Kolom

Lebaran di Rumah Saja

Benni Setiawan - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 13:59 WIB
Ketupat
Foto ilustrasi: thinkstock
Jakarta -

Hari kemenangan telah tiba. Kemenangan mengalahkan hawa nafsu, ego, dan segala keinginan yang tak perlu (batil, sia-sia). Kemenangan menuju dan kembali kepada kesucian. Itulah esensi Idul Fitri. Puncak kemanusiaan manusia menemukan kesejatian diri. Kesejatian diri untuk terus berbuat kebajikan sebagaimana dilakukan saat Ramadhan.

Ramadan telah melatih umat Islam untuk mengekang segala nafsu. Nafsu duniawi yang mungkin menyesatkan dan menyeret manusia menuju keburukan. Nafsu duniawi itu perlu dikendalikan, salah satunya dengan laku puasa.

Puasa Ramadhan tahun ini telah mengajarkan kepada kita arti ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan. Ramadhan tahun ini ditandai dengan seruan agar umat Islam melaksanakan segala aktivitas ibadah di rumah. Ibadah di rumah bukan berarti meninggalkan masjid. Hal ini dikarenakan semua bumi Allah adalah masjid (tempat sujud). Sebagaimana Hadis Nabi Muhammad: Semua tempat di bumi ini adalah masjid, selain kuburan dan WC. (Hadis Jami' at-Tirmidzi No. 291)

Jihad Akbar

Seruan ibadah di rumah ini pun berlanjut dengan imbauan untuk Salat Id di rumah. Sebagaimana Edaran Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tentang Tuntunan Salat Idul Fitri dalam Kondisi Darurat Pandemi Covid-19. PP Muhammadiyah mengimbau seluruh warga persyarikatan dan umat Indonesia untuk Salat Id di rumah. Ini semua sebagai ikhtiar mencegah penyebaran Covid-19.

Salat Id di rumah pun menjadi bagian ijtihad di tengah persoalan umat. Ijtihad ini penting untuk diambil dan dilaksanakan di tengah situasi darurat. Memilih Salat Id di rumah pun menjadi cerminan pribadi muslim yang maju. Artinya, inilah potret pribadi muslim yang mempunyai cara pandang kemaslahatan sebagai esensi agama.

Esensi agama adalah menghidupkan kemanusiaan manusia. Seseorang pun selayaknya menjaga kehidupan ini dengan cara baik dan bijak. Baik dan bijak dalam bertindak, bukan atas dorongan nafsu atau mempertontonkan peribadatan.

Lebih lanjut, di tengah situasi seperti ini berlaku kaidah "semua orang sakit sampai terbukti sehat". Oleh karena itu, seseorang yang belum melakukan tes kesehatan (rapid test/swab test) berarti disarankan untuk tetap tinggal dan beribadah di rumah.

Beribadah di rumah tidak akan pernah menghalangi seseorang untuk mendapatkan pahala yang lebih besar. Beribadah di rumah merupakan jihad di era pandemi. Mereka sedang berjihad menyelamatkan nyawa orang lain dari Covid-19. Inilah jihad akbar (jihad besar).

Silaturahmi

Seruan Salat Id di rumah pun menjadi bukti cinta dan buah dari puasa Ramadhan. Ramadhan mengajarkan cinta dan welas asih kepada sesama. Perwujudan welas asih itu kini mewujud dalam aktivitas sosial di dalam rumah. Di rumah bukan berarti mengurung diri dan enggan bersilaturahmi.

Silaturahmi menjadi agung dalam agama. Pasalnya dalam silaturahmi ada kasih sayang (rahim) yang mewujud dalam kata dan laku. Inilah mengapa silaturahmi mendorong terwujudkan soliditas dan solidaritas sosial yang erat,

Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada ibadah yang paling cepat mendatangkan pahala daripada silaturahmi, dan tidak ada durhaka yang paling cepat mendatangkan siksa daripada berbuat zalim kepada sesama dan bersumpah palsu atau melakukan kebohongan politik.

Dalam sebuah Hadis Qudsi dijelaskan: Kuberi nama kamu dari (dengan) nama-Ku. Siapa yang menyambungmu, Aku menyambungnya, dan siapa yang memutusmu, Aku memutuskan pada (hubungan) dengannya.

Dua dalil di atas menunjukkan kemuliaan silaturahmi. Silaturahmi selayaknya menjadi kegiatan harian manusia. Dengan itu kita akan mulia. Silaturahmi pun mengeratkan hubungan yang renggang, dan menguatkan yang telah terjalin. Maka tidak aneh jika pahala silaturahmi melebihi ganjaran salat dan puasa (HR Bukhari Muslim).

Namun, kini di tengah pandemi Covid-19, silaturahmi dapat ditempuh dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Silaturahmi dengan teknologi tidak akan mengurangi makna persahabatan, pertemanan, dan persaudaraan. Kita tetap dapat saling bermaaf-maafan dengan menggunakan teknologi. Internet dapat menjadi penghubung masyarakat dalam menjalin silaturahmi.

Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah dan mudik yang menjadi ciri Idul Fitri untuk tahun ini tetap semarak dengan cara yang berbeda. Cara yang berbeda ini sekali lagi tidak akan pernah menggerus makna silaturahmi sebagai kekuatan pengikat dan penumbuh jiwa.

Menerima

Tradisi tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pembatasan sosial menjadi tradisi baru yang perlu kita terima dengan bergembira. Kegembiraan inilah yang akan menyelamatkan kita dari kesendirian. Kegembiraan juga dapat meningkatkan imun tubuh. Tubuh akan sehat dan kuat dengan hati dan perasaan yang gembira.

Pada akhirnya, mari merayakan Idul Fitri dengan "kesendirian" dan cara yang terhormat lagi mulia. Yaitu dengan melaksanakan seluruh rangkaian Idul Fitri di rumah bersama keluarga inti. Mari menerima ini sebagai sebuah kesempatan berharga, sebagaimana catatan Sindhunata:

Pembatasan sosial mungkin menyudutkan kita pada suasana sepi dan sendiri. Terimalah ini sebagai kesempatan yang sangat berharga, kesempatan yang memanggil kita untuk "hanya berdua bersama-Nya". Saat di mana kita boleh merasakan bahwa Tuhan sungguh jatuh cinta kepada kita.

Benni Setiawan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, anggota Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, peneliti Maarif Institute

(mmu/mmu)