PAN), Arzeti Bilbina (PKB), Krisdayanti (PDIP), Okky Asokawati (PPP/Nasdem), Rachel Maryam (Gerindra), dan Marissa Haque (PDIP) ke Senayan juga tak bisa dilepaskan dari eksistensi yang ditopang oleh kecantikannya, tidak semata-mata pencapaian prestasinya di dunia hiburan.

Begitu pun Airin Rachmi Diany, yang dua kali terpilih sebagai Wali Kota Tangsel, tak bisa dilepaskan dari eksistensi karena kecantikannya. Airin pernah terpilih sebagai None Jakarta.

Blessing in Disguise

Tanpa disadari, cuitan Panca itu menjadi blessing in disguise (berkah di balik malapetaka) bagi Sara. Nama Sara yang sudah meroket kini bertambah meroket lagi karena cuitan Panca itu. Nama Sara kian populer. Popularitas sering kali paralel dengan elektabilitas.

Mengapa disebut musibah? Karena cuitan Panca yang menyebut paha itu bisa masuk delik pidana, dikategorikan sebagai pelecehan seksual. Dalam konteks ini, Sara bisa mengambil langkah hukum terhadap Panca maupun Didu.

Namun, di balik malapetaka itu ada sesuatu yang bisa disebut sebagai "berkah" bagi Sara, yakni naiknya popularitas keponakan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan tersebut.

"Berkah" itu akan menjadi lebih besar bila Sara mengambil langkah hukum terhadap Panca dan Didu. Sebab, cuitan Panca itu telah melukai common sense (perasaan umum), terutama kaum perempuan. Panca dan Didu bahkan bisa menjadi common enemy (musuh bersama), terutama bagi kaum Hawa. Sara pun bisa mencuri poin politik dari kasus ini.

Bagi Didu, ini adalah ironi dia sebagai salah seorang deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang katanya sebagai gerakan moral. Bagaimana bisa Didu melakukan gerakan moral bila moral dia sendiri perlu diselamatkan?

Ini juga bukan yang pertama kali dugaan pelecehan perempuan dilakukan Didu. Sebelumnya, laki-laki gaek itu pernah mencuit soal ukuran bra 38B untuk membalas cuitan lawan percakapannya di Twitter, medio Juni 2018.

Ironi bagi Didu juga terjadi lantaran dia menyerang secara verbal keponakan Prabowo Subianto itu. Bukankah pada Pilpres 2019 Didu merupakan pendukung utama Prabowo? Apa sekarang sudah pecah kongsi lantaran Prabowo bergabung dengan kabinet Presiden Jokowi?

Dus, akankah Sara mulus memperkarakan Panca dan Didu? Akankah putri taipan Hashim Djojohadikusumo itu mulus melenggang ke kursi Tangsel-2? Bila mulus, apakah kemulusannya itu karena eksistensi yang ditopang kecantikannya? Biarlah waktu yang menjawabnya.

Karyudi Sutajah Putra pegiat media, tinggal di Jakarta

(mmu/mmu)