Kolom

Drakor dan Corona

Ahmad Iskandar - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 15:15 WIB
Drama Korea The World of the Married
Drama Korea "The World of Married" (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Drama Korea yang oleh digital natives disingkat drakor telah populer beberapa tahun terakhir. Ramai di laman media sosial, hampir setiap pekan kita disugesti judul film recommended dan layak tonton, pun diikuti testimoni umpatan, tangis haru, dan perasaan kagum pada pelakon. Entah karena karakter yang diperankan, paras cantik dan ganteng, ataukah sekadar pengakuan pada alur cerita yang dianggap sangat relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Kita ambil contoh film Sky Castle dan The World of the Married yang beberapa pekan terakhir viral di kalangan para penikmat drakor. Bahkan melihat tingginya rating film tersebut, salah satu Channel TV nasional menayangkannya secara reguler.

Saat ini, di tengah merebaknya pandemi Covid-19, tontonan drakor telah menjadi penghilang kebosanan di tengah aktivitas stay at home. Namun, layaknya film pada umumnya, khusus The World of the Married, terdapat pelajaran yang dapat dipetik. Poinnya bukan pada alur cerita, tetapi pada pemaknaan yang tersirat yang selanjutnya dapat dijadikan pembelajaran dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

Kejujuran adalah Kunci

Entah apa yang akan terjadi ketika Lee Tae-oh memilih berkata jujur sedari awal perihal pengkhianatan yang telah dilakukan. Boleh jadi sikap "memaafkan" itu akan diberikan Ji Sun-woo, di sini digambarkan dengan seksama arti pentingnya suatu kejujuran.

Dalam penanggulangan Covid-19, penyelesaiannya juga menjadikan kejujuran sebagai kunci. Kejujuran dalam mengungkap data dan fakta besaran jumlah kasus yang terjadi, termasuk di dalamnya kejujuran dari masyarakat untuk mengungkapkan riwayat medis dan kontak saat berobat ke fasilitas kesehatan. Ini bertujuan untuk memudahkan petugas penanggulangan Covid-19 saat melakukan contact tracing jika pasien tersebut dinyatakan positif.

Mengedepankan Ego itu Keliru

Keteguhan Ji Sun-woo untuk mengakhiri hubungan, dan pada saat yang sama Lee Tae-oh juga memiliki keteguhan yang berkebalikan, mempertontonkan betapa ego menjadi komando dalam mengatur pikiran dan tindakan untuk menjadi pemenang. Merasa langkah yang diambil adalah untuk kebaikan bersama, namun pada akhirnya malah membuat Lee Joon-young korban dari pertarungan dua insan yang mengedepankan ego.

Demikian halnya dalam Covid-19, salah satu langkah memutus rantai penularan adalah tidak melakukan mudik, khususnya dari daerah yang memiliki kasus positif cukup tinggi atau kategori zona merah. Ini penting, karena walaupun bertujuan mengobati kerinduan dan menjalin silaturahmi, juga berpotensi menjadikan keluarga korban dari keputusan yang mulanya bertujuan baik.

Sekalipun berangkat dalam keadaan sehat, kita tidak dapat memastikan seberapa aman (orang, tempat, dan kendaraan) yang akan kita lalui. Sehingga penting juga untuk mempertanyakan kembali, apakah keputusan mudik dan silaturahmi benar untuk kebaikan bersama, ataukah juga merupakan kekeliruan dalam menempatkan ego.

Balas Dendam Bukan Solusi

Balas dendam Ji Sun-woo yang dilakukan bersama Son Je-hyuk tidak menjadi solusi penyelesaian masalah. Demikian halnya dalam beberapa episode selanjutnya banyak dipertontonkan adegan balas dendam yang semakin memperumit keadaan.

Relevan rasanya, jika dalam kasus Covid-19 dan dengan adanya wacana kelonggaran penerapan PSBB serta imbauan untuk berdamai dengan Covid-19, tidak dijadikan ajang balas dendam untuk menuntaskan hasrat beraktivitas normal. Terlebih dengan banyaknya orang tanpa gejala (OTG) yang menjadi pembawa virus dan efektif menularkan kepada siapapun. Pun jika hidup dapat kembali normal, boleh saja dengan catatan hidup normal-normal yang baru saat berinteraksi sosial.

Mencegah Lebih Baik

Dari keseluruhan tayangan dalam film tersebut, awal mula terjadinya konflik adalah ketidakmampuan menerapkan langkah-langkah pencegahan, baik dengan menghindari godaan maupun menghindari perilaku ceroboh memberikan salt yang terdapat sehelai rambut berwarna (pirang) di dalamnya.

Dikaitkan dengan Covid-19, pencegahan juga akan lebih baik dari pada mengobati. Menerapkan gaya hidup yang fokus pada langkah preventif menjadi penting. Oleh karena itu pencegahan bagi individu, korporasi, dan institusi seyogianya tetap digalakkan, termasuk dalam bentuk policy guna melindungi segenap warga negara.

Khusus policy, patut dikritisi benarkah wacana pelonggaran PSBB adalah kebijakan yang tepat? Kebijakan yang menghormati hak atas kesehatan warga negara sebagai tujuan utama sesuai amanat UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, ataukah hanya sekadar pemenuhan kepentingan segelintir elite dalam struktur sosial masyarakat?

Terakhir, mengapa patut menyandingkan antara drakor dan corona, karena Korea Selatan sebagai negara tempat asal drakor diproduksi telah memberikan contoh keberhasilan penanggulangan Covid-19 tanpa lockdown, yang oleh Dubes Korsel untuk Indonesia Kim Chang-beong, langkah penyelesaiannya disingkat menjadi TRUST.

Patut dicontoh, dengan kolaborasi --konsistensi dan sinkronisasi-- kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Sebab, langkah penanggulangan Covid-19 yang tidak sinkron dan inkonsistensi , bukan tidak mungkin hanya mempertontonkan drakor, yang oleh generasi digital immigrant menjadi singkatan dari "drama korona".

Ahmad Iskandar mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

(mmu/mmu)