Kolom

"Work from Home" Selamanya?

Irwanda Wisnu Wardhana - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 13:36 WIB
Ilustrasi kerja dari rumah
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/Tim Infografis
Jakarta -

Twitter mengumumkan bahwa work from home (WFH) dapat dilaksanakan selamanya. Berdasarkan pernyataan resmi per 12 Mei, sekitar empat ribu karyawan media sosial tersebut diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri apakah akan kembali ke kantor atau tetap bekerja dari rumah. Kebijakan itu berlaku sampai pandemi berakhir dan seterusnya. Sampai hari ini, kebijakan Twitter tersebut merupakan yang paling ekstrem di antara perusahaan teknologi terkemuka.

Beberapa hari sebelumnya, karyawan Google yang mencapai 120 ribu orang dan Facebook yang berjumlah 48 ribu orang sudah diberikan kebebasan untuk melaksanakan telecommuting sampai dengan akhir 2020.

Di Indonesia, kebijakan perpanjangan WFH juga telah diadopsi. Pada 12 Mei, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mengumumkan perpanjangan WFH bagi Aparatur Sipil Negara sampai dengan 29 Mei 2020.

Apakah situasi di atas merupakan indikasi kematian kantor atau ditinggalkannya kantor fisik? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus membedah manfaat dan mudarat (biaya) dari kebijakan WFH, sebagai kelanjutan tulisan sebelumnya.

Efisiensi Biaya

Manfaat utama yang diperoleh dari WFH adalah efisiensi biaya bagi karyawan dan perusahaan atau institusi. Para karyawan tidak perlu mengeluarkan uang untuk pos transportasi, fesyen, dan pengeluaran lainnya. Tidak perlu lagi berdesakan di kendaraan umum atau bermacet ria di jalanan. Tidak perlu lagi berbelanja pakaian kerja dan kosmetika yang mahal. Dengan berada di rumah, pekerja dapat menikmati waktu yang lebih banyak bersama keluarga.

Bagi perusahaan atau institusi, beban operasional dapat ditekan karena berkurangnya aktivitas di kantor. Bahkan, jika dilakukan secara permanen, biaya terkait properti kantor akan berkurang secara signifikan secara keuangan dan akuntansi. Tidak ada lagi sewa ruangan, depresiasi aset kantor, biaya listrik, air, keamanan, dan semua biaya yang terkait dengan pemeliharaan kantor.

Contoh yang paling nyata dari manfaat WFH dalam menekan biaya operasional adalah pada penyelenggaraan seminar. Sebelum Covid-19, pelaksanaan seminar, focus group discussion, lokakarya, konferensi, dan kegiatan pertemuan sejenisnya membutuhkan biaya yang besar meliputi sewa ruangan, sewa peralatan, konsumsi, percetakan, dan transportasi. Biaya tersebut berbanding lurus dengan jumlah peserta. Semakin besar peserta semakin besar biaya yang dikeluarkan.

Kini, kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan secara virtual dengan menggunakan aplikasi dalam jaringan yang disebut webinar. Biayanya? Nyaris nol rupiah untuk setiap pertambahan jumlah peserta. Jadi biaya untuk 1000 orang dengan 5000 orang relatif sama. Biaya utama hanya pada pos berlangganan aplikasi rapat dalam jaringan.

Biaya lainnya? Pembicara dan peserta menanggung sendiri biaya sewa ruangan, konsumsi, dan transportasi: dari rumah masing-masing! Biaya percetakan materi kegiatan dan sertifikat? Nol rupiah karena yang diberikan adalah versi digital. Bisa dihitung berapa besar penghematan yang dapat dilakukan oleh semua perusahaan atau institusi jika praktik ini dilaksanakan di Indonesia dan bahkan seluruh dunia.

Bagaimana dengan manfaat yang diterima dunia dengan menurunnya emisi karbon? Di sisi lain, bagaimana dengan nasib hotel yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pertemuan fisik? Perlu pembahasan tersendiri.

Mudarat

Namun jangan salah, mudarat atau biaya dari WFH juga besar dan penanggung utamanya adalah para karyawan, bukan perusahaan atau institusi. Mengapa? Karena mudarat WFH ini berkaitan dengan psikologis manusia. Bekerja dari rumah menyebabkan pekerja kehilangan batasan fisik antara hidup sebagai makhluk ekonomi dengan hidup sebagai makhluk sosial.

Sebut saja Mawar. Pada situasi kerja konvensional, Mawar dapat dengan mudah menyesuaikan diri antara peran sebagai pekerja dengan peran sebagai ibu. Ketika berada di kantor, Mawar berperan sepenuhnya sebagai seorang manajer keuangan. Dan ketika berada di rumah, Mawar sepenuhnya akan berfungsi sebagai ibu bagi tiga anaknya. Namun, kini Mawar tidak bisa membedakan lagi pembagian peran tersebut karena rumah menjadi pusat kegiatan kantor sekaligus keluarga.

Lebih parah lagi, kantor Mawar mengadopsi WFH dengan pola tanpa jam kerja teratur. Tidak mengenal jam kerja dan hari kerja normal. Akibatnya, Mawar mengalami stres dan kesulitan dalam mengelola aktivitas kehidupan pribadi dan kantor. Itulah mengapa, para karyawan dalam berbagai survei mengenai persepsi terhadap bekerja dari rumah, tidak sepenuhnya menginginkan WFH.

Benar, secara umum temuan survei-survei tersebut bahwa karyawan menginginkan metode bekerja dari rumah tetap dipertahankan. Namun apakah sepenuhnya WFH? Ternyata tidak. Sebagian besar memilih fleksibilitas antara bekerja dari rumah dan bekerja dari kantor. Maka kini populer usulan 3 to 2 sebagai ganti 9 to 5. Yaitu 3 hari di kantor dan 2 hari di rumah atau sebaliknya. Sebagai ganti dari setiap hari di kantor dari jam 9 sampai jam 5.

Alasan yang mengemuka selain kesulitan membedakan peran seperti yang dialami Mawar, adalah kesulitan berkomunikasi sosial dengan para rekan kerja. Para karyawan merindukan suasana obrolan santai di sela waktu istirahat. Makan siang dan minum kopi bersama dengan rekan kantor. Dan pertemuan fisik dapat membuat komunikasi lebih lancar karena dapat membaca bahasa tubuh lawan bicara.

Jika dibandingkan antara manfaat dan biaya (mudarat) dari penerapan WFH ini, akan terlihat jelas perbedaan keduanya. Manfaat yang didapat berupa efisiensi keuangan yang sangat penting bagi kesinambungan perusahaan atau institusi. Sementara di sisi biaya berupa kondisi psikologis pekerja yang tidak mudah dikonversi dalam rupiah.

Dalam jangka panjang, masalah psikologis pekerja ini dapat diatasi dengan pembiasaan cara kerja, fasilitas kerja yang lebih baik, dan insentif ekonomi dari perusahaan atau institusi yang berhasil menghemat beban operasional dari penerapan WFH ini. Perusahaan dapat membantu Mawar mengelola stres dengan pola kerja yang lebih sehat.

Jika kondisi ini benar, maka penerapan WFH secara permanen kemungkinan besar akan menjadi pilihan yang sangat rasional baik bagi pekerja maupun perusahaan atau institusi. Berarti kita akan mengucapkan selamat tinggal pada kantor? Ya, benar sekali. Tetapi tidak pada seluruh kantor.

Tiga Skenario

Terdapat sekurang-kurangnya tiga skenario yang terjadi pada kantor sebagai akibat penerapan pola WFH. Pertama, berakhirnya fungsi kantor secara fisik. Kematian kantor terjadi pada jenis pekerjaan yang secara alamiah memang tidak membutuhkan kantor secara fisik seperti perumusan program, penyusunan kebijakan, penelitian, dan pelatihan. Bisa disimpulkan, 100% pekerjaan tersebut dapat ditransformasikan dari kehadiran fisik menjadi kehadiran virtual.

Penyelesaian tugas dan kolaborasi para karyawan dapat dilaksanakan secara virtual dengan efektif. Bahkan produktivitas dapat lebih meningkat karena berkurangnya gangguan-gangguan dalam bekerja seperti perpindahan lokasi saat rapat, kehadiran yang tidak tepat waktu, dan kesulitan berkoordinasi antar pekerja.

Kedua, kantor fisik tidak mati namun akan berkurang perannya secara signifikan. Situasi ini terjadi pada jenis pekerjaan yang memberikan pelayanan kepada pengguna atau konsumen dengan tingkat penguasaan teknologi yang berbeda. Misalnya pada pelayanan publik dan pelayanan perbankan. Tidak semua konsumen pada jenis pekerjaan ini dapat menggunakan fasilitas teknologi secara virtual sehingga mereka harus dibantu secara fisik di alamat kantor fisik.

Misalnya Amir tidak memiliki telepon pintar untuk melakukan transfer uang ke rekening lain sehingga harus dilayani oleh petugas di kantor cabang Bank A. Tetapi, pekerjaan lainnya di Bank A tersebut sudah bisa dilakukan dari rumah sehingga kantor tidak lagi menjadi pusat dari semua aktivitas pekerjaan.

Ketiga, kantor fisik tetap berfungsi dan berjalan seperti sebelum kondisi Covid-19. Tidak ada perubahan yang besar dan signifikan terjadi. Situasi ini terjadi pada perusahaan atau institusi yang mengadopsi model tradisional dalam bekerja sehingga para pekerja harus hadir di lokasi kantornya secara fisik. Misalnya pada industri manufaktur seperti pabrik, industri hospitality seperti hotel, industri kesehatan seperti rumah sakit, industri transportasi seperti bandar udara, dan industri layanan publik seperti lembaga politik, lembaga permasyarakatan, pertahanan dan keamanan.

Walaupun tidak 100% aktivitas pada skenario ketiga ini dikerjakan dari kantor, misalnya pada fungsi perencanaan, namun secara alamiah, pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan kehadiran kantor secara fisik.

Namun tentu saja, keputusan untuk mengadopsi model bekerja dari rumah tergantung pada masing-masing perusahaan atau institusi. Yang perlu dicatat, di era persaingan global yang semakin sengit, daya saing akan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan atau institusi. Semakin efisien biaya produksi maka semakin bersaing sebuah produk barang atau jasa.

Dengan kondisi Indonesia yang menghadapi masalah daya saing di kawasan ASEAN dan global, peningkatan efisiensi merupakan kunci untuk memenangkan persaingan. Dengan Covid-19, kita dipaksa untuk mengadopsi teknologi dengan cepat dan masif yang kemudian meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam berbagai jenis pekerjaan. Apakah kita bertindak rasional dengan meneruskan praktik ini setelah Covid-19 berakhir seperti pilihan yang diambil oleh Twitter? Terserah Anda dan kita semua.

Irwanda Wisnu Wardhana doktor Kebijakan Publik dan Ekonomi Politik dari University of Texas, peneliti Badan Kebijakan Fiskal

(mmu/mmu)