Kolom

New Normal dan Lagu Kehidupan

Asep Sahid Gatara - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 17:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

New normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB) di era pandemi telah berjalan lebih dari satu bulan. Suatu kebijakan yang berkompromi atau berdamai dengan ganasnya Covid-19, yang digadang-gadang untuk menyelamatkan tiga bidang kehidupan masyarakat secara bersamaan, yakni kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha, kebijakan AKB tersebut dirasakan seolah menjadi second wind atau tenaga baru untuk segera melampaui pandemi setelah kurang lebih tiga bulan diam di rumah dalam tekanan serba ketakutan dan ketidakpastian. Selain itu, AKB menjadi harapan baru tentang arah menuju kehidupan pascapandemi yang kembali normal seperti biasa. Walaupun sebenarnya ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa selama AKB kasus Covid-19 terus menunjukkan grafik yang cenderung terus naik.

Membayangkan bagaimana melampaui Covid-19 dan sekaligus bagaimana kehidupan pascapandemi mengingatkan saya pada sebuah karya David C. Korten mengenai fenomena The Post-Corporate World atau kehidupan setelah kapitalisme (2002). Sebuah tulisan yang diawali sebuah prolog tentang kemenangan kapitalisme atas komunisme pada 1980-an, dan kemenangan lagi kapitalisme atas demokrasi dengan praktik komodifikasinya pada 1990-an.

Konteks tulisan Korten memang adalah kedaruratan dunia manusia sebab dunia uang dengan kapitalismenya yang kian menggila dan mewabah. Namun, saya membaca ada alur yang mirip dalam tahapan-tahapan bagaimana kita mengatasi sisi buruk dunia uang dan bagaimana kita bisa pulang kembali kepada kehidupan. Ada tahapan yang sama-sama harus dilalui, yaitu fase kisah-kisah yang mematikan.

Pandemi Covid-19 ini adalah ibarat lautan kisah mematikan dunia manusia yang harus diarungi sekaligus segera dilampaui. Kita yang tengah mengarungi harus bisa bertahan bahkan balik menaklukkannya. Sebagaimana dalam kisah mitologi Yunani yang diceritakan Korten mengenai kepahlawanan Orpheus mengalahkan orang-orang Sirens, bukan dengan jalan kekuatan fisik, tetapi dengan perantaraan sebuah lagu yang lebih indah dan lebih memaksa.

Alkisah, Orpheus bersama Jason dan orang-orang Argonout berlayar di samudera lepas mencari Bulu Keemasan. Ketika kapal melewati suatu pulau, para Sirens, makhluk penghuni pulau, melagukan nyanyian mereka yang membunuh. Butes, anak lelaki Zelion, termakan lagu penuh sihir Sirens, melompat ke laut dan hilang ditelan ombak. Namun ketika yang lain-lain belum sempat ikut melompat, Orpheus memetik gitarnya dan mulai menyanyi demikian merdunya, sehingga seluruh perhatian orang di kapal terpusat padanya. Karena dikalahkan oleh nyanyian itu, maka para Sirens itu kehilangan tenaga mereka dan berubah menjadi batu.

Di sana ada dua buah lagu yang saling bersaing. Satu lagu berupa seruan kematian dengan bertopengkan sebuah janji yang menggiurkan sekaligus memabukkan. Satu lagi berupa seruan kepada kehidupan.

Dari perspektif sosiolinguistik, lagu menjadi kata yang bisa bermakna denotatif dan bisa juga bermakna konotatif. Makna denotatif menunjukkan lagu sebagai kata dengan makna yang sebenarnya. Seperti lagu-lagu bertema Covid-19 yang sempat ramai diciptakan dan dinyanyikan oleh sejumlah musisi.

Sedangkan makna konotatif menunjukkan bahwa lagu dalam cerita di atas adalah kata yang mengandung kiasan-kiasan. Seperti memiliki makna seruan suatu ideologi atau pun bentuk operasi kekuasaan tertentu. Tulisan ini lebih melihat lagu tersebut dalam kerangka makna konotatif.

Memang kisah mitos Yunani tersebut terjadinya pada masa lampau yang berabad-abad, namun tetap menjadi kisah yang masih bunyi hingga masa sekarang. Termasuk pada era kedaruratan Covid-19 seperti sekarang ini. Sirens tentu saat ini bukan lagi sebagai makhluk-makhluk pulau di tengah laut yang aneh, namun bisa jadi adalah pihak-pihak aneh yang mencari kesempatan dalam kesempitan, atau memancing ikan di air keruh.

Mereka misalnya menyemburkan hoaks terkait segala macam informasi virus corona dengan tujuan penanaman serta pelanggengan rasa ketakutan dan kegelisahan. Rasa yang bisa melahirkan pesimisme dan sekaligus skeptisme yang pada gilirannya bisa mempercepat penjangkitan dan penularan corona.

Atau pun mereka melantunkan lirik hoaks yang indah dengan informasi penuh janji-janji melangit. Padahal semuanya itu adalah ilusi yang bertujuan untuk meninabobokkan atau melengahkan khalayak masyarakat. Situasi yang sengaja diciptakan untuk membuka ruang manipulasi realitas ancaman yang sebenarnya.

Tentu lagu yang dibutuhkan untuk menandingi lagu kematian tersebut adalah lagu kehidupan. Ini sangat menentukan bagi arah masa depan dunia pasca-Corona. Tentu selain juga sebagai perangkat bagi ikhtiar percepatan mengakhiri agresifnya Covid-19.

Lagu kehidupan itu menyeru kepada kita agar lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan informasi-informasi yang benar selama masa perlawanan terhadap Corona. Sehingga bisa menjadi senjata kita berupa pengetahuan yang dapat secara bersama-sama menaklukkan corona.

Lagu kehidupan juga mendendangkan pesan cinta dan saling peduli. Lagu kehidupan mengajukan permohonan kepada kita untuk menghargai kerja sama. Sebab ruang bersama telah menciptakan nasib dan kepentingan bersama, sehingga menjadi keharusan untuk bergotong-royong atau bekerja sama.

Kehidupan sebelum pandemi Covid-19 lebih didominasi kompetisi bebas bahkan cenderung "bar-bar" dan egois. Sehingga tidak jarang di antara kompetitor saling sikut. Akibatnya, ia menghasilkan ketergopohan sosial manakala kita mendapatkan serbuan musuh yang tak terkira sekaligus tak kentara.

Memang melawan virus Corona itu tidak bisa sendiri-sendiri apalagi egois dan oportunis, melainkan kebersatuan dan kebersamaan semua sumber daya yang ada. Sebab itu, bersatu dan bersama melawan Corona adalah lagu kehidupan manusia yang suka atau tidak harus dilantunkan.

Maka, selama pelaksanaan new normal ini lantunkanlah dengan nyaring lagu kehidupan agar terseru dan terbayang dunia pasca-Corona, yaitu kehidupan terbaik. Suatu kehidupan yang merangkul kebijaksanaan hidup. Hidup yang lebih mendahulukan penataan diri, menyukai saling berbagi, peduli pada informasi yang benar, dan menghargai kolaborasi.

Asep Sahid Gatara Ketua Jurusan Ilmu Politik FISIP UIN Bandung, Wakil Ketua APSIPOL

(mmu/mmu)