Kolom

Jurnalisme 'Berdamai' dengan SEO di Google, Mungkinkah?

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 10:33 WIB
Erwin Dariyanto
Erwin Dariyanto (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Jakarta -

Dua pekan lalu, seorang kawan jurnalis senior yang pernah satu kantor dengan saya menyampaikan kegelisahannya soal tren dunia jurnalisme saat ini, khususnya di media online. Sebab pangkalnya, kawan yang telah malang melintang sejak naskah koran harus diketik dengan mesin tik sampai masuk zaman generasi Z itu dipaksa 'patuh' pada Google saat menulis sebuah artikel.

Tujuannya agar artikel tersebut mendatangkan performa traffic yang bagus di mesin perambah Google. Agar tujuan tersebut bisa dicapai tulisan harus dibuat dengan ramah Search Engine Optimization (SEO) atau SEO Friendly. Nah, apabila tak 'patuh' pada aturan SEO sebagus apapun tulisan yang ada di media online akan sulit mendapatkan pembaca banyak.

Sebaliknya, meski jelek sebuah tulisan asal memenuhi kaidah SEO, yang memang tujuannya mengoptimalkan jumlah pembaca lewat Google, akan dengan gampang mendapatkan pembaca. Sebuah tulisan yang dibuat dengan memenuhi kaedah SEO bakal mudah berada di posisi teratas halaman pertama Google. Dengan berada di posisi teratas inilah peluang keterbacaan sebuah artikel menjadi lebih besar.

Media online pun akan berlomba menempatkan agar produk artikelnya berada di posisi teratas halaman pertama Google untuk mendulang traffic. Saat ini setidaknya ada 3 kategori sumber traffic media online. Pertama, direct traffic yakni pembaca yang langsung membaca artikel dengan cara mengetikkan alamat website di browser. Kedua, social traffic yaitu pembaca yang datang dari media sosial seperti Facebook , Twitter, atau Google Plus.

Ketiga, organic traffic. Ini adalah traffic dari user yang mengeklik kata kunci tertentu di mesin perambah semacam Google, Yahoo, Bing dan lain sebagainya. Semua media online akan memaksimalkan ketiga sumber tersebut untuk mendapatkan traffic. Bagi seorang jurnalis, direct traffic dan social traffic tak akan menimbulkan masalah. Sebab tidak berhubungan dengan materi dan gaya penulisannya. Asal strategi tim content delivery bagus dan solid, artikel bisa dipromosikan lewat berbagai platform agar keterbacaannya tinggi.

Yang jadi masalah adalah untuk mendapatkan organic traffic, artikel produk jurnalisme sekalipun harus 'patuh' pada Google, ditulis dengan memenuhi kaidah SEO alias SEO friendly. Bagi kawan saya yang jurnalis senior tadi, ini adalah perkara yang menjengkelkan. Puluhan tahun dia belajar jurnalisme, supaya bisa menulis artikel yang renyah dibaca dan informatif kini dipaksa takluk dengan SEO Google.

Tren ini pun akhirnya juga mempengaruhi rapat redaksi sebuah media online. Kini editorial meeting tak hanya diikuti oleh jajaran Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur ,dan staf redaksi saja. Melainkan harus melibatkan tim SEO Specialist. Bahkan tak jarang, usulan liputan justru datang dari tim SEO specialist ke redaksi. Menggunakan sejumlah tool yang tersedia di Google mereka bisa 'memprediksi' kata kunci yang bakal menjadi trend pencarian terbanyak di internet.

Nah, baik usulan liputan datang dari redaksi mau pun tim SEO specialist tahap selanjutnya adalah kata kunci terpopuler dari tema liputan. Inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai kata kunci artikel. Tim SEO specialist akan memberikan rekomendasi agar, kata kunci tersebut diletakkan di judul, ringkasan artikel, alinea pertama, di bagian tengah dan bagian akhir artikel.

Kaidah penempatan kata kunci dalam artikel inilah yang sering menjadi masalah bagi seorang jurnalis. Beberapa memilih bertahan tidak mau patuh pada aturan SEO. Bagi penganut 'mazhab' ini, kepuasan pembaca adalah yang utama. Sebuah artikel berita sebisa mungkin tak hanya memberikan informasi, tapi juga bisa menjadi hiburan karena enak dibaca.

Ada juga yang patuh pada kaidah SEO dan menomorduakan teknik penulisan jurnalisme dan tata bahasa. Padahal dalam beberapa kasus, ada kata kunci pencarian terpopuler di Google tidak sesuai dengan pakem penulisan jurnalistik juga tata bahasa. Tapi bagaimanapun, menurut mereka, tingkat keterbacaan sebuah artikel itu sangat penting. Buat apa artikel ditulis kalau tidak banyak yang membaca.

Namun, tak sedikit jurnalis yang memilih jalan 'damai' atau kompromi: memadupadankan teknik penulisan jurnalistik dengan kaidah SEO. Mereka tetap menerima masukan dari tim SEO Specialist terkait penempatan kata kunci dalam sebuah artikel. Tapi penempatan kata kunci dalam judul, ringkasan dan bagian dalam artikel tersebut diramu sedemikian rupa sehingga menjadi kalimat yang renyah, informatif dan memiliki keterbacaan tinggi karena SEO friendly.

Sayangnya, algoritma Google sering berubah-ubah tanpa pemberitahuan. Perubahan algoritma ini mempengaruhi teknik penulisan yang ramah SEO. Atas perubahan tersebut, siap tidak siap, seorang jurnalis atau pun penulis content harus siap. Sebab, "Bukan yang terkuat yang bertahan, melainkan mereka yang paling adaptif menghadapi perubahan." Begitu kata mutiara dari Charles Robert Darwin.

Erwin Dariyanto jurnalis, mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia

(erd/erd)