Kolom

Transformasi Global Pasca-Corona

Rafli Zulfikar - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 13:40 WIB
Seperti diketahui, Italia menjadi salah satu negara di luar China yang memiliki kasus virus corona cukup tinggi. Kasus virus Corona di Italia diketahui telah melampaui 20 ribu kasus. Seluruh anggota tim dan awak pesawat pun telah diperiksa secara medis sebelum berangkat ke Italia.
China kirim tim medis ke Italia (Foto: Antonio Calanni/AP Photo)
Jakarta -

Pandemi Covid-19 telah membuat dunia lesu. Yang paling terpukul adalah ekonomi global. Covid-19 telah memaksa dunia untuk berhenti sejenak. Konsekuensinya, hampir seluruh prediksi pertumbuhan ekonomi terkoreksi tajam, terutama negara G20

Indonesia merupakan salah satu yang paling terpukul. Begitu juga dengan China dan India yang selalu mencatatkan pertumbuhan di atas pertumbuhan ekonomi global, bahkan digadang-gadang sebagai negara maju pada 2045

Covid-19 telah mengubah semuanya. Belum berakhir memang, tapi ibarat manusia kondisinya sedang koma. Situasi yang cenderung memberi pilihan zero sum game antara ekonomi atau keselamatan manusia. Memang dalam situasi yang demikian, kemanusiaan yang utama, tapi ancaman krisis ekonomi juga permasalahan yang juga menyakitkan.

Itulah mengapa, sejak awal dunia gamang dalam mengantisipasi Covid-19. Selain itu pandemi dianggap bukanlah ancaman serius yang dapat mengubah tatanan dunia, sehingga hampir seluruh negara di dunia tidak memiliki early warning system yang memadai dalam menghadapi Covid-19

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyebabkan banyaknya korban di hampir seluruh dunia, tetapi juga menyebabkan transformasi global yang sangat fundamental. Setidaknya ada tiga transformasi yang mengubah wajah dunia ke depan, yaitu transformasi ekonomi dan perdagangan, serta hubungan internasional

Ekonomi dan Perdagangan

Pra Covid-19, perdagangan global terus berkembang maju ke dalam global value chain (GVC). Produksi global tidak lagi didominasi oleh satu negara, tetapi sudah menyebar ke dalam jejaring produksi global. Tetapi, pandemi Covid-19 menjadi "angsa hitam" yang menunjukkan lubang hitam perdagangan global.

Nasim Taleb dalam bukunya yang berjudul The Black Swan menyebutkan angsa hitam sebagai suatu peristiwa yang muncul secara mengejutkan dan berdampak besar. Maka kemunculan Covid-19 menunjukkan bahwa GVC belum menjadi arus utama perdagangan global dan perdagangan global yang rapuh.

Perdagangan global pra Covid-19 masih sangat tersentral dan didominasi oleh China dengan persentase 20% produksi manufaktur global sehingga ketika Covid-19 muncul pertama kali di China, perdagangan global mengalami kontraksi yang serius dan magnitude-nya menyebar seluruh dunia.

UNCTAD dalam Global Trade Impact of the Coronavirus (Covid-19) Epidemic menunjukkan dua indikator penting perdagangan China yaitu pengapalan dan indeks manufaktur yang mengalami penurunan 22 poin atau setara dengan 2% pada Februari.

Kuatnya dominasi China dalam produksi dan perdagangan global memiliki dampak yang negatif. Ketika terjadi sentralisasi, produksi dan perdagangan akan tergantung pada negara yang dominan.

Hubungan Internasional

Arena hubungan internasional juga akan mengalami transformasi secara fundamental. Melemahnya peranan global health governance seperti WHO tidak dipatuhi oleh negara karena seperti dalam diktum realisme, states act in their rational self-interest within the international system. Misalnya sikap Taiwan untuk tidak mematuhi protokol WHO.

Ketidakmampuan Uni Eropa (UE) dalam membantu negara-negara anggotanya menjadi "lubang hitam" supranasionalisme. Negara-negara UE cenderung bersikap intergovermentalism yang mendahulukan kepentingan nasional. Transformasi hubungan internasional juga akan disebabkan lemahnya kerja sama global. Negara cenderung melakukan kerja sama secara bilateral.

Bantuan internasional dalam politik internasional selalu memiliki motif. Alan Rix (1993) dalam Japan's Foreign Aid Challenge: Policy Reform and Aid Leadership menjelaskan bahwa bantuan internasional tidak terlepas dari motif baik pendonor maupun penerima donor.

Pada kasus Covid-19, bantuan luar negeri dalam penanganan Covid-19 selain motif kemanusiaan juga terdapat dimensi motif diplomatik. Bantuan China untuk Italia tidak hanya berdimensi motif kemanusiaan, tetapi motif diplomatik dan ekonomi politik juga menyertainya.

Italia merupakan negara UE yang bergabung dengan proyek One Belt One Road. Selain itu, Italia juga merupakan tujuan investasi China di mana Huawei sudah mengumumkan rencana investasi 3,1 miliar dolar AS dengan durasi tiga tahun dan akan menciptakan 1.000 lapangan pekerjaan.

Selain kepada Italia, China juga memberikan batuan ke Amerika Latin terutama Venezuela. Amerika Latin secara geografis sangat jauh, dan secara geopolitik merupakan "halaman belakang" dari AS. The Economist dalam laporan yang berjudul The Dragon in the Backyard (13/8/2009) mengatakan bahwa Amerika Latin merupakan backyard dari geopolitik AS sehingga ketika China memperluas pengaruhnya (melalui bantuan luar negeri), maka sama dengan merebut pengaruh Amerika Latin dari AS.

Selain itu bantuan luar negeri China berupa masker merupakan bagian dari motif diplomatis. James Massola (2020) dalam China's Face-mask Diplomacy Could Reshape Power in South-east Asia (2020) mengatakan bahwa bantuan masker ke hampir seluruh negara Asia Tenggara berimplikasi pada peningkatan pengaruh di China di kawasan tersebut.

Tidak hanya China, keputusan bantuan Korea Selatan untuk menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara prioritas yaitu AS dan Uni Emirat Arab juga merupakan bagian dari strategi kebijakan baru ke arah selatan (New Southern Policy).

Harusnya, pasca Covid-19 transformasi global mengarah pada perubahan perdagangan global tidak lagi tergantung pada negara besar. Diperlukan pendalaman GVC secara merata sehingga perdagangan global tidak robustness.

Begitu juga pada transformasi regionalisme yang terus mengalami krisis tidak hanya ekonomi, tetapi juga defisit legitimasi dari negara. Selain itu bantuan luar negeri penanggulangan Covid-19 yang merupakan bentuk dari soft diplomacy juga akan memicu perubahan peta aliansi kekuatan global.

Rafli Zulfikar sarjana Hubungan Internasional Universitas Jember, peneliti Center for International Studies and Trade

(mmu/mmu)