Kolom Kang Hasan

Mengatasi Kendala Pendidikan Jarak Jauh

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 09:40 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Dalam pengumuman tentang kebijakan belajar selama masa pandemi minggu lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkapkan sejumlah kesulitan dalam sistem pembelajaran jarak jauh yang selama ini diterapkan selama pandemi Covid-19. Ada kendala infrastruktur, yaitu soal ketiadaan jaringan internet yang memadai. Ada pula kendala lain yang tidak kalah besar yang secara umum bisa kita sebut sebagai ketidaksiapan seluruh sistem pendidikan kita untuk melaksanakan sistem pendidikan jarak jauh ini.

Kalau bicara soal tidak siap, tidak ada orang, lembaga, bahkan negara yang benar-benar siap menghadapi situasi ini. Jadi, tidak siap itu wajar. Yang penting sekarang bagaimana kita menyesuaikan diri.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa selama masa belajar jarak jauh yang sudah berjalan selama ini para guru terkesan sekadar mengejar tuntutan kurikulum saja. Sebenarnya ini juga bukan hal baru. Sebelum pandemi, dalam sistem belajar tatap muka pun keadaannya sudah begitu. Bagi saya, kurikulum itu sebuah ironi. Kita membuat kurikulum untuk memandu dan memudahkan kegiatan belajar mengajar. Tapi di lapangan, kurikulum justru menjadi beban bagi guru-guru dan murid-murid.

Masalah utama yang saya rasakan sebagai orangtua yang mendampingi anak-anak saya belajar adalah kurikulum pendidikan kita terlalu banyak isinya dan terlalu berat materinya. Khususnya pada pendidikan di tingkat dasar, yaitu SD dan SMP. Di masa itu anak-anak seharusnya dididik untuk melatih proses berpikir dengan banyak-banyak eksplorasi, namun mereka dijejali dengan begitu banyak informasi yang harus mereka ingat. Akhirnya yang terjadi adalah kegiatan menghafal.

Dalam sistem belajar tatap muka saja kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum ini sudah berat. Tentulah ia jadi lebih berat ketika diterapkan dalam sistem jaringan. Para guru diminta mengajar dengan sistem jarak jauh, memakai materi dan kurikulum tatap muka, tanpa modifikasi yang memadai. Itu bukan hanya sulit, tapi mustahil.

Kendala lain ada pada murid dan orangtua. Para guru mengajar dengan pola pikir tatap muka di kelas yang dipaksakan untuk disiarkan melalui jaringan. Murid yang terbiasa belajar dengan sistem tatap muka juga kelabakan dengan sistem baru ini. Apalagi para orangtua. Kebanyakan orangtua tidak terlibat dalam kegiatan belajar anak-anaknya. Kini mereka harus terlibat. Jangankan secara keterampilan, secara mental pun mereka tidak siap. Akibatnya, banyak orangtua yang stres, lalu berujung pada kekerasan terhadap anak.

Lalu apa yang harus dilakukan? Yang terpenting menurut saya mengubah pola pikir kita soal pendidikan. Namanya juga keadaan darurat, tentu kita tidak bisa berharap hasil yang sama seperti keadaan normal. Pabrik-pabrik, misalnya, banyak yang hanya beroperasi dengan kapasitas di bawah 50% kapasitas maksimalnya. Tentu tidak patut bila kita berharap sekolah menelurkan hasil normal.

Yang harus kita lakukan adalah menurunkan ekspektasi kita ke tingkat minimal. Karena itu Menteri Pendidikan mengeluarkan kebijakan soal kurikulum darurat. Kurikulum ini seharusnya disiapkan sejak masa awal pandemi, bukan setelah ada masalah. Dalam hal ini Kementerian Pendidikan lambat mengantisipasi.

Apa hal minimal yang harus kita pertahankan? Pertama, kebiasaan belajar anak. Anak harus dipantau, dikawal, untuk mempertahankan kebiasaan belajar. Karena perubahan keadaan, kebiasaan mereka selama ini, bangun pagi lalu berangkat ke sekolah, menjadi tiada. Secara alami itu akan mengubah pula persepsi mereka tentang kewajiban dan kebutuhan belajar. Perubahan persepsi ini tidak boleh terjadi. Anak-anak harus dijaga agar tidak menganggap situasi ini adalah situasi libur yang sangat panjang.

Bagaimana caranya? Di sini orangtua harus berperan memotivasi dan mendisiplinkan anak. Sulit? Memang sulit, bagi orangtua yang selama ini terbiasa menganggap urusan pendidikan anak adalah urusan sekolah. Dalam hal ini para orangtua harus mengubah pola pikir dan sikap mereka secara mendasar. Sebenarnya ini bukan soal sulit, tapi lebih ke soal apakah para orangtua mau mengubah pola pikir atau tidak.

Kedua, fokus pendidikan dalam situasi ini harus digeser, dari penguasaan materi ke pembentukan pola pikir. Dalam situasi normal pun sebenarnya fokus pendidikan ada di sini. Pendidikan adalah sistem latihan berpikir. Anak-anak dilatih untuk mengamati, mengumpulkan informasi, lalu mengolah informasi itu menjadi suatu pola atau struktur. Informasi terstruktur inilah yang kita sebut pengetahuan.

Dalam proses pendidikan kita sangat sering terjadi pemintasan. Dalam proses belajar mengajar anak-anak langsung dihadapkan pada pengetahuan untuk diingat tanpa melalui proses mengumpulkan dan mengolah informasi. Proses ini, sekali lagi, menjadi berat ketika sistem belajar berubah.

Apa yang harus dilakukan? Saran saya, hentikanlah kegiatan mengajar seakan guru dan murid masih bersama di ruang kelas. Dalam suasana darurat ini, guru seharusnya memberikan tugas untuk mengumpulkan informasi, dan anak-anak diminta untuk mengolah dan membangun struktur informasi itu. Dalam hal ini target materi sesuai tuntutan kurikulum tidak lagi penting. Yang dituju bukan itu, tapi terbentuknya pola pikir.

Jadi, tidak perlu lagi ada pelajaran yang menjelaskan materi di buku paket. Berikan tugas-tugas observasi, arahkan anak-anak untuk melakukan eksplorasi. Orangtua memantau dan memastikan kegiatan mereka berjalan secara serius.

Sistem evaluasi belajar tentu saja harus pula diubah. Jangan lagi menerapkan sistem ulangan dengan pola jawaban pilihan ganda. Evaluasilah terbentuk atau tidaknya pola pikir.

Semua itu mungkin terdengar aneh dan berat. Tapi sebenarnya tidak ada hal esensial dari pendidikan yang diabaikan di situ. Justru sebaliknya, seperti saya jelaskan tadi, sistem belajar selama inilah yang banyak mengabaikan hal-hal substansial.

(mmu/mmu)