Kolom

Pandemi dan Siasat Kaum Bergaji

Sari Manurung - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 15:10 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -
Selain dilabeli sebagai bencana nasional yang mengenai kesehatan dan kemanusiaan, pandemi Covid-19 juga sewajarnya diberi gelar tambahan sebagai bencana finansial. Secara khusus, finansial yang dimaksud tertuju pada kondisi keuangan yang menimpa para pengabdi gaji bulanan.

Berdasarkan data per 27 Mei 2020, Kementerian Ketenagakerjaan merilis bahwa jumlah tenaga kerja yang dirumahkan maupun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai sekitar 3 juta orang. Data pekerja terdampak Covid-19 ini meningkat signifikan dari April lalu yang berjumlah 1,7 juta orang. Diprediksi data tersebut masih tetap bertambah bersamaan dengan roda perekonomian nasional yang melambat.

Terbaru, start-up decacorn pertama di Indonesia yaitu Gojek mengumumkan keputusan PKH terhadap 430 karyawannya. Ditambah lagi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo mengumumkan akan memangkas ASN yang tidak produktif selama penerapan work from home (bekerja dari rumah). Bisa disimpulkan bahwa baik yang mengandalkan finansial pada korporasi dan bahkan pemerintah tidak luput dari ancaman pemecatan.

Tidak ada yang pernah menyangka kondisi pandemi saat ini sanggup mengguncangkan perekonomian di segala lapisan masyarakat. Bagi pengabdi gaji korporat, kebijakan pemotongan dan penundaan gaji harus diterima dengan lapang dada. Hal terpenting adalah status sebagai pekerja masih aman. Tidak menjadi pengangguran.

Bagaimana dengan yang sudah menyandang sebagai pengangguran? Bagi yang mendapatkan pesangon, selamat karena masih ada dana tambahan untuk menyambung hidup selama beberapa bulan. Bagi yang tidak mendapatkan pesangon, selamat berkeluh kesah sambil kembali memungut asa.

Mengelola Keuangan

Terpaan kilat dari dampak pandemi Covid-19 ini kemudian menyadarkan masyarakat akan betapa pentingnya mengelola keuangan. Besar kecil nominal pemasukan yang masuk ke rekening tiap bulan ternyata dapat diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan.

Dalam kondisi normal, keranjang yang diisi oleh gaji penuh dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan utama dengan mudahnya. Dalam kondisi seperti saat ini, baik keranjang Anda terpenuhi setengah atau sepertiga dari gaji, mau tidak mau ada sejumlah hal yang harus dikurangi atau lebih tepatnya dikontrol secara sadar.

Kebutuhan yang dimaksud tentulah harus disesuaikan dengan skala prioritas yang dapat terukur. Misalnya, kebutuhan pokok untuk mencukupi tubuh yang sehat dan berenergi agar imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik. Ini jelas terukur karena sebenarnya dana digunakan hanya untuk membeli beras, lauk pauk, sayur, dan buah.
Terkesan sederhana sementara kenyataannya tidak demikian, bukan? Mengapa?

Silakan dicek keranjang belanja Anda. Apakah di antara barang-barang yang dibeli tersebut malah terdapat botol vitamin, minuman berenergi, kopi instan, teh celup, camilan dengan embel-embel diskon? Tanyakan sejenak kepada diri sendiri, apakah Anda benar-benar membutuhkannya untuk dikonsumsi di masa sulit saat ini?

Sesuai prinsip bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, kebutuhan berikutnya yang perlu diperlengkapi adalah utilitas rumah tangga. Masyarakat sempat dibuat panik oleh hiruk pikuk akan biaya listrik dan air yang membengkak. Beban pikiran pun bertambah selama terasing di dalam rumah sendiri.

Alih-alih meminta penurunan tarif listrik, yang ternyata memang tidak dinaikkan oleh PLN, Anda pun tidak punya pilihan selain membayar tagihan yang terlampir. Keranjang berisikan uang gajian pun terpaksa harus dikeruk satu kali lagi dengan nominal lebih besar dibandingkan masa normal sebelumnya.

Setelah menyudahi dua kebutuhan utama yang menenangkan tubuh dan pikiran, barulah Anda melanjutkan ke pengeluaran lainnya seperti biaya pendidikan anak. Untuk hal ini, suka tidak suka, terimalah bahwa kapitalisasi telah merambah dunia pendidikan. Tidak ada keringanan melainkan stagnan dan atau menaik. Beruntungnya, Anda dapat mengerem biaya pergaulan anak di masa pandemi ini.

Apakah masih ada sisa di keranjang gaji Anda? Jika ada, segera lunasi utang-utang cicilan dan kartu kredit. Kemudian, sisihkan segelintir untuk "diselamatkan" dalam tabungan.

Dana Darurat

Selain pengelolaan keuangan, bencana finansial juga mengajarkan tentang mitigasi risiko. Untuk memudahkan pemahaman, seandainya situasi buruk terjadi pada Anda seperti dipecat atau tidak berpenghasilan selama satu tahun, maka apa yang telah Anda persiapkan?

Pikiran Anda dituntut untuk bijaksana dalam menyikapi keadaan terburuk apa pun. Mempersiapkan dana darurat untuk mengatasi masalah finansial begitu penting. Bagi kaum lajang, berdasarkan informasi literasi keuangan yang beredar di dunia maya, dana darurat yang dibutuhkan berkisar antara tiga sampai enam kali besaran pengeluaran bulanan. Bagi pasangan menikah, besaran dana darurat sekitar enam sampai sembilan kali dari pengeluaran bulanan. Bagi pasangan beranak satu, dana darurat sebesar dua belas kali dari pengeluaran bulanan.

Beres dengan dana darurat, upaya mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan mempersiapkan asuransi yang melindungi kesehatan dan jiwa. Adanya asuransi akan membantu finansial Anda dari besaran biaya medis selama perawatan di rumah sakit. Kalaupun terjadi risiko meninggal, polis asuransi akan meringankan beban finansial pada keluarga yang ditinggalkan.

Lulus dari keamanan asuransi, mulailah berinvestasi. Ini penting dilakukan karena penghasilan berkonfrontasi dengan laju inflasi. Dengan menyisihkan dana untuk berinvestasi di emas, deposito, obligasi, saham, maupun reksa dana, maka nilai tabungan Anda di masa depan pasti ikut meningkat.

Selama pandemi ini belum berakhir, bencana finansial akan tetap menghantui. Untuk itu, persiapkan diri untuk belajar menyusun skala prioritas pada rencana keuangan Anda dan keluarga. Kemudian, susunlah strategi mitigasi risiko yang sesuai dengan kemampuan dan perhitungan matang.

Jika tiada dan minim pemasukan, tetaplah mencari peluang baru di era digitalisasi yang serba bisa dan ada ini. Carilah ilmu dengan berselancar di internet. Semua tersedia gratis dari beragam sumber. Cukup bermodal kuota internet, Anda tinggal bertekun belajar saja.

(mmu/mmu)