Kolom

Bentuk Pemulihan Ekonomi Pasca-Pandemi

Andi Irawan - detikNews
Selasa, 09 Jun 2020 09:23 WIB
Mengatasi pandemi Covid-19 sekaligus memulihkan ekonomi nasional dengan baik
Jakarta -

Semua negara hari ini berhadapan dengan dilema bagaimana memulihkan kehidupan sosial ekonomi, tapi juga bisa menghentikan penyebaran Covid-19 dengan korban jiwa minim dan pelonjakan angka penularan yang bisa diatasi oleh sistem kesehatan nasionalnya. Keberhasilan negara dalam mengelola dilema dalam mengatasi Covid terletak pada hadirnya effective government (pemerintah yang efektif) yang didukung dengan kapasitas kepakaran sumber daya manusia kesehatan-epidemiologi, virulogi, dan saintis lainnya serta yang tidak kalah penting adalah tindakan cepat (Zakaria, 2020).

Korea Selatan, Singapura dan Taiwan, Hong Kong dan Vietnam adalah representasi negara-negara di kawasan Asia yang dinilai berhasil mengatasi outbreak Covid dengan korban jiwa yang sangat kecil atau bahkan tanpa korban jiwa. Sedangkan Jerman, Denmark, dan Islandia adalah representasi dari negara-negara Barat yang dinilai punya keberhasilan serupa.

Kunci sukses Korea Selatan terletak pada program tes infeksinya yang well-organized dengan jangkauan luas. Korea Selatan dikatakan sebagai model negara dengan respons awal yang cepat dan serius. Mereka melakukan tes massal terhadap masyarakat yang potensial tertular, dan mampu melakukan lacak jejak interaksi dari yang tertular ke orang lain dengan cara yang cepat. Tindakan ini memberi kepastian tentang berapa banyak yang sudah terkena penyakit dan tertular, sehingga bisa diketahui dengan akurat siapa yang perlu di isolasi siapa yang tidak perlu.

Korea Selatan diapresiasi karena cara yang dilakukannnya tersebut tanpa lockdown dan karantina nasional. Suatu tindakan penanggulangan yang tidak berimplikasi pada penutupan aktivitas perekonomian (economic shutting down).

Singapura sebenarnya tidak apple to apple jika dibandingkan dengan Indonesia karena luas dan jumlah penduduknya yang sangat kecil jika dibandingkan Indonesia. Namun, letak pelajaran penting dari negeri jiran ini adalah pemerintah mereka sejak awal telah merespons kasus Covid-19 dengan kewaspadaan dan langsung mengambil tindakan serius dalam memeranginya. Hal ini untuk mencegah pengalaman pahit dari serangan virus SARS 2002/2003. Hal yang sama dilakukan oleh Taiwan dan Hong Kong.

Sebaliknya negara adidaya sekaliber Amerika Serikat dinilai para pengamat dunia gagal mengatasi wabah, bukan karena ketiadaan sumber daya manusia andal, dana, dan resources yang diperlukan lainnya tapi lebih karena pemimpin mereka sejak awal menganggap enteng Covid-19 atau menganggap bukan sesuatu yang berbahaya. Trump tidak percaya pakar, tidak percaya dengan science; dia hanya menuruti keinginannya sendiri; dia hanya peduli dengan dengan pasar saham, demikian kritik tajam Fareed Zakaria, salah seorang kolumnis The Washington Post dalam dialog di ted.com dengan tema How Corona virus pandemic is changing the world (9/4).

Lalu bagaimana dengan kita? Indonesia memang tidak masuk dalam penilaian para pakar dan pengamat global sebagai negara yang berhasil menekan penyebaran Covid dan mencegah jatuh korban jiwa dalam jumlah besar. Tapi kita masih bisa memenangkan kontestasi global mengatasi pandemi Covid-19 dengan cara menunjukkan prestasi sebagai negara yang mampu memulihkan perekonomian dengan cepat.

Menurut Szlezak, Reeves, dan Swartz (2020), krisis ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19 akan menghasilkan pola pemulihan ekonomi yang berbeda antarnegara. Umumnya pola pemulihan tersebut terbagi menjadi 4 yakni:

1) Bentuk V (V-shape). Pandemi menyebabkan perekonomian anjlok yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi menurun tajam dan pengangguran melonjak, tapi dalam waktu singkat bisa pulih kembali pada posisi sebelum krisis.

2) Bentuk U, Pertumbuhan turun drastis dan pengangguran meningkat. Tingkat pertumbuhan ekonomi untuk pulih butuh waktunya yang lama, kesenjangan antara jalur pertumbuhan ekonomi lama dan baru tetap besar, yang menunjukkan kerusakan pada sisi suplai ekonomi, output yang hilang besar dan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk kembali pada kondisi sebelum krisis.

3) Bentuk L sebagai bentuk yang terburuk. tidak hanya pertumbuhan ekonomi negara tidak pernah memulihkan jalur output sebelumnya, tetapi juga tingkat pertumbuhannya menurun. Jarak antara jalur lama dan baru dari pertumbuhan semakin lebar, dengan output yang hilang terus berlanjut. Ini berarti krisis telah meninggalkan kerusakan struktural yang permanen pada sisi suplai. Pola atau bentuk L ini adalah bentuk yang paling merusak akibat dari krisis.

4) Bentuk W, multiple, atau perulangan pola V. Hal ini bisa terjadi karena adanya outbreak gelombang kedua dan seterusnya. Bentuk ini juga tergolong bentuk buruk dari proses pemulihan ekonomi suatu negara.

Kajian dari Boston Consulting Group (BCG 2020) menunjukkan, mayoritas para pimpinan perusahaan-perusahaan dunia mengekspektasikan pemulihan ekonomi dunia secara pesimis karena 51 persen dari mereka memprediksi pola pemulihan ekonomi adalah bentuk U, 25 persen bentuk L, dan 16 persen bentuk W. Hanya 8 persen dari mereka yang menilai proses pemulihan ekonomi dengan optimis yakni berpola V. Artinya ada prediksi krisis Covid-19 ini berimplikasi punya daya rusak ekonomi yang besar.

Semua negara mengharapkan pola pemulihan ekonomi dari krisis Covid-19 adalah Bentuk V. Untuk menghadirkan bentuk V sangat tergantung bagaimana manajemen penanganan Covid sehingga pelandaian kurva eksponensial penularan Covid cepat tercapai dan outbreak gelombang kedua dan seterusnya tidak terjadi. Negara-negara yang bisa menghadirkan pola pemulihan ekonomi berbentuk V adalah negara yang berhasil mengatasi krisis ekonomi Covid-19 dengan baik.

Untuk mencapai prestasi menunjukkan bentuk V dari pemulihan ekonomi nasional, kata kunci pentingnya tetap pada disiplin menghindarkan terjadinya kerumunan dan physical distancing dalam interaksi langsung antarmanusia sampai ditemukannya vaksin. Fokus menghentikan penyebaran Covid-19 tetap prioritas pertama karena magnitude (besaran) dan lama krisis ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari pandemi ini tergantung pada kemampuan melandaikan kurva eksponensial penyebaran Covid dan mencegah terjadinya gelombang outbreak kedua dan seterusnya.

Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) perlu tetap didisiplinkan penerapannya. Jaga jarak aman (physical distancing) khususnya pada tempat-tempat yang interaksi antarmanusia adalah suatu hal yang tidak bisa dihindarkan seperti pasar, bandara, dan terminal harus di kawal ketat implementasinya. Masih tampak menyolok protokol Covid-19 belum diimplementasikan dengan baik bahkan di daerah-daerah yang menerapkan PSBB berpotensi menghadirkan gelombang baru serangan Covid sehingga bisa menyebabkan krisis ekonomi tidak mengalami pola pemulihan seperti yang diharapkan yakni berbentuk V.

Dr. Andi Irawan Associate Professor Ilmu Ekonomi di Universitas Bengkulu

(mmu/mmu)