Kolom

Mengaktifkan Vaksin Sosial Kita

Franciscus Apriwan - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 15:30 WIB
ilustrasi corona
Ilustrasi: Instagram/@alirezapakdel_artist
Jakarta -
Virus corona telah menyebar di hampir seluruh dunia. Saat ini kita sedang berpacu dengan waktu untuk dapat memperkecil dampak yang ditimbulkan. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah dengan membangun resiliensi melalui vaksin sosial.

Resiliensi dapat dimengerti sebagai ketahanan suatu sistem saat mengalami guncangan. Pengertian ini mengandung asumsi bahwa suatu sistem perlu bergerak secara dinamis untuk merespons gangguan dan ancaman. Gerak dinamis suatu sistem akan menentukan kemampuan adaptasi suatu komunitas. Dalam ilmu sosial terutama antropologi, konsep resiliensi banyak digunakan untuk menjelaskan kemampuan komunitas dalam memitigasi bencana dan bangkit melampaui situasi-situasi sulit.

Kepala BNPB Doni Monardo menyebut penyebaran wabah Covid-19 ini sebagai bencana non-alam. Berbeda dengan bencana alam yang dampaknya segera dapat dicermati indera manusia, wabah Covid-19 tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Selain para pasien yang positif, ilmuwan, dan tenaga medis yang menggunakan alat bantu, bencana virus ini nyaris tidak bisa dirasakan oleh indera manusia.

Ketidakmampuan kita untuk melihat dan merasakan virus ini membuat kita ragu untuk segera bertindak dan cenderung menganggap remeh. Bahkan ada beberapa kelompok masyarakat yang merasa tidak terjadi apa-apa sehingga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Padahal sampai dengan hari ini, WHO belum menyatakan ada obat dan vaksin yang terbukti mujarab untuk virus ini.

Dalam situasi yang tidak menentu, warga secara mandiri mencari informasi dari orang-orang sekitarnya. Warga berdaya untuk mengumpulkan informasi dari tetangga, teman, keluarga, internet dan grup-grup percakapan WhatsApp. Pada kesempatan itulah warga menjadi rawan terjerumus berita yang tidak akurat dan hoax. Tentu ini sangat merugikan dan menimbulkan kepanikan.

Warga yang panik kemudian segera membeli masker, antiseptik, dan barang kebutuhan sehari-hari untuk berjaga-jaga pada situasi terburuk. Belakangan dampak dari kepanikan itu juga membuat beberapa orang membasmi kelelawar yang dianggap dapat membawa virus corona di wilayahnya.

Kurangnya informasi membuat kita sulit menetapkan status yang terjadi di sekitar kita. Beberapa kelompok masyarakat merasa tidak perlu bereaksi dan mengubah kebiasaan sehari-hari. Sementara kelompok lainnya justru bereaksi secara berlebihan dengan memborong berbagai bahan kebutuhan. Dua jenis reaksi itu membuat sistem kita menjadi semakin rentan.

Dalam situasi yang rentan, informasi bohong dan tidak akurat mendorong resistensi masyarakat pada langkah-langkah penanganan wabah. James Fairhead pada 2016 merilis publikasi yang menjelaskan resistensi masyarakat Republik Guinea pada upaya penanganan ebola. Salah satu penyebab resistensi itu karena penanganan ebola tidak sesuai dengan praktik tradisi masyarakat setempat. Silang sengkarut informasi yang tidak akurat semakin menjauhkan warga untuk berpartisipasi dalam penanganan wabah.

Akhir-akhir ini harapan mulai muncul. Pemerintah daerah yang memiliki sense of crisis segera membuat langkah antisipasi. Beberapa pemerintah daerah secara hampir serentak membuat kanal-kanal informasi untuk publik. Ini langkah yang sangat baik karena warga di masing-masing daerah dapat memperkirakan dan mengukur eskalasi dampak yang disebabkan oleh persebaran virus ini.

Melalui kanal-kanal informasi itu kita berharap agar semua pihak bisa mendapatkan ritme yang hampir sama dalam menghadapi virus corona ini. Jangan sampai tenaga medis sudah sekuat tenaga tapi pihak-pihak yang lain masih menunda untuk bertindak. Dalam kondisi yang genting, insting manusia untuk bertahan hidup bisa muncul. Momen genting itu perlu kita dorong menjadi laku produktif untuk membendung persebaran virus ini dan mengalahkannya.

Vaksin Sosial

Keterbukaan informasi memungkinkan kita untuk mengakumulasi informasi dalam membangun pengetahuan terhadap virus corona. Informasi-informasi itu juga membantu warga dalam memahami betapa mudahnya virus ini menular dari satu orang ke orang lain terutama dalam kerumunan.

Pemahaman yang baik dapat mendorong partisipasi warga untuk bersama-sama meminimalisasi jatuhnya korban jiwa. Partisipasi itu dapat berupa kesadaran untuk mengubah pola dan kebiasaan sehari-hari. Sekarang kita harus hidup lebih higienis, menjaga jarak sosial, dan secara disiplin mengikuti prosedur kesehatan yang diarahkan oleh para ilmuwan dan pemerintah.

Proses perubahan ini berat, namun dengan informasi yang terbuka dan memadai, kita akan lebih mudah memunculkan kesadaran bersama untuk menangani virus. Barangkali saat ini kita bisa mulai membuat komunitas kecil yang terdiri dari dua keluarga yang sama-sama sepakat dan disiplin menjalankan pembatasan sosial dengan orang lain. Komunitas kecil ini bisa saling membantu dalam masa-masa krisis dengan tetap aman. Partisipasi warga ini dapat menjadi vaksin sosial untuk menanggulangi pandemik.

Virus corona menyebar ke seluruh dunia dan menjadi pandemik dalam waktu kurang dari empat bulan. Saat ini kita sedang melawan virus yang menular sangat cepat. Sementara itu, kita juga berhadapan dengan keterbatasan tenaga medis dan kapasitas rumah sakit. Pada saat tenaga medis dan ilmuwan bekerja dengan keras, kita bisa menggunakan vaksin sosial untuk memperkecil kemungkinan menularkan dan tertular virus.

Vaksin sosial bisa memberi kesempatan para tenaga medis dan ilmuwan di masa-masa krusial penanganan virus. Sambil menanti vaksin virus ditemukan, kita bisa mengaktifkan vaksin sosial ini.

Selain mendorong partisipasi warga, informasi penanganan virus corona di tingkat lokal dan daerah dapat menjadi data yang berharga bagi penanganan virus ini di tingkat dunia. Banyak lembaga kesehatan dunia memanfaatkan data yang kita unggah untuk menghitung dampak dan peluang yang kita miliki. WHO setiap hari mengumpulkan data dari berbagai tempat untuk melaporkan kondisi terkini disertai protokol-protokol yang diperlukan. Informasi itu dapat digunakan oleh para pemimpin dunia untuk memimpin penanganan wabah ini secara bertanggung jawab.

Informasi mengenai wabah ini juga menjadi amat berguna bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi kasus-kasus yang terjadi. Kita perlu terus mengolah informasi secara terbuka dan memulai langkah kooperatif antarnegara untuk bersama-sama menanggulangi krisis.

Hari ini sistem kita sedang diuji. Virus corona berhasil menunjukkan pada kita bahwa sistem yang kita miliki masih rentan terhadap bencana wabah. Prosedur birokrasi yang rumit membuat distribusi informasi tersendat dari satu meja ke meja lain. Mitigasi bencana kita tidak taktis terutama pada awal masa krisis. Selain itu, sistem mitigasi ini masih eksklusif dan sektoral. Kita sedang butuh bantuan lebih banyak pihak untuk menanggulangi virus corona. Oleh karena itu dalam masa krisis ini kita perlu membuka diri untuk mencoba langkah-langkah kooperatif antarlembaga, pemerintah daerah, dan negara-negara internasional lainnya.

Dalam rangka membuat vaksin sosial ini, kita perlu berkolaborasi dan menggalang solidaritas dunia. Penanganan di tingkat lokal dapat melibatkan para ahli berpengalaman dari berbagai negara. Begitu pula kita juga dapat berkontribusi untuk mengantisipasi persebaran virus ini di tingkat global. Resiliensi itu perlu kita bangun dari kerja sama antarnegara dan bahkan bersama-sama dengan warga dunia lainnya. Vaksin sosial ini dapat meningkatkan resiliensi kita terhadap virus corona.

Pada situasi seperti ini kita patut belajar untuk dapat membangun resiliensi sosial terhadap bencana wabah yang tak kasat mata semacam ini. Virus ini telah memaksa kita untuk membuat jarak sosial, namun di saat yang sama kita bisa mulai membangun pembayangan sebagai komunitas besar warga dunia yang penuh solidaritas.

(mmu/mmu)