Kolom Kang Hasan

Pendidikan dan Pengasuhan Anak

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 09:51 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Cukup sering saya mendapat pertanyaan dari para orangtua soal perbedaan pandangan dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Suami dan istri berbeda pandangan dalam hal tersebut. Bagaimana menyelesaikannya? Banyak pasangan yang berbeda pandangan soal bagaimana anak harus diasuh. Perbedaan itu dibiarkan begitu saja, masing-masing menjalankan prinsipnya sendiri, main kucing-kucingan. Tidak jarang hal itu membuat anak-anak bingung.

Pasangan ayah-ibu seharusnya bersepakat soal bagaimana anak harus diasuh. Idealnya hal ini dibicarakan sebelum menikah. Seharusnya dua orang yang menikah menyepakati konsep dan prinsip pengasuhan anak. Tapi jarang orang melakukan hal itu. Punya anak kemudian mendidiknya sering bukan topik yang dibahas oleh pasangan yang hendak menikah. Punya anak bagi banyak orang dianggap sebagai konsekuensi alami saja dari pernikahan, bukan sesuatu yang direncanakan.

Ketika sudah punya anak, mereka berselisih soal bagaimana anak akan diasuh. Rumitnya, mereka berselisih soal "bagaimana", yaitu soal-soal teknis harian. Tidak jarang perselisihan itu berujung pada pertengkaran yang tidak ada habisnya. Sebabnya, mereka tidak berbicara pada platform yang sama. Prinsip pengasuhan yang diusung berbeda. Atau lebih parah lagi, keduanya tidak mengusung suatu prinsip pengasuhan.

Pengasuhan dilakukan hanya berbasis pada intuisi masing-masing. Untuk bisa mencapai titik temu, pasangan yang berselisih itu harus terlebih dahulu menyamakan platform soal pengasuhan anak. Apa yang dimaksud platform? Itu adalah basis nilai dan prinsip-prinsip yang dianut dalam pengasuhan anak. Bila suatu pasangan menganut platform yang sama, tidak akan ada perbedaan besar dalam hal tersebut. Bila ada perbedaan, sifatnya hanya soal selera yang boleh dinegosiasikan.

Bagaimana menetapkan platform tersebut? Banyak yang tidak menyadari bahwa pengasuhan anak itu adalah proses pendidikan, dan hal itu ada ilmunya. Sudah banyak riset yang dilakukan, melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan hasilnya adalah formula-formula yang berpijak pada sains. Pengasuhan anak adalah satu cabang dalam ilmu pendidikan. Sederhananya, mengaculah pada ilmu yang sudah dirumuskan oleh para ahli.

Ketika sepasang suami-istri berbeda pandangan soal pengasuhan anak, mereka harus membicarakan perbedaan itu dalam bingkai ilmu pendidikan. Untuk bisa melakukan itu tentu saja mereka harus terlebih dahulu tahu. Kalau belum tahu, mereka harus belajar.

Dalam soal pendisiplinan anak, misalnya, para ahli sangat tidak menganjurkan hukuman sebagai alat untuk mendisiplinkan anak. Hukuman bukan cara yang baik untuk membuat anak disiplin. Hukuman sering gagal mendisiplinkan anak. Kesimpulan itu tidak dirumuskan asal-asalan. Ada basis teoretiknya, juga ada riset-riset yang mendukungnya. Kalau ada yang berpandangan sebaliknya, tentu saja harus ada dasar yang didukung oleh prinsip yang dirumuskan dalam kaidah ilmu pendidikan.

Ringkasnya, ilmu pendidikan dijadikan hakim untuk menengahi perbedaan tadi. Sayangnya, banyak orang yang mengabaikan prinsip sederhana itu. Banyak yang mengabaikan bahwa pengasuhan anak itu harus berbasis ilmu. Juga mengabaikan bahwa perbedaan-perbedaan pandangan dapat diselesaikan dengan ilmu sebagai rujukan. Akibatnya, seperti yang sudah dibahas tadi, orang berselisih tanpa solusi.

Bila keduanya sudah berada dalam platform yang sama, tapi di tingkat aplikasi ada perbedaan, biasanya itu cuma soal selera dan gaya saja. Dalam soal ini mereka sebenarnya bisa saling mengalah, karena tidak menyangkut hal yang sangat prinsip.

Satu hal lagi, banyak orang yang merasa tidak cocok dengan prinsip-prinsip pendidikan berbasis sains tadi. Alasannya, karena sumbernya dari Barat. Suka atau tidak, ilmu pendidikan itu memang dirumuskan di Barat. Sistem pendidikan kita juga berbasis pada sistem yang dirumuskan di sana. Sains secara umum memang dirumuskan oleh orang-orang Barat. Sebagaimana ilmu pendidikan tadi, banyak orang yang menolak sains.

Lalu apa yang mau dipakai sebagai dasar? Jawaban yang sering saya terima, agama. Apakah agama merumuskan prinsip-prinsip pengasuhan? Tentu saja. Tapi harus diakui, prinsip-prinsip itu dirumuskan belasan abad yang lalu. Sudah banyak hal yang berubah selama belasan abad ini, meski ada yang tetap sama. Pada hal-hal yang sudah berubah itu harus ada hal yang diubah pula.

Selain itu, prinsip-prinsip agama tadi mengacu pada tradisi-tradisi yang dipraktikkan oleh orang pada masa lalu, yang basisnya bukan riset seperti yang dirumuskan oleh para ilmuwan modern. Banyak hal yang sebenarnya tidak berdasar, selain dasarnya adalah tradisi.

Lalu apakah prinsip-prinsip pengasuhan anak berbasis agama itu salah? Bukan begitu. Banyak teori-teori atau prinsip-prinsip pengasuhan yang diberi label pengasuhan ala agama itu sebenarnya merujuk pada prinsip-prinsip modern yang berbasis pada sains tadi. Para perumusnya merujuk pada ilmu pendidikan yang dibahas di atas tadi, lalu memberi label atau tambahan dalil pembenar yang bersumber dari agama. Mereka pada umumnya tidak membangun teori sendiri, tidak pula melakukan riset.

Formula seperti itu sebenarnya tidak masalah. Hanya saja sering kali ada kerancuan ketika dalam bungkus luarnya diberi label "anti Barat" sementara isinya adalah "Barat".

(mmu/mmu)