Kolom

Reposisi PT Garam Menuju Bisnis Global

Henry Kusuma Adikara - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 13:58 WIB
Pabrik Garam di Jepara
Foto: Muhammad Idris
Jakarta -

Menteri Negara BUMN Erick Thohir mengumumkan rencana revitalisasi BUMN Garam (PT Garam) untuk melakukan ekspansi ke pasar global melalui investasi langsung (FDI) di perusahaan garam industri di luar negeri. Langkah strategis ini dapat dibaca sebagai refleksi dari fakta bahwa fokus bisnis PT Garam saat ini masih terbatas kepada pemenuhan permintaan domestik atas garam konsumsi dan bahan baku garam kualitas rendah NaCl. Padahal ada peluang bisnis lain yang dapat digarap, yaitu pemenuhan kebutuhan domestik akan garam industri atau bahkan untuk kebutuhan pasar luar negeri, yang saat ini masih didominasi oleh garam impor.

Kita perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Erick Thohir atas terobosan yang telah dibuat, yang bertujuan meningkatkan keuntungan serta untuk membantu peningkatan citra PT Garam sebagai korporasi garam baru di pasar internasional. Sehubungan dengan bisnis PT Garam, perusahaan ini menjalankan roda bisnis dalam hal pemenuhan pasokan garam untuk keperluan industri dan rumah tangga, di mana garam industri dipasok untuk industri penyamaan kulit dan industri makanan dengan spesifikasi teknis garam yang tidak terlalu ketat, sementara garam konsumsi dipasok untuk kebutuhan akan garam meja dan garam sehat.

Masalah Klasik

PT Garam masih dihadapkan pada dua permasalahan klasik di industri garam nasional, yaitu harga garam lokal yang tidak stabil dan terbatasnya kapasitas produksi perusahaan, yang akhirnya menyebabkan kurang stabilnya keuntungan perusahaan.

Secara tradisi, dari waktu ke waktu harga garam lokal di Indonesia seringkali tidak dapat diprediksi, yang disebabkan oleh belum dewasanya mekanisme pasar garam nasional dan volume produksi garam lokal yang tidak stabil. Sebagai contoh, pada 2016, ketika badai La Nina melanda sebagian besar wilayah Nusantara, terjadi penurunan produksi garam nasional, yang kemudian menyebabkan meroketnya harga garam lokal. Harga garam curah naik drastis menjadi sekitar Rp 3,3 juta/ton, dari sebelumnya sekitar Rp 750 ribu sampai 1,5 juta/ton.

Penyumbang lain adalah keterbatasan kapasitas produksi PT Garam karena kelangkaan lahan dan air laut yang baik serta masalah cuaca di Indonesia untuk mendukung produksi garam industri yang berkualitas. Untuk produksi garam pada 2019 saja, sampai November total produksi garam nasional hanya berkisar 2,09 juta ton garam curah, di mana PT Garam hanya berkontribusi 16,6% dari jumlah tersebut (CNBC Indonesia, 14/1/2020). Sementara itu, kebutuhan nasional akan garam tahun ini diprediksi berkisar 4,5 juta ton. Akibatnya, kekurangannya harus ditutup dengan garam impor.

Dengan pertimbangan kebutuhan domestik yang besar akan garam impor dan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, Erick Thohir tentunya telah melihat bahwa reposisi PT Garam menjadi sangat penting jika perusahaan tersebut ingin menjaga profitabilitas yang berkelanjutan, selain juga terus berpegang pada tanggung jawab konstitusionalnya, yaitu menjaga kepentingan nasional atas pergaraman. Oleh karena itu, investasi langsung di luar negeri oleh PT Garam dipertimbangkan.

Dukungan Semua Pihak

Untuk menunjang efektivitas dan kesuksesan dari langkah tersebut, pemerintah perlu untuk mempertimbangkan beberapa hal secara internal dan eksternal. Dalam aspek internal, pemerintah perlu mempertimbangkan daya dorong dari struktur dan budaya organisasi PT Garam dalam mendukung rencana tersebut. Kegagalan dalam memahami kedua hal tersebut dapat berakibat pada hasil yang jauh dari harapan.

Pendeteksian secara keseluruhan terhadap dua hal itu sangatlah penting dalam rangka mencari solusi untuk potensi penghalang internal dan mental blocks dari dalam perusahaan plat merah tersebut. Hal itu menjadi sangat relevan apabila manajemen dan staf perusahaan telah terbiasa melakukan pekerjaan sehari-hari untuk fokus bisnis saat ini, sehingga sulit bagi mereka untuk membiasakan diri pada perilaku dan aktivitas yang baru untuk keperluan menjalankan inisiatif tersebut.

Sementara itu, ketika langkah tersebut diimplementasikan, ia membutuhkan dukungan dari semua pihak di dalam sistem melalui penerapan perubahan yang signifikan, bahkan transformasional, dalam rangka mendukung langkah strategis tersebut. Contohnya, pola pikir "glocal" (go global, with local nuances) haruslah ditanamkan dalam penerapan budaya baru organisasi. Hal tersebut selanjutnya dapat diartikan bahwa perlu peremajaan sumber daya manusia, khususnya untuk posisi puncak, dengan merekrut tenaga muda yang memiliki visi ke depan serta imparsialitas yang tinggi untuk memimpin roda organisasi perusahaan.

Pemilihan manajemen puncak perlu dilakukan berdasarkan prinsip profesionalisme, bukan favoritisme. Selanjutnya, mengingat inisiatif berhubungan dengan investasi langsung, ada beberapa persyaratan yang wajib dipertimbangkan ketika menyeleksi calon manajemen puncak dan/atau dewan komisaris perusahaan, seperti rekam jejak yang jelas dalam investasi di sektor garam, ketajaman bisnis yang kuat, dan memiliki hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan di industri garam, baik di dalam maupun luar negeri.

Secara eksternal, pemerintah juga perlu untuk mempertimbangkan hubungan yang kompleks di industri garam nasional, yang selama ini memerlukan koordinasi yang konstan dan seringkali penuh dengan ambiguitas dan tumpang tindih dengan berbagai kementerian, seperti antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian BUMN.

Sampai saat ini, karena belum adanya kejelasan sektor pemimpin (leading sector) untuk revitalisasi industri garam nasional, maka sering terjadi "kegaduhan" di ranah publik sehubungan dengan penerbitan izin impor garam, kuota impor yang diberikan, keberadaan dan penanggung jawab satu data garam nasional, kebijakan pembatasan harga garam lokal, dan kebijakan penyerapan garam lokal. Selain itu, nuansa politis dan tekanan dari beberapa kelompok kepentingan sering kali membuat industri ini sulit untuk berkembang.

Oleh karena itu, sangatlah penting adanya leading sector di industri garam nasional, apabila kita ingin melihat hasil yang diharapkan atas implementasi dari inisiatif tersebut. Sektor tersebut haruslah menjadi ujung tombak di dalam pengembangan dan internasionalisasi BUMN Garam nasional. Ia juga dapat difungsikan sebagai lembaga satu atap dengan wewenang dan tanggung jawab yang penuh dalam hal kebijakan pergaraman nasional.

Dengan adanya lembaga tersebut, maka kita akan memiliki keyakinan yang lebih besar bahwa PT Garam akan dapat mengemban dengan baik inisiatif pemerintah tersebut, selain juga melaksanakan tugas konstitusionalnya.

Henry Kusuma Adikara pengamat BUMN

(mmu/mmu)