Kolom

Ruang Terbuka Publik, Kebun Rumah, dan Mitigasi Dampak Corona

Syafni Sukmana - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 10:39 WIB
Dampak psikologis dan finansial wabah Covid-19 dapat ditekan dengan berkebun di rumah
Jakarta -

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung saat ini telah mengubah wajah dunia di luar pintu rumah kita menjadi situasi yang tak pernah terlihat sebelumnya: tempat-tempat publik sepi, orang-orang menjaga jarak, binatang-binatang liar terlihat berjalan santai di jalan-jalan kota yang lengang. Bagi kebanyakan orang di kota-kota besar saat ini, terutama mereka yang dikarantina atau mengkarantina diri, dunia mengerut menjadi hanya selebar rumah mereka.

Sejarah telah beberapa kali menunjukkan bahwa wabah penyakit adalah salah satu faktor penentu bagaimana kota dan bangsa berubah radikal. Victoria Embankment, tanggul di utara Sungai Thames di London adalah contoh produk arsitektur lanskap yang indah yang banyak orang tidak sadar bahwa cikal bakalnya adalah proyek sanitasi jaringan pembuangan limbah (sewerage system) yang sama sekali baru sebagai tanggapan atas wabah kolera awal 1950-an.

Pandemi flu 1918 ikut memicu rakyat India yang dipimpin Mahatma Gandhi melakukan pergerakan menuntut kemerdekaan dari kolonial Inggris karena otoritas kolonial dianggap tak dapat melindungi rakyat India dari pandemi itu. Sistem pengawasan kesehatan publik di Singapura untuk merespons wabah SARS pada 2002-2003 membantu negeri itu menangani pandemi Covid-19 saat ini.

Pengalaman masa lalu kota-kota dunia terdampak wabah seperti London dan Singapura tersebut menjadi refleksi tanggapan kita atas pandemi Covid-19 saat ini. Banyak hal harus dipikirkan ulang: perencanaan kota, arsitektur bangunan dan lansekap, sistem kesehatan publik, demografi, perilaku sosial, sistem ekonomi, jaringan distribusi pangan, dan sebagainya. Lalu, perubahan apa yang diperlukan untuk merespons kejadian wabah semacam ini dari perspektif urban lanskap?

Ruang Terbuka

Pertama, lanskap kota harus dipastikan memiliki ruang terbuka yang terdistribusi merata di penjuru kota. Pada masa pandemi seperti saat ini, ketika karantina wilayah dan pembatasan sosial diberlakukan, ruang terbuka seperti taman kota, lapangan sepakbola, dan jalur hijau tepian sungai atau jalan memiliki arti yang lebih penting dari sebelumnya. Ruang terbuka publik semacam itu dapat menjadi tempat warga berolahraga dan bersosialisasi dengan para pengguna tetap dapat saling menjaga jarak fisik.

Beberapa kota di Amerika Serikat seperti Portland menutup jalan di sekitar taman kota dari kendaraan bermotor untuk memberi kesempatan warga beraktivitas di taman-taman tersebut dengan tetap menjaga jarak antarpengguna. Dalam hal ini kesehatan fisik dan mental warga yang sangat diperlukan di masa krisis ini dapat dicapai dengan memanfaatkan ruang terbuka publik.

Mungkin isu yang relevan di negara kita adalah kondusivitas dan aksesibilitas. Ruang terbuka hijau di kota-kota kita umumnya kurang terawat baik dan persebaran ruang terbuka hijau tidak memungkinkan warganya mendapat manfaat ruang terbuka publik secara adil dan merata. Banyak kita lihat ruang terbuka hijau seperti taman atau lapangan yang tak terawat dan tak memiliki fasilitas pendukung dasar (seperti air bersih, toilet) yang layak.

Intinya, ruang terbuka publik dalam banyak kasus kurang memperoleh perhatian dan pendanaan yang cukup dari otoritas berwenang. Padahal studi di beberapa negara menunjukkan bahwa dana yang diinvestasikan untuk membangun dan merawat ruang terbuka hijau urban memberikan nilai manfaat yang tinggi pada warganya.

Pada 2017 otoritas London menerbitkan hasil studi yang menyimpulkan bahwa tiap 1 poundsterling dana yang diinvestasikan untuk taman kota akan memberikan manfaat senilai 27 poundsterling untuk warga London. Taman kota Fitzroy Garden di Melbourne, Victoria, Australia yang terawat dengan baik, dengan segera dapat digunakan sebagai lokasi rumah sakit lapangan (field hospital) di masa pandemi jika diperlukan.

Di samping sebagai tempat aktivitas warga saat pandemi, ruang terbuka hijau dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik kesehatan sementara dan tempat perawatan pasien wabah penyakit. Contohnya rumah sakit lapangan di Central Park yang merupakan taman kota terluas di New York dan rumah sakit lapangan Artha Graha Peduli di kawasan Pasir Putih Ancol, Jakarta Utara.

Kita menjadi sadar bahwa ketidaktersediaan ruang publik yang kondusif untuk keperluan respons darurat wabah seperti saat ini akan menurunkan kemampuan otoritas berwenang dalam menangani pandemi terutama pada masa puncaknya.

Pandemi Covid-19 harus membangunkan kembali ketertarikan kita pada ruang terbuka publik hijau yang telah lama terabaikan oleh otoritas berwenang dan tak terperhatikan oleh masyarakat. Di balik itu, krisis ini harus membuat kita memberikan fokus lebih tajam pada defisiensi ruang terbuka hijau dan kontak kita dengan alam pada area yang sangat lokal.

Urban Farming

Kedua, para perencana dan desainer harus mulai memasukkan komponen urban farming atau gardening ke dalam perencanaan dan desain mereka. Pada skala kawasan, kebun komunitas dapat diintroduksi dalam perencanaan induknya jika memungkinkan. Pada skala rumah tangga, arsitek harus mulai memikirkan untuk mengalokasikan ruang terbuka dalam desainnya, tempat yang mendapat cahaya matahari sehingga strategis untuk bertanam.

Pada krisis global Covid-19 saat ini, dunia menyaksikan fenomena baru di berbagai negara, yakni permintaan akan benih dan bibit sayuran serta peralatan berkebun meningkat pesat dan video tentang berkebun di media-media sosial ditonton berkali lipat lebih banyak dari sebelum masa pandemi. Banyak orang yang "terumahkan" tiba-tiba memiliki waktu luang lebih banyak dan ingin mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat seperti berkebun hingga muncul istilah "corona-gardening".

Menjadi sibuk di kebun juga mengurangi pengaruh negatif wabah ini terhadap psikologi mereka. Sebagian yang lain menanam sayuran di rumah untuk memastikan mereka selalu memiliki akses makanan segar setelah terjadi panic buying di pasar-pasar di kota mereka. Selain menanam sayuran, mereka yang lebih fokus terhadap pemenuhan kebutuhan sendiri (self-sufficiency) dari sekadar mengisi waktu luang juga mulai memelihara ayam di halaman belakang rumah mereka.

Ini adalah tren baru di kota-kota di berbagai negara yang dipicu Covid-19. Di negara-negara di mana pandemi mencapai puncak dan karantina total diterapkan, gangguan terhadap pasokan makanan terjadi. Rak-rak di supermarket banyak yang kosong. Pandemi ini mengingatkan bahwa gangguan suplai makanan dapat terjadi kapan saja. Barangkali kita di Indonesia belum mengalami episode ini, namun persiapan atas kemungkinan terburuk semacam ini harus segera dilakukan.

Dari perspektif bersiap-siap terhadap skenario terburuk itu, menanam sayuran dan buah-buahan, memelihara lele dalam ember, atau memelihara beberapa ayam petelur di halaman rumah kita sendiri dapat dipandang sebagai sangat penting dan strategis. Desainer dan kontraktor pada gilirannya adalah aktor-aktor penting untuk mewujudkannya.

Terdengar Sederhana

Dua hal tersebut --ruang terbuka hijau yang kondusif dan merata bagi semua lapisan warga kota dan kemampuan menghasilkan makanan di rumah atau komunitas sendiri-- mungkin terdengar sederhana. Namun perwujudan dua pendekatan tersebut --yang kita masih belum sepenuhnya memiliki-- dapat menjadi salah satu dari penentu utama bagaimana kota dan bangsa memiliki resiliensi yang diperlukan untuk menghadapi krisis akibat pandemi yang dapat datang dengan cepat tanpa peringatan.

Pada Desember 2018, diadakan konferensi internasional selama tujuh hari penuh dengan pembicara dari berbagai negara termasuk tiga orang dari Indonesia. Konferensi ini membicarakan tentang "membentuk ruang publik yang lebih baik" dengan slogan-slogan seperti remaking place dan transforming cities. Konferensi ini menerbitkan deklarasi yang menyatakan bahwa "setiap orang memiliki hak untuk hidup di tempat yang sangat layak dan hak untuk membuat tempat di mana mereka telah hidup lebih baik."

Salah satu komitmen yang diterbitkan konferensi tersebut adalah menciptakan ruang-tempat yang sehat yang mendorong interaksi sosial, aktivitas bermain, rekreasi aktif dan mendukung penggunaannya oleh manusia, mendukung makanan sehat, aktivitas berjalan dan bersepeda. Barangkali butir komitmen tersebut mewakili apa yang dijabarkan dalam tulisan ini. Konferensi tersebut bernama Wuhan Placemaking Week, berlangsung di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Sebuah kebetulan yang menarik.

(mmu/mmu)