Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump meminta bantuan kepada sekutunya untuk membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang diblokade Iran. Trump bahkan mengumbar ancaman bagi mereka yang enggan membantu.
Sebagai informasi, Iran resmi menutup Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dengan ditutupnya Selat Hormuz, mengganggu jalur vital perdagangan energi global.
Trump Minta Bantuan Inggris-China
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengklaim telah melemahkan Iran dan menyebut perang segera berakhir. Kini, Trump meminta Inggris dan negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz yang ditutup Iran.
Dilansir BBC, Minggu (15/3/2026), Trump mendesak Inggris dan negara-negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu mengamankan jalur pelayaran utama dari Timur Tengah. Trump mengatakan dia berharap China, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan juga mengirimkan kapal ke selat tersebut, di mana sejumlah kapal tanker dilaporkan telah diserang sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran dua minggu lalu.
Menanggapi komentar Trump, Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan sedang membahas 'berbagai opsi untuk memastikan keamanan pelayaran di kawasan tersebut' dengan sekutu mereka. Iran sendiri bersumpah akan terus memblokir selat yang merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Penutupan efektifnya, serta serangan terhadap infrastruktur pelayaran dan energi sejak perang dimulai, telah menyebabkan kenaikan harga minyak global yang sangat besar.
Trump menulis di platform Truth Social miliknya pada Sabtu (14/3) bahwa 'banyak negara' akan mengirimkan kapal perang bersama dengan AS untuk membantu menjaga selat tersebut 'tetap terbuka dan aman'.
Dia mengklaim '100% kemampuan militer Iran' telah dihancurkan, tetapi Teheran masih dapat 'mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau mengirimkan rudal jarak dekat di suatu tempat di sepanjang, atau di, jalur air ini'.
"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terpengaruh oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah benar-benar dilumpuhkan," ujar Trump.
"Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir garis pantai habis-habisan, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz!" sambung Trump.
Trump mengulangi seruannya dalam sebuah unggahan dengan memperluasnya ke semua 'negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz' dan mengatakan AS akan memberikan 'banyak' dukungan kepada mereka yang berpartisipasi.
Trump Ancam NATO
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengingatkan bahwa NATO menghadapi masa depan yang "sangat buruk", jika sekutu-sekutu AS tak membantu membuka Selat Hormuz, jalur transportasi minyak penting yang ditutup oleh Iran dalam perang Timur Tengah.
Dalam wawancara singkat dengan media The Financial Times (FT), Trump mengatakan bahwa karena Amerika Serikat telah membantu Ukraina dalam perang dengan Rusia, dan dia mengharapkan Eropa untuk membantu di Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak melonjak di seluruh dunia.
"Jika tidak ada tanggapan atau jika itu adalah tanggapan negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," kata Trump, dilansir kantor berita AFP, Senin (16/3/2026). Selama bertahun-tahun Trump telah mengkritik aliansi tersebut karena memanfaatkan kemurahan hati AS.
Ketika ditanya tentang bantuan spesifik yang dia cari, Trump mengatakan kepada FT bahwa dia menginginkan kapal penyapu ranjau serta "orang-orang yang akan menyingkirkan beberapa aktor jahat yang berada di sepanjang pantai (Iran)."
Trump juga mengatakan bahwa pertemuan puncak mendatang di Beijing dengan Presiden China Xi Jinping, dapat ditunda seiring ia mendesak bantua China untuk membuka Selat Hormuz.
"Kami ingin tahu sebelum itu (pertemuan puncak-red)," kata Trump, menekankan bahwa China serta banyak negara Eropa lebih bergantung daripada Amerika Serikat pada minyak yang mengalir dari kawasan Teluk.
"Sudah sepatutnya orang-orang yang mendapat manfaat dari Selat Hormuz membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," kata Trump.
Secara terpisah, Trump mengatakan kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, bahwa Amerika Serikat sedang berbicara dengan sekitar tujuh negara untuk mendapatkan bantuan dalam membuka kembali Selat Hormuz.
Ketidakpastian tentang berapa lama perang melawan Iran akan berlangsung telah mengguncang pasar minyak, di mana harga minyak mentah telah melonjak selama dua minggu terakhir karena risiko pasokan.
Jepang-Australia Tolak Permintaan Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta negara-negara sekutu AS untuk mengirimkan kapal perang demi mengamankan Selat Hormuz yang diblokir Iran, imbas perang AS-Israel melawan Iran.
Pemerintah Jepang dan Australia menolak dan menegaskan tidak ada rencana untuk mengirimkan kapal perang ke kawasan Timur Tengah.
Trump, seperti dilansir Reuters, Senin (16/3/2026), menyerukan sekutu-sekutu AS untuk membentuk koalisi guna membuka kembali jalur perairan yang vital tersebut.
Dengan perang menciptakan kekacauan di seluruh Timur Tengah dan mengguncang pasar energi global, Trump menegaskan pada Minggu (15/3) bahwa negara-negara yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk memiliki tanggung jawab untuk melindungi Selat Hormuz, yang dilalui 20 persen pasokan energi global.
"Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka karena itu adalah wilayah mereka. Itu merupakan tempat di mana mereka mendapatkan energi mereka," kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One dalam penerbangan dari Florida ke Washington DC.
Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghubungi tujuh negara, tetapi dia tidak menyebutkan nama negara-negara tersebut.
Dalam postingan media sosialnya pada akhir pekan lalu, Presiden AS itu berharap agar China, Prancis, Jepang, Korea Selatan (Korsel), Inggris, dan negara-negara lainnya akan berpartisipasi.
Pasar di Asia dibuka dengan hati-hati pada Senin (16/3), dengan minyak mentah Brent naik lebih dari 100 persen di atas US$ 104,50 dan pasar saham regional sebagian besar melemah setelah komentar Trump soal melibatkan negara-negara sekutu AS dalam membantu menjaga keamanan Selat Hormuz.
Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada Senin (16/3) bahwa negaranya, yang terikat oleh konstitusi yang menolak perang, tidak memiliki rencana untuk mengirimkan kapal-kapal angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal di Timur Tengah.
"Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal-kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara independen dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum," kata Takaichi kepada parlemen Jepang.
Australia, yang merupakan salah satu sekutu utama Indo-Pasifik bagi AS, mengatakan pihaknya belum diminta, namun juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mengirimkan kapal-kapal angkatan laut untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
"Kami tahu betapa pentingnya hal tersebut, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta kepada kami atau yang kami bantu," tegas Catherine King, anggota kabinet PM Australia Anthony Albanese, dalam wawancara dengan televisi terkemuka ABC.
Trump Desak Sekutu Amankan Jalur
Seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada sejumlah negara untuk membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak mendapat tanggapan. Selat tersebut kini diblokir Iran sejak perang dengan AS-Israel dimulai.
Pada Minggu (15/03), presiden AS itu mengancam akan ada konsekuensi jika dukungan tersebut tidak terwujud.
Dalam wawancara singkat dengan Financial Times, Trump mengatakan aliansi militer NATO bisa menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika sekutu AS tidak membantu Washington membuka kembali jalur strategis tersebut.
Trump juga mengancam akan menunda pertemuannya dengan Presiden Cina Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini, sebagai upaya menekan Beijing agar membantu mengamankan lalu lintas di Hormuz.
"Sudah sepatutnya negara-negara yang mendapat manfaat dari Selat itu membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana," kata Trump kepada surat kabar tersebut.
Selat Hormuz terletak di antara Teluk Persia dan Laut Arab, dan menjadi jalur vital bagi pasokan minyak dunia. Blokade terhadap jalur tersebut telah mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga bahan bakar melonjak.
Trump Minta Jerman Turun Tangan
Pemerintah Jerman merespons seruan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait permintaan agar sekutu AS membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang diblokade Iran. Pihak Jerman menyebut tidak ada kaitan dengan perang yang melibatkan AS dan Iran.
"Perang ini tidak ada hubungannya dengan NATO. Ini bukan perang NATO," kata juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merch dilansir CNN, Senin (16/3/2026).
Komentar ini muncul setelah Trump memberikan ancaman terselubung terhadap aliansi NATO. Trump menyebut negara-negara NATO akan menghadapi masa depan yang sulit jika tidak ikut bergabung melawan Iran di Selat Hormuz.
Pemerintah Jerman menegaskan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam aktivitas apa pun di Selat Hormuz.
"Partisipasi belum dipertimbangkan sebelum perang ini dan tidak dipertimbangkan sekarang," tambah juru bicara pemerintah.
Pagi ini, setibanya di Brussels, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul juga mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak melihat peran bagi anggota NATO di Selat Hormuz.
Merz telah memperkeras posisinya dalam beberapa hari terakhir karena perang dengan Iran terus menunjukkan tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Pekan lalu ia mengkritik AS karena melonggarkan sanksi terhadap Rusia dan secara terbuka mengatakan bahwa ia tidak memahami rencana AS untuk mengakhiri perang.
Kanselir Jerman akan bertemu dengan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten di Berlin hari ini. Kedua pemimpin kemungkinan akan menjawab pertanyaan tentang tanggapan mereka terhadap Trump dan tuntutannya.











































